Lumajang, Suara Semeru — Suasana Lapangan Desa Kebonsari, Kecamatan Sumbersuko, tampak berbeda dari biasanya. Ribuan santri dari berbagai Madrasah Diniyah (Madin) se-Kabupaten Lumajang berkumpul, membawa semangat komunal yang melampaui sekat-sekat bilik pesantren. Melalui ajang Pekan Olahraga dan Seni Antar-Madrasah Diniyah (Porsadin) III, arena ini diubah menjadi panggung pembuktian bahwa pendidikan diniyah tak sekadar berkutat pada hafalan kitab dan keilmuan ushuluddin.
Porsadin III hadir sebagai ruang pembinaan karakter terpadu.
Di balik persaingan meraih medali, ajang ini dirancang untuk memupuk
nilai-nilai sportivitas, daya cipta seni, serta mempererat ukhutwah Islamiah di
kalangan generasi muda berbasis pesantren.
Menjembatani
Spiritualitas dan Ketahanan Fisik
Hadir memimpin pembukaan acara, Bupati Lumajang, Indah
Amperawati, menegaskan bahwa peran institusi Madrasah Diniyah dalam membentuk
generasi yang berakhlak mulia perlu diimbangi dengan wadah penyeimbang.
Menurutnya, fondasi moral dan pemahaman keagamaan yang kuat harus ditopang oleh
kesehatan fisik, ketangguhan mental, serta kemampuan beradaptasi secara sosial.
“Melalui Porsadin III ini, kita ingin menunjukkan bahwa
santri Madrasah Diniyah di Kabupaten Lumajang tidak hanya unggul dalam ilmu
agama, tetapi juga sehat jiwanya, kuat raganya, serta kaya akan bakat seni dan
budaya. Men sana in corpore sano—jiwa yang sehat terdapat dalam tubuh yang
sehat,” ujar Indah Amperawati, Senin (27/7/2026).
Indah menekankan agar arena kompetisi ini dipandang sebagai
laboratorium sosial bagi para santri. Kemenangan, menurutnya, hanyalah bonus
dari proses belajar yang jauh lebih substansial: membangun kejujuran, melatih
empati, dan menghargai lawan tanding.
“Saya berharap seluruh santri dapat mengikuti setiap
perlombaan dengan penuh semangat, menjunjung tinggi sportivitas, dan saling
menghormati. Kalian adalah kebanggaan orang tua, para kiai, sekaligus harapan masa
depan Kabupaten Lumajang,” lanjutnya.
Apresiasi Fondasi
Pendidikan Akar Rumput
Penyelenggaraan Porsadin III tak lepas dari kontribusi
kolektif para pendidik dan pengelola lembaga pendidikan keagamaan. Dalam
kesempatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Lumajang memberikan apresiasi khusus
kepada Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Lumajang, jajaran
panitia, dewan juri, hingga para ustadz dan ustadzah.
Para guru diniyah kerap menjadi pahlawan di balik layar yang
merawat fondasi moral anak-anak di tingkat akar rumput. Dedikasi tanpa henti
dari pengelola Madin inilah yang menjadi pilar utama dalam melahirkan generasi
Qurani yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara
karakter.
Melalui konsistensi ajang seperti Porsadin III, Pemerintah
Kabupaten Lumajang memproyeksikan lahirnya luaran (output) santri yang utuh dan
multidimensi: cerdas secara spiritual, sehat secara fisik, adaptif dalam
berkarya, serta siap memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas. Bekal
nilai kedisiplinan dan persaudaraan yang ditanamkan di lapangan diharapkan
menjadi fondasi kuat saat para santri melangkah menghadapi tantangan zaman yang
kian kompleks. (yon)

0 Komentar