Lumajang, Suara Semeru - Kebiasaan Dodik, warga Dusun Plandisari, Desa Klanting, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, pergi ke rumah sakit seorang diri membuat Bupati Lumajang Indah Amperawati prihatin.
Dodik diketahui masih mengendarai sepeda motor sendiri
setiap kali menjalani cuci darah di Rumah Sakit Bhayangkara. Padahal, ia tengah
menjalani pengobatan akibat gagal ginjal yang dideritanya dalam dua bulan
terakhir.
Kondisi itu diketahui Indah saat mengunjungi kediaman Dodik
bersama Wakil Bupati Lumajang Yudha Adji Kusuma dalam rangkaian kegiatan Sehari
Ngantor di Kecamatan Terpadu (Setormadu) di wilayah Kecamatan Sukodono, Selasa
(15/9/2026).
Di hadapan Indah, Dodik menceritakan bahwa selama ini ia
memilih pergi sendiri ke rumah sakit karena tidak ingin merepotkan orang lain.
Mendengar hal tersebut, Indah meminta Dodik tidak lagi
mengendarai sepeda motor seorang diri untuk menjalani cuci darah.
“Ndak boleh lagi naik sepeda motor sendiri ke rumah sakit,
itu sangat berbahaya. Kalau dalam perjalanan ada apa-apa atau jatuh bagaimana?”
kata Indah.
Minta ambulans desa disiapkan
Indah kemudian meminta Pemerintah Desa Klanting memastikan
kebutuhan transportasi Dodik selama menjalani pengobatan.
Ia meminta ambulans desa disiapkan untuk mengantar Dodik
setiap kali harus menjalani cuci darah.
“Saya minta kepala desa siapkan ambulans desa setiap kali
Pak Dodik mau cuci darah, tolong diantar. Kalau ambulans desa sedang dipakai,
langsung hubungi puskesmas biar diantar petugas. Pokoknya jangan sampai naik
motor sendiri lagi,” ujarnya.
Menurut Indah, akses menuju fasilitas kesehatan menjadi
bagian penting yang perlu diperhatikan, terutama bagi warga yang harus
menjalani perawatan secara rutin.
Tak lagi bisa bekerja
Sebelum sakit, Dodik bekerja sebagai penjual kerupuk. Namun,
kondisi kesehatannya kini membuat ia tidak lagi mampu bekerja.
Akibatnya, penghasilan keluarga ikut berkurang. Dodik
bersama istrinya, Martini, masih harus memenuhi kebutuhan tiga anak. Anak
pertama bersekolah di SMK, sedangkan dua anak kembarnya duduk di kelas 3 SD.
Untuk biaya cuci darah, keluarga Dodik terbantu oleh
kepesertaan BPJS Kesehatan. Namun, berhentinya penghasilan membuat kebutuhan
sehari-hari tetap menjadi persoalan bagi keluarga tersebut.
Martini mengatakan, keluarga terkadang mendapat bantuan dari
tetangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pemerintah desa juga sebelumnya
telah memberikan bantuan beras.
“Gagal ginjalnya baru kemarin, dapat dua bulan. Sekarang
bapak ndak bisa kerja. Untuk kebutuhan tiap hari ya kadang dikasih sama
tetangga-tetangga. Bantuan dari desa alhamdulillah kemarin dapat beras,” kata
Martini.
Dapat bantuan dan sepeda untuk anak
Dalam kunjungan tersebut, Indah menyerahkan bantuan uang
tunai dan paket sembako kepada keluarga Dodik.
Dua unit sepeda juga diberikan kepada anak-anak Dodik untuk
mendukung aktivitas mereka bersekolah.
Selain bantuan langsung, Indah meminta kondisi sosial
ekonomi keluarga Dodik kembali diperhatikan melalui penyesuaian data
kesejahteraan.
Saat ini, keluarga Dodik tercatat dalam Desil 6. Namun,
kondisi keluarga berubah setelah Dodik tidak lagi mampu bekerja.
Indah meminta dinas terkait melakukan penyesuaian data agar
kondisi ekonomi keluarga tersebut dapat tercermin dalam data kesejahteraan dan
bantuan sosial yang diterima.
“Kondisinya sudah seperti ini, tidak mampu bekerja lagi.
Saya minta data desilnya segera diturunkan ke Desil 3 atau 4 supaya bantuan
sosialnya dari pemerintah bisa masuk,” ujarnya.
Kunjungan tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi
keluarga dengan anggota yang sakit tidak hanya berkaitan dengan layanan medis.
Kebutuhan transportasi menuju rumah sakit, keberlangsungan
pendidikan anak, serta kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari juga
ikut terdampak ketika pencari nafkah tidak lagi dapat bekerja.
Bagi Dodik, perhatian pemerintah itu membuat perjalanan
untuk menjalani cuci darah berikutnya diharapkan dapat berlangsung lebih aman.
Ia tidak perlu lagi memaksakan diri mengendarai sepeda motor seorang diri
menuju rumah sakit.(har)

0 Komentar