Lumajang, Suara Semeru – Fenomena bediding atau udara dingin khas musim kemarau semakin terasa di Kabupaten Lumajang. Dalam beberapa hari terakhir, suhu udara pada malam hingga menjelang pagi turun drastis, terutama di wilayah pegunungan. Bagi sebagian warga, kondisi ini bukan lagi sekadar sensasi dingin, melainkan mulai mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
memperkirakan fenomena tersebut masih akan berlangsung hingga September 2026
seiring puncak musim kemarau yang diprediksi lebih panjang dan lebih kering
dibandingkan kondisi normal.
Di kawasan lereng Semeru, udara dingin mulai terasa sejak
matahari terbenam dan mencapai puncaknya menjelang dini hari. Suhu yang terus
menurun membuat sebagian warga memilih membatasi aktivitas di luar rumah.
Alfin Gunandar Kartasurya, warga Desa Kandangtepus,
Kecamatan Senduro, mengaku udara dingin tahun ini terasa lebih menusuk
dibandingkan biasanya. Bahkan, bibirnya pecah-pecah akibat suhu yang sangat
rendah.
"Dingin sekali, Mas. Bibir saya sampai perih karena
dampak dingin ekstrem ini," ujarnya, Jum’at (3/7/2026) pagi.
Keluhan serupa dirasakan Tika Wahyu Wulan Andari, warga Desa
Tambahrejo, Kecamatan Candipuro. Menurutnya, udara dingin yang berlangsung
hampir sepanjang malam membuat tubuh lebih rentan terserang flu.
"Sudah tiga hari saya tidak berani mandi pagi. Hidung
langsung flu, dinginnya minta ampun," katanya.
Fenomena tersebut menunjukkan bediding tahun ini tidak lagi
hanya dirasakan masyarakat yang tinggal di kawasan pegunungan seperti Senduro
dan Ranupani. Penurunan suhu juga mulai terasa hingga wilayah dataran yang
selama ini relatif lebih hangat.
Bediding Dipicu
Langit Cerah Saat Musim Kemarau
BMKG menjelaskan bediding bukan merupakan gelombang udara
dingin dari luar Indonesia, melainkan fenomena alam yang lazim terjadi setiap
musim kemarau.
Saat kemarau, kelembapan udara menurun dan tutupan awan
sangat sedikit. Kondisi tersebut membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi
pada siang hari dengan cepat terlepas ke atmosfer pada malam hari. Akibatnya,
suhu udara turun tajam menjelang pagi.
Di kawasan pegunungan, proses tersebut berlangsung lebih
ekstrem karena berada pada ketinggian yang memiliki suhu dasar lebih rendah.
Bahkan pada kondisi tertentu, suhu di wilayah Ranupani dan lereng Gunung Semeru
dapat mendekati titik beku hingga memunculkan embun es atau bun upas yang
hampir selalu muncul saat puncak musim kemarau.
Kemarau Lebih
Panjang, Risiko Ikut Meningkat
BMKG memprediksi musim kemarau tahun 2026 berlangsung lebih
panjang dengan karakter yang lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis.
Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga September, sedangkan
sebagian wilayah baru memasuki masa peralihan menuju musim hujan pada Oktober.
Kondisi tersebut dipengaruhi menguatnya Monsun Australia
yang membawa massa udara kering ke Indonesia. Di sisi lain, peluang
berkembangnya fenomena El Nino turut meningkatkan potensi kemarau lebih panjang
sehingga malam hari terasa lebih dingin dan curah hujan semakin minim.
Perubahan cuaca tersebut bukan hanya berdampak pada
kenyamanan masyarakat. Risiko gangguan kesehatan seperti influenza, infeksi
saluran pernapasan akut (ISPA), bibir pecah-pecah, kulit kering hingga
dehidrasi diperkirakan meningkat apabila masyarakat tidak menjaga kondisi
tubuh.
Di sektor lingkungan, minimnya curah hujan juga berpotensi
menurunkan debit mata air, memperbesar ancaman kekeringan, serta meningkatkan
risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan lereng pegunungan.
Sektor pertanian pun menjadi salah satu yang paling rentan
terdampak. Berkurangnya ketersediaan air irigasi dapat mengganggu produktivitas
tanaman apabila petani tidak segera menyesuaikan pola tanam dengan kondisi
musim yang lebih kering.
Masyarakat Diminta
Waspada
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan
selama fenomena bediding masih berlangsung. Warga disarankan menggunakan
pakaian hangat saat beraktivitas pada malam dan pagi hari, menjaga daya tahan
tubuh, memperbanyak konsumsi air putih meski udara terasa dingin, serta
menghindari pembakaran terbuka yang berpotensi memicu kebakaran saat vegetasi
mengering.
Bagi masyarakat Lumajang, khususnya yang bermukim di kawasan
lereng Semeru, udara dingin diperkirakan masih akan menjadi bagian dari
keseharian hingga akhir September. Selama langit tetap cerah dan tutupan awan
minim, suhu pada malam hingga menjelang matahari terbit diperkirakan masih akan
berada pada titik terendah.
Fenomena bediding memang merupakan siklus tahunan saat musim
kemarau. Namun pada 2026, karakter kemarau yang lebih panjang dan lebih kering
membuat dampaknya perlu mendapat perhatian lebih. Bukan hanya soal udara dingin
yang menusuk, tetapi juga ancaman terhadap kesehatan masyarakat, ketahanan
pangan, ketersediaan air bersih, hingga meningkatnya risiko bencana
hidrometeorologi di musim kemarau. (yon)

0 Komentar