110 RUAS JALAN LUMAJANG RUSAK BERAT, PERBAIKAN DIKEBUT BERTAHAP DI TENGAH KETERBATASAN ANGGARAN

Lumajang, Suara Semeru – Persoalan infrastruktur jalan di Kabupaten Lumajang belum bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Pemerintah daerah masih menghadapi pekerjaan besar untuk membenahi jaringan jalan yang mengalami kerusakan, sementara kemampuan anggaran terbatas.

Saat awal kepemimpinan bupati pada 2025, tercatat 110 ruas jalan di Lumajang masuk kategori rusak berat. Angka tersebut belum mencakup ratusan kilometer jalan yang mengalami kerusakan sedang maupun ringan.

Dari total jaringan jalan kabupaten sepanjang sekitar 1.090 kilometer, pemerintah harus menentukan ruas mana yang lebih dulu diperbaiki. Kondisi tersebut membuat perbaikan tidak bisa dilakukan sekaligus dalam satu tahun anggaran.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Lumajang, Endah Mardiana, mengatakan pemerintah telah melakukan inventarisasi kondisi jalan sebagai dasar menentukan skala prioritas.

“Memang pemerintah sudah memprioritaskan agar infrastruktur jalan menjadi prioritas penanganan di setiap tahun. Tetap kita bertahap, tidak mungkin satu tahun selesai semua dengan anggaran efisiensi,” kata Endah, Senin 28 September 2026.

Pernyataan tersebut menggambarkan besarnya kebutuhan pembiayaan infrastruktur dibandingkan ruang fiskal yang tersedia. Di satu sisi, kerusakan jalan membutuhkan penanganan segera. Di sisi lain, pemerintah harus menyesuaikan pembangunan dengan kebijakan efisiensi anggaran.

TEMPEH-GESANG JADI SALAH SATU PRIORITAS

Salah satu ruas yang mendapat perhatian adalah jalan Tempeh-Gesang sepanjang sekitar 5,2 kilometer. Ruas tersebut telah diusulkan kepada pemerintah pusat melalui program Infrastruktur Jalan Daerah (IJD). Berdasarkan informasi terakhir yang diterima Pemkab Lumajang, ruas tersebut mendapat dukungan untuk peningkatan jalan.

“Tempeh-Gesang itu 5,2 kilometer ini sudah masuk di usulan kementerian dan sudah juga sampai terakhir kemarin tersampaikan bahwa kita akan mendapatkan peningkatan jalan di ruas jalan tersebut,” ujar Endah.

Rencananya, pekerjaan ruas Tempeh-Gesang mulai dilaksanakan pada November 2026. Dukungan melalui program pemerintah pusat menjadi penting karena penanganan ruas tersebut membutuhkan pembiayaan yang tidak kecil. Dengan keterbatasan fiskal daerah, dukungan dari pemerintah pusat menjadi salah satu jalan agar perbaikan infrastruktur tetap berjalan.

GESANG-TUMPENG: EMPAT KILOMETER RUSAK BERAT, BARU SATU KILOMETER DITANGANI

Persoalan serupa terlihat pada ruas Gesang-Tumpeng. Dari total panjang sekitar 6 kilometer, terdapat sekitar 4 kilometer yang masuk kategori rusak berat.

Namun, seluruh kerusakan tersebut belum dapat ditangani sekaligus. Pemkab Lumajang merencanakan pekerjaan awal sekitar 1 kilometer. Sisanya akan dilanjutkan secara bertahap, termasuk pada 2027.

“Gesang-Tumpeng total 6 kilometer, untuk yang rusak berat itu 4 kilometer, tapi kita akan selesaikan dulu sekitar 1 kilometer dan ini akan dilanjutkan pada 2027,” jelas Endah.

Skema tersebut menunjukkan bahwa kategori “prioritas” tidak otomatis berarti seluruh ruas yang rusak berat dapat langsung diperbaiki. Penanganan tetap harus disesuaikan dengan kemampuan anggaran dan tahapan program pembangunan.

TUMPENG-PASRU MENUNGGU GILIRAN

Selain Tempeh-Gesang dan Gesang-Tumpeng, ruas Tumpeng-Pasru yang juga mengalami kerusakan berat masuk dalam rencana penanganan berikutnya.

Pemerintah daerah memilih pola pengerjaan bertahap untuk menghindari penumpukan kebutuhan anggaran dalam satu periode.

Persoalannya, semakin panjang daftar jalan yang rusak, semakin panjang pula waktu yang dibutuhkan untuk menuntaskan seluruh pekerjaan.

Dengan 110 ruas berstatus rusak berat yang tercatat sejak awal kepemimpinan pada 2025, pemerintah tidak hanya dituntut menentukan ruas yang diperbaiki terlebih dahulu, tetapi juga memastikan ruas yang telah diperbaiki tidak kembali mengalami kerusakan sebelum seluruh jaringan jalan lainnya tertangani.

Artinya, pekerjaan rumah Pemkab Lumajang bukan sekadar memperbaiki jalan yang sudah rusak. Pemerintah juga harus menjaga kualitas jalan yang telah dibangun serta mengantisipasi munculnya kerusakan baru.

EFISIENSI ANGGARAN MEMPERSEMPIT RUANG GERAK

Kebijakan efisiensi anggaran menjadi salah satu faktor yang membuat penanganan jalan harus dilakukan secara bertahap.

Pemerintah daerah harus membagi kemampuan fiskal untuk berbagai kebutuhan pelayanan publik, sementara kebutuhan perbaikan jalan terus bertambah.

Dalam kondisi tersebut, pendekatan prioritas menjadi pilihan yang tidak terhindarkan. Ruas dengan tingkat kerusakan paling berat dan kebutuhan konektivitas yang lebih mendesak didorong untuk mendapatkan penanganan lebih dahulu.

Namun, konsekuensinya jelas: tidak semua jalan rusak berat dapat langsung diperbaiki dalam satu tahun.

Untuk masyarakat yang sehari-hari menggunakan ruas tersebut, penanganan bertahap berarti masih ada jalan yang harus dilalui dalam kondisi rusak sambil menunggu giliran pekerjaan.

TARGET BESAR DI TENGAH KEMAMPUAN ANGGARAN

Pemkab Lumajang kini menghadapi pekerjaan jangka menengah untuk mengurangi panjang jalan rusak sekaligus mempertahankan kondisi jalan yang sudah baik.

Rencana pengerjaan Tempeh-Gesang sepanjang 5,2 kilometer pada November 2026 menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut. Sementara Gesang-Tumpeng baru mendapat porsi penanganan awal sekitar 1 kilometer dari 4 kilometer yang rusak berat.

Pola ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak menutup mata terhadap persoalan jalan, tetapi juga tidak memiliki ruang anggaran untuk menyelesaikannya sekaligus.

Tantangan berikutnya adalah memastikan pembangunan tidak berhenti pada proyek per ruas. Penanganan harus dilakukan secara konsisten dan terukur agar daftar jalan rusak berat terus berkurang, bukan sekadar berpindah dari satu ruas ke ruas lainnya.

Dengan jaringan jalan kabupaten mencapai sekitar 1.090 kilometer, penyelesaian persoalan infrastruktur Lumajang pada akhirnya membutuhkan perencanaan jangka panjang, kesinambungan anggaran, serta dukungan pembiayaan dari pemerintah pusat.

Sebab, jika perbaikan hanya dilakukan berdasarkan kemampuan anggaran tahunan, sementara kerusakan baru terus muncul, maka persoalan jalan akan menjadi pekerjaan yang tidak pernah benar-benar selesai. (yon)


Posting Komentar

0 Komentar