Lumajang, Suara Semeru — Musim kemarau panjang kerap identik dengan berhentinya denyut aktivitas perkebunan. Namun, bagi warga Desa Pundungsari, Kecamatan Tempursari, terik yang mengeringkan tanah tak lantas mematikan roda perekonomian. Di sela-sela hamparan pohon cengkeh yang meranggas, warga justru menemukan sumber penghidupan baru dari hal yang kerap dianggap tak bernilai: serasah daun kering.
Berbekal sapu lidi dan karung goni, warga menyusuri area
perkebunan untuk mengumpulkan daun-daun cengkeh yang gugur. Bahan yang dulunya
sekadar limbah kini menjelma menjadi komoditas vital sebagai bahan baku minyak
atsiri.
Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor
perkebunan, kemarau memang kerap membawa fase paceklik pekerjaan. Namun,
kondisi ini memaksa lahirnya daya adaptasi. Daun kering yang terkumpul kini
menjadi penopang pendapatan keluarga untuk menyambung hidup hingga musim
penghujan kembali bertandang.
Salah seorang warga, Kang Adi, memanfaatkan melandainya
aktivitas kebun untuk berburu daun kering.
"Di musim kemarau panjang seperti sekarang, tidak ada
yang bisa dikerjakan di kebun. Daripada menganggur, lebih baik mengumpulkan
daun cengkeh. Lumayan untuk menopang kebutuhan harian," tuturnya.
Hitung-hitungan ekonominya memang tampak sederhana. Daun
cengkeh kering berkualitas saat ini dihargai sekitar Rp2.700 per kilogram.
Dalam satu karung padat berisi 15 kilogram, warga bisa mengantongi Rp40.500. Meski
nilainya relatif kecil, angka tersebut cukup efektif menjadi penyambung nafas
keuangan rumah tangga di tengah krisis pekerjaan musim kemarau.
Rantai Pasok dan
Nilai Tambah Hilirisasi
Keberadaan komoditas ini tidak berhenti pada tingkat
pengumpul. Daun-daun yang telah terkumpul kemudian dikeringkan dan disalurkan
ke pengepul atau langsung menuju unit penyulingan lokal. Di sinilah proses
ekstraksi mengubah limbah menjadi clove leaf oil—minyak daun cengkeh bermutu
tinggi.
Minyak atsiri ini mengandung senyawa eugenol, zat aktif yang
menjadi bahan baku strategis bagi berbagai industri besar, mulai dari farmasi,
kosmetik, parfum, aromaterapi, antiseptik, hingga industri makanan dan rokok
kretek.
Desa Pundungsari sendiri memegang peran sentral dalam peta
produksi minyak daun cengkeh di wilayah Tempursari. Dari total 15 unit usaha
penyulingan yang beroperasi di kecamatan tersebut, tujuh di antaranya
terkonsentrasi di Pundungsari. Kluster penyulingan lokal ini menjamin kepastian
pasar bagi daun yang dikumpulkan warga, sekaligus menciptakan nilai tambah
(value added) langsung di tingkat desa.
Bahroni, salah satu pelaku penyulingan di Pundungsari,
menjadi bagian dari rantai hilirisasi ini. Bersama para penyuling lainnya, ia
mengolah daun-daun tak terpakai tersebut menjadi minyak atsiri bernilai jual
tinggi untuk merambah pasar industri nasional.
Signifikansi pola ekonomi ini turut terekam dalam studi
Program Studi Agribisnis Universitas Brawijaya (2025) mengenai rantai pasok
minyak daun cengkeh di Kecamatan Tempursari. Studi tersebut mengonfirmasi bahwa
pola pengumpulan daun secara komunal oleh warga merupakan pilar utama pasokan
bahan baku (raw material) bagi keberlanjutan operasional industri penyulingan
sebelum dialirkan ke jaringan perdagangan manufaktur.
Pelajaran Adaptasi
Lokal
Penjabat (Pj.) Kepala Desa Pundungsari, Mulyadi, menilai
fenomena ini sebagai potret nyata resiliensi dan adaptabilitas masyarakat
pedesaan dalam merespons tantangan iklim.
"Keberadaan tujuh unit penyulingan di desa kami adalah
modal penting untuk meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan. Hilirisasi
yang tumbuh di tingkat desa tidak hanya memberikan manfaat ekonomi langsung
bagi warga, tetapi juga membuka peluang berkembangnya usaha berbasis potensi
lokal secara berkelanjutan," papar Mulyadi.
Dinamika di Pundungsari menegaskan satu hal: pembangunan
ekonomi desa yang tangguh tidak selalu bergantung pada investasi berskala
masif. Seringkali, pemulihan ekonomi justru lahir dari kepekaan masyarakat
dalam membaca peluang di lingkungan sekitar.
Dari guguran daun cengkeh yang sederhana, warga Pundungsari
berhasil merajai mata rantai ekonomi lokal—menghidupi dapur rumah tangga,
menggerakkan unit usaha desa, sekaligus mengukuhkan posisi Pundungsari sebagai
sentra utama pengolahan minyak atsiri di wilayahnya. (yon)

0 Komentar