LIBUR “MBG” PICU HARGA PANGAN TURUN, PERTANDA KETERGANTUNGAN PASAR PADA BELANJA PEMERINTAH?

Lumajang, Suara Semeru – Penghentian sementara operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah mulai menunjukkan dampak nyata terhadap pergerakan harga pangan di Kabupaten Lumajang.

Sejumlah komoditas strategis, terutama telur ayam ras dan cabai rawit merah, mengalami penurunan harga cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

Fenomena tersebut bukan sekadar kabar baik bagi konsumen. Di balik turunnya harga, muncul sinyal bahwa permintaan dari dapur MBG selama ini memiliki pengaruh besar terhadap keseimbangan pasar pangan di tingkat lokal.

Di Pasar Baru Lumajang, para pedagang mengaku harga sejumlah kebutuhan pokok terus bergerak turun sejak aktivitas dapur MBG berhenti sementara.

Salah seorang pedagang, Rohamah, mengatakan harga telur ayam ras yang sebelumnya berada di kisaran Rp28 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram kini turun menjadi sekitar Rp22 ribu per kilogram. Penurunan juga terjadi pada cabai rawit merah yang sebelumnya sempat menembus Rp80 ribu per kilogram, kini berada di kisaran Rp50 ribu per kilogram.

"Telur sekarang sekitar Rp22 ribu per kilogram. Cabai rawit juga turun, sekarang sekitar Rp50 ribu. Sebelumnya jauh lebih mahal," ujarnya.

Turunnya harga langsung dirasakan pelaku usaha kuliner. Selama beberapa bulan terakhir, tingginya harga bahan baku membuat margin keuntungan mereka tergerus. Kini beban biaya produksi mulai berkurang.

Salah seorang pengusaha kuliner di Lumajang, Nila Agustin asal Desa Gucialit, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, mengaku kondisi tersebut cukup membantu kelangsungan usahanya.

"Akhirnya harga bahan pokok turun. Dari kemarin-kemarin sejak MBG masih beroperasi, semuanya mahal," katanya, Jumat (3/7/2026).

Namun, penurunan harga tidak sepenuhnya dipandang sebagai kabar menggembirakan. Dari sisi produsen, kondisi ini justru mengindikasikan adanya kelebihan pasokan akibat berkurangnya serapan pasar.

Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Lumajang, Noer Riana Sapta Poeji Rahayu, menjelaskan selama program MBG berjalan banyak peternak meningkatkan kapasitas produksi karena adanya kepastian permintaan dari dapur MBG, terutama untuk komoditas telur dan daging ayam.

"Kalau sebelumnya peternak memelihara sekitar 100 ekor ayam, sejak ada MBG jumlah ternaknya ditambah bisa dua kali lipat atau lebih karena ada kepastian pasar. Ketika MBG libur, produksi tetap tinggi, tetapi penyerapannya berkurang. Akibatnya stok melimpah sementara kebutuhan pasar umum relatif tetap," jelasnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Program MBG bukan hanya berfungsi sebagai program pemenuhan gizi, tetapi juga telah menjadi salah satu penggerak permintaan pangan di tingkat daerah. Ketika aktivitas program berhenti, meski hanya sementara, keseimbangan antara produksi dan konsumsi ikut berubah sehingga harga komoditas terdorong turun.

Fenomena ini sekaligus menjadi tantangan bagi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga dan melindungi pendapatan peternak saat permintaan institusional seperti MBG mengalami jeda. Tanpa pengelolaan distribusi dan penyerapan hasil produksi yang memadai, harga yang murah bagi konsumen berpotensi berubah menjadi kerugian bagi produsen.

Di sisi lain, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa keberlanjutan Program MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi peserta didik, tetapi juga memiliki efek berganda terhadap roda perekonomian daerah, mulai dari peternak, pedagang pasar, hingga pelaku usaha kuliner. (yon)


Posting Komentar

0 Komentar