Lumajang, Suara Semeru — Di era pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan arus informasi yang kian tak tersaring, lanskap media sosial sering kali berubah menjadi medan banjir hoaks dan disinformasi. Namun, di tengah riuh distorsi digital tersebut, sebuah potensi benteng sosial justru hadir dari ruang yang tak terduga: pengalaman serta kebijaksanaan hidup para pensiunan pegawai negeri.
Pesan substansial tersebut mengemuka dalam peringatan Hari
Ulang Tahun ke-64 Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten
Lumajang yang digelar di Pendopo Arya Wiraraja, Sabtu (25/7/2026). Mengusung
tema “Satu Tekad, Satu Jiwa, Memperkokoh Solidaritas Wredatama demi Kesejahteraan
Bersama”, ajang ini menegaskan bahwa purnatugas bukanlah batas akhir dari
pengabdian sosial.
Navigasi Etika di
Tengah Era AI
Hadir dalam agenda tersebut, Bupati Lumajang, Indah
Amperawati, menyoroti bagaimana lanskap teknologi masa kini kerap membawa dilema
ganda. Di satu sisi, kemudahan akses data mempercepat komunikasi; di sisi lain,
kepalsuan informasi yang kian canggih mengancam stabilitas dan keharmonisan
masyarakat.
Dalam kondisi ini, senioritas dan jam terbang para anggota
PWRI dinilai menjadi modal sosial yang amat berharga. Pengalaman hidup membuat
kelompok purnabakti memiliki kedewasaan kritis untuk menyaring informasi
sebelum membagikannya.
“Mari manfaatkan media sosial sebagai wadah untuk berbuat
baik, menyebarkan ilmu yang bermanfaat, dan menghindari penyebaran berita
hoaks. Kehadiran para senior di tengah masyarakat harus tetap menjadi contoh
yang bijak bagi generasi muda,” ujar Indah Amperawati di hadapan ratusan
purnabakti.
Bupati memberikan apresiasi atas dinamika PWRI Lumajang yang
tetap solid dan relevan merespons tantangan zaman. Menurutnya, usia organisasi
yang matang tecermin dari kontribusi nyata yang tak surut ditelan waktu.
“Selamat Hari Ulang Tahun ke-64 PWRI. Organisasi yang sehat
ini telah banyak membantu Pemerintah Kabupaten Lumajang. Perayaannya semakin
meriah dan auranya tampak dinamis—menandakan PWRI tetap hidup, kompak, dan
penuh semangat pengabdian,” tuturnya.
Aksi Nyata Akar
Rumput: Dari Stunting hingga Ketahanan Pangan
Peran strategis PWRI Lumajang nyatanya tidak berhenti pada
tataran imbauan moral di media sosial. Di tingkat tapak, para purnabakti
menggerakkan berbagai aksi sosial berbasis swadaya yang bersentuhan langsung
dengan program prioritas daerah.
Ketua PWRI Kabupaten Lumajang, Endang Istijowati,
menjelaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya aktif mengambil bagian dalam
isu-isu krusial. Mulai dari pendampingan intervensi percepatan penurunan
tengkes (stunting), penguatan program ketahanan pangan keluarga, hingga
penanganan problem kemasyarakatan lainnya.
“Kami berharap PWRI semakin solid, diisi oleh para senior
yang tangguh, serta mampu menjadi penyejuk dan teladan di tengah masyarakat.
Melalui semangat kebersamaan ini, kami ingin terus memberi kemanfaatan konkret
bagi Kabupaten Lumajang,” tegas Endang.
Pilar Resiliensi
Sosial
Refleksi HUT ke-64 PWRI ini memberikan wawasan penting
tentang redefinisi peran lansia di era modern. Para purnabakti bukan lagi
sekadar penonton pasif perubahan zaman, melainkan pilar resiliensi sosial.
Di tengah gempuran konten digital yang rawan memecah belah,
keteladanan para senior PWRI menjadi jangkar emosional dan intelektual. Dari
keheningan pengalaman para purnabakti, lahir budaya bermedia yang lebih sehat,
rasional, dan bertanggung jawab—menjaga ikatan persatuan warga Lumajang tetap kokoh
di tengah arus modernisasi. (har)

0 Komentar