DARI MENJAGA KEAMANAN HINGGA MENGAWAL LUMBUNG PANGAN: WAJAH BARU BHABINKAMTIBMAS DI LAHAN JAGUNG SUKODONO

Lumajang, Suara Semeru — Seragam cokelat yang biasanya lekat dengan citra penegakan hukum dan penjagaan ketertiban masyarakat, Jumat (16/10/2026) pagi itu, tampak kontras di tengah hamparan lahan jagung yang mulai mengering di Desa Selokgondang, Kecamatan Sukodono.

Bukan menindak kejahatan, melainkan mengenakan sarung tangan kerja, Bhabinkamtibmas Desa Selokgondang tampak sibuk menyusuri pematang ladang. Bersama para petani, mereka memeriksa fisik tongkol jagung dan turut serta dalam proses pemetikan.

Aksi ini sejintas mungkin terlihat sebagai kegiatan seremonial biasa. Namun, jika dibedah lebih dalam, kehadiran Polri di tengah lahan pertanian ini adalah manifestasi dari pergeseran paradigma keamanan nasional. Di tahun 2026 ini, ketahanan pangan bukan lagi sekadar urusan Kementerian Pertanian, melainkan telah bermetamorfosis menjadi isu keamanan strategis yang dikawal langsung oleh Program Asta Cita Presiden RI.

PANGAN ADALAH KEAMANAN (SECURITY)

Plt. Kapolsek Sukodono, Ipda Syaiful Anwar, S.H., dengan tegas menempatkan pendampingan ini bukan sebagai aktivitas tambahan, melainkan mandat konstitusional.

"Pengecekan langsung ke lahan jagung warga ini merupakan bentuk pengawasan dan pendampingan nyata Polsek Sukodono terhadap Program Asta Cita Presiden. Kami memastikan Bhabinkamtibmas hadir mendampingi petani sejak masa tanam hingga panen," ujar Ipda Syaiful Anwar di sela-sela kegiatan.

Pernyataan ini mengonfirmasi sebuah realitas baru: krisis pangan adalah ancaman keamanan. Sejarah bangsa ini telah membuktikan bahwa kelangkaan bahan pokok selalu berujung pada instabilitas sosial dan kerusuhan. Dengan mengawal jagung di Desa Selokgondang, Polsek Sukodono pada hakikatnya sedang mengawal stabilitas sosial-ekonomi dari tingkat paling akar rumput.

DETEKSI DINI DARI TENGAH LADANG

Kehadiran Bhabinkamtibmas dengan pakaian dinas lengkap di tengah ladang memiliki fungsi intelijen sosial yang tajam. Ipda Syaiful Anwar mengakui, interaksi di tengah lahan adalah cara paling efektif untuk memetakan kerentanan.

"Melalui pemantauan langsung seperti ini, Bhabinkamtibmas dapat berdiskusi dan mendengarkan keluhan petani, baik terkait perawatan, kendala hama, hingga kesiapan panen," jelasnya.

Di sinilah letak ketajaman peran Bhabinkamtibmas. Mereka bukan agronom yang bertugas membasmi hama, melainkan early warning system (sistem peringatan dini). Ketika petani mengeluhkan gagal panen akibat hama, alih fungsi lahan, atau mafia pupuk, Bhabinkamtibmas adalah ujung tombak negara yang pertama kali mendengarnya. Informasi dari lahan jagung Selokgondang ini selanjutnya dapat diteruskan ke jajaran Polres Lumajang untuk berkoordinasi dengan Dinas Pertanian atau Pemkab Lumajang, mencegah masalah teknis berubah menjadi masalah sosial.

SINERGISITAS YANG MELAMPAUI SEKADAR FOTO

Banyak kritik yang sering menyebut bahwa pelibatan TNI/Polri di sektor pertanian hanya sekadar "pencitraan". Namun, pendampingan intensif yang digambarkan oleh Ipda Syaiful Anwar menunjukkan adanya upaya memutus mata rantai birokrasi yang sering menyulitkan petani.

"Pendampingan intensif kepada para petani jagung adalah kunci untuk menjaga stabilitas hasil panen. Dengan sinergi yang kuat antara Bhabinkamtibmas dan warga, kami optimistis ketahanan pangan di tingkat desa hingga nasional dapat semakin kokoh," pungkas Ipda Syaiful Anwar.

Optimisme ini beralasan. Petani sering kali merasa teralienasi dari kebijakan pemerintah pusat. Kehadiran negara—yang diwakili oleh sosok Bhabinkamtibmas yang mereka kenal dekat—memberikan dorongan psikologis dan jaminan rasa aman. Mereka tahu bahwa ada aparat yang siap membantu mengamankan hasil panen mereka dari potensi pencurian maupun permainan harga oleh tengkulak nakal.

CATATAN PENUTUP: LUMBUNG PANGAN DARI TIMUR JAWA

Desa Selokgondang, Sukodono, mungkin hanya sebuah titik kecil di peta Lumajang. Namun, apa yang dilakukan oleh Bhabinkamtibmas di sana adalah cerminan mikro dari perjuangan makro bangsa Indonesia menuju swasembada pangan.

Ketika Bhabinkamtibmas turun ke lahan, mereka sedang menyampaikan pesan yang keras dan jelas: Negara hadir, negara mengawal, dan ketahanan pangan adalah harga mati. Jika setiap jengkal lahan pertanian di Indonesia mendapat pengawalan moral dan strategis seperti di Sukodono ini, maka impian swasembada pangan dalam payung Asta Cita bukan lagi sekadar utopia, melainkan sebuah keniscayaan yang sedang dipanen. (yon)


Posting Komentar

0 Komentar