Lumajang, Suara Semeru — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, belum sepenuhnya padam. Sedikitnya 10 hektare kawasan terbakar berdasarkan hasil asesmen sementara tim gabungan.
Kebakaran terpantau di sejumlah titik yang berada di wilayah
Desa Argosari dan Desa Ranupane. Di Desa Argosari, api membakar kawasan Blok
Ledok Bedor dan Blok Jantur. Sementara di Desa Ranupane, kebakaran terjadi di
Blok Ranu Kembang.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengatakan luasan tersebut masih merupakan data
sementara. Tim gabungan masih melakukan pemantauan dan penanganan di lokasi.
“Luasan terbakar di kawasan TNBTS wilayah Desa Argosari
sementara ini kurang lebih 10 hektare,” kata Isnugroho.
Menurut dia, api di tiga blok tersebut telah berhasil
dikendalikan. Namun, kondisi belum dapat dinyatakan aman sepenuhnya karena
masih ditemukan titik api dan kepulan asap.
Upaya pemadaman juga menghadapi kendala serius. Lokasi kebakaran
berada di kawasan dengan kontur medan yang terjal sehingga menyulitkan tim
untuk menjangkau seluruh titik api.
“Untuk di tiga blok tadi api sudah bisa dikendalikan tapi
masih ada titik api dan asap karena medan yang terjal,” ujarnya.
Api Merambah Kawasan
Ranu Kumbolo
Kebakaran tidak hanya terpantau di wilayah Desa Argosari.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kobaran api juga telah membakar kawasan
Ranu Kumbolo dan jalur pendakian Gunung Semeru.
Sejumlah vegetasi khas kawasan pegunungan dilaporkan ikut
terbakar, di antaranya pohon stigi hutan, cemara gunung, serta hamparan rumput
kering.
Kondisi vegetasi yang mengering berpotensi membuat api lebih
mudah menjalar, terutama apabila terdapat angin yang cukup kuat. Sementara
karakter kawasan TNBTS yang berbukit dan terjal membuat proses penanganan
kebakaran menjadi jauh lebih sulit dibandingkan kebakaran di wilayah yang mudah
diakses.
Kondisi tersebut membuat pengendalian titik api menjadi
pekerjaan yang belum selesai meski api utama telah berhasil dikendalikan.
Hingga kini, penyebab kebakaran belum dapat dipastikan.
Pihak TNBTS masih melakukan asesmen untuk mengetahui sumber awal munculnya api.
“Untuk penyebab kebakarannya masih asesmen TNBTS,” kata Isnugroho.
Belum adanya kepastian mengenai penyebab kebakaran membuat
penanganan saat ini masih berfokus pada pengendalian titik api dan mencegah
kebakaran meluas ke kawasan lain.
Dengan masih ditemukannya titik api dan asap, kondisi
kawasan TNBTS di Lumajang belum sepenuhnya terbebas dari ancaman karhutla. Tim
gabungan masih harus memastikan seluruh bara dan titik panas benar-benar padam
untuk mencegah munculnya kembali kebakaran, terutama di kawasan dengan vegetasi
kering dan medan yang sulit dijangkau.
(yon)

0 Komentar