JEJAK HARI-HARI TERAKHIR KORBAN BULLYING DI LUMAJANG: TETAP IKUT UJIAN HINGGA HADIRI TASYAKURAN SEBELUM MENINGGAL


Lumajang, Suara Semeru – Kasus dugaan perundungan yang berujung meninggalnya seorang siswa SMP di Kabupaten Lumajang menyisakan fakta-fakta yang menggugah perhatian. Di tengah kondisi fisik dan psikis yang diduga mulai menurun usai menjadi korban bullying, siswa berinisial MI (16) masih berusaha menjalani aktivitas sekolah hingga tuntas.

Korban diketahui tetap mengikuti seluruh rangkaian Tes Kemampuan Akademik (TKA), menghadiri acara tasyakuran kelulusan, hingga mengambil Surat Keterangan Lulus (SKL), sebelum akhirnya kondisinya memburuk dan meninggal dunia beberapa hari kemudian.

Peristiwa dugaan perundungan tersebut terjadi pada 18 Mei 2026, bertepatan dengan hari pertama pelaksanaan TKA bagi siswa kelas IX di SMP PGRI Sukodono, Kabupaten Lumajang.

Kepala SMP PGRI Sukodono, Yunita Wahyuningsih, mengatakan bahwa setelah insiden itu, MI tetap mengikuti seluruh rangkaian ujian hingga hari terakhir pada 23 Mei 2026.

"Setelah itu kan libur karena habis ujian, jadi tidak ada yang ke sekolah termasuk korban," ujar Yunita.

Tetap Datang Saat Tasyakuran Kelulusan

Meski telah menyelesaikan ujian dan memasuki masa libur sekolah, MI masih sempat hadir dalam kegiatan tasyakuran kelulusan sekaligus pengambilan hasil TKA dan Surat Keterangan Lulus yang diselenggarakan pihak sekolah.

Namun, menurut Yunita, ada perubahan sikap yang terlihat pada korban saat acara berlangsung. MI memilih lebih banyak diam dan tidak bergabung menikmati hidangan bersama teman-temannya.

"Saya tanya kenapa enggak makan, katanya sariawan, jadi saya bungkus makanannya untuk dibawa pulang," tuturnya.

Momen tersebut kini menjadi salah satu kenangan terakhir pihak sekolah bersama korban sebelum kondisinya memburuk.

Kondisi Memburuk dalam Hitungan Hari

Sekitar lima hari setelah kegiatan pengambilan hasil ujian, pihak sekolah menerima kabar bahwa MI menjalani perawatan di RSUD dr. Haryoto karena kondisi kesehatannya terus menurun.

Pihak sekolah mengaku turut memberikan pendampingan selama korban dirawat. Bahkan, salah seorang guru disebut ikut membantu proses administrasi di rumah sakit.

"Malam itu saya minta tolong Pak Wakasek untuk menjenguk korban, ternyata sudah kritis dan harus masuk ke ICU. Besoknya meninggal dunia," ungkap Yunita.

Kasus Masih Menjadi Sorotan

Meninggalnya MI setelah diduga menjadi korban bullying memicu perhatian luas masyarakat dan menjadi pengingat bahwa dampak perundungan tidak selalu terlihat secara langsung. Selain berpotensi menimbulkan luka fisik, bullying juga dapat berdampak serius terhadap kondisi psikologis maupun kesehatan korban.

Hingga kini, kasus tersebut masih menjadi perhatian berbagai pihak. Proses penelusuran mengenai dugaan perundungan dan penyebab meninggalnya korban diharapkan dapat dilakukan secara menyeluruh berdasarkan hasil penyelidikan aparat berwenang serta pemeriksaan medis yang berlaku.

Kasus ini sekaligus kembali menegaskan pentingnya penguatan sistem pencegahan bullying di lingkungan pendidikan. Pengawasan sekolah, keterlibatan orang tua, serta mekanisme pelaporan yang cepat dinilai menjadi faktor penting agar setiap indikasi kekerasan antarpelajar dapat ditangani sedini mungkin sebelum berkembang menjadi tragedi yang lebih besar. (yon)


Posting Komentar

0 Komentar