Lumajang, Suara Semeru — Stadion publik di kawasan perdesaan sering kali hanya dipandang sebagai fasilitas olahraga pasif yang sepi pemanfaatan di luar agenda turnamen formal. Namun, Pemerintah Desa Tempeh Tengah, Kecamatan Tempeh, menempuh alur berbeda. Melalui optimalisasi Stadion Srikandi, aset desa ini ditransformasikan menjadi ruang publik produktif yang mengintegrasikan kegiatan komunitas, seni, budaya, hingga penggerak utama ekonomi kerakyatan.
Pernyataan arah kebijakan tersebut teruji dalam gelaran
perayaan Anniversary ke-21 Semeru Scooter Club (SSC). Event otomotif yang
menyedot antusiasme ratusan pecinta vespa tersebut sukses mengonversi ruang
terbuka desa menjadi episentrum aktivitas ekonomi warga.
Efek Pengganda
Ekonomi UMKM Lokal
Dampak paling nyata dari pengaktifan ruang publik ini
dirasakan langsung oleh para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di
sekitar area stadion. Lonjakan pengunjung dari luar daerah menghadirkan
multiplier effect yang signifikan bagi pendapatan pedagang kecil.
Eny Sukismawati, salah satu pedagang di kawasan Stadion
Srikandi, mengungkapkan perbedaan drastis pada omzet jualannya selama event
berlangsung.
"Kalau hari biasa keuntungan bersih sekitar Rp600 ribu.
Saat ada event seperti ini bisa meningkat sampai tiga kali lipat. Pengunjung
jauh lebih ramai sehingga dagangan lebih cepat habis," tutur Eny pada
Senin (27/7/2026).
Ketua Panitia Anniversary SSC, Wawan, menjelaskan bahwa
kesuksesan agenda ini menjadi ajang pembuktian kapasitas komunitas. Menurutnya,
acara berskala besar dapat dikemas secara aman, tertib, dan inklusif tanpa
mengabaikan aspek ketertiban umum.
"Anniversary ini bukan hanya perayaan usia komunitas,
tetapi juga momentum mempererat tali persaudaraan antar-scooterist. Terima
kasih atas dukungan semua pihak sehingga acara berlangsung aman, tertib, dan
penuh kebersamaan," terangnya.
Sinergi Tata Kelola
dan Inovasi Program
Merespons dampak positif tersebut, Pemerintah Desa Tempeh
Tengah melangkah lebih jauh dengan membuka akses pemanfaatan berkelanjutan bagi
kegiatan komunitas. Kepala Desa Tempeh Tengah, M. Mansyursah, mengonfirmasi
bahwa pihaknya telah memberikan lampu hijau bagi SSC untuk kembali menggelar
agenda besar selama tiga hari tiga malam di Stadion Srikandi pada Agustus 2026
mendatang.
Guna menjaga keseimbangan nilai lokal, pemerintah desa
menyisipkan pendekatan kreatif dalam skema izin pemanfaatan tersebut.
"Silakan manfaatkan Stadion Srikandi kembali untuk
kegiatan SSC bulan depan. Pemerintah Desa mendukung penuh kegiatan positif yang
mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. Bahkan, kami memberikan satu malam
secara gratis untuk diisi dengan kegiatan Musik Reggae Bersholawat agar menjadi
hiburan yang edukatif, religius, dan dapat dinikmati seluruh lapisan
masyarakat," pukas Mansyursah.
Senada dengan kebijakan desa, Ketua Badan Usaha Milik Desa
(BUMDes) Srikandi, Joyo, selaku pengelola kawasan, menegaskan kesiapan
infrastruktur dan tata kelola stadion sebagai ruang kolaborasi yang
representatif. Pihaknya berkomitmen menjadikan Stadion Srikandi sebagai wajah
Desa Tempeh Tengah yang inklusif dan ramah terhadap ekosistem kreatif.
"Stadion Srikandi kami siapkan sebagai ruang bersama.
Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut karena mampu menghidupkan
perekonomian warga sekitar sekaligus memperkuat posisi stadion sebagai lokasi
penyelenggaraan event yang representatif," jelas Joyo.
Pelajaran Penting
Pengelolaan Aset Desa
Geliat di Desa Tempeh Tengah memberikan potret penting
mengenai manajemen aset desa di tingkat tapak. Pembangunan ekonomi tak selalu
menuntut pembangunan fisik baru yang memakan biaya besar, melainkan keberanian
mengoptimalkan aset yang ada melalui partisipasi publik dan kolaborasi lintas
komunitas.
Melalui sinergi antara Pemdes, BUMDes, UMKM, dan komunitas
otomotif, Stadion Srikandi kini bertransformasi dari sekadar lapangan rumput
menjadi episentrum pemberdayaan. Strategi ini tak hanya memperkuat citra Tempeh
Tengah sebagai desa yang kreatif dan adaptif, tetapi juga menciptakan model
pembangunan ekonomi perdesaan yang inklusif dan berkelanjutan. (har)

0 Komentar