Lumajang, Suara Semeru - Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Lumajang terus memperkuat peran sosial keluarga aparatur sipil negara (ASN) melalui penguatan kepekaan terhadap pemerlu pelayanan kesejahteraan sosial. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun solidaritas sosial dan memperkuat budaya kepedulian di tengah masyarakat yang menghadapi berbagai tantangan sosial dan ekonomi.
Komitmen itu disampaikan Ketua Dharma Wanita Persatuan
Kabupaten Lumajang, Rahayu Agus Triyono, saat rapat pleno organisasi di BKPSDM
Kabupaten Lumajang. Dalam arahannya, ia menekankan bahwa kepekaan sosial bukan
sekadar aktivitas organisasi, tetapi nilai dasar yang harus tumbuh dalam
kehidupan keluarga ASN.
Menurut Rahayu, keluarga ASN memiliki posisi strategis
karena berada dekat dengan dinamika sosial masyarakat. Di tengah berbagai
persoalan kesejahteraan sosial yang masih terjadi, keberadaan istri ASN dinilai
dapat menjadi penghubung penting antara lingkungan masyarakat dan semangat
gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan sosial bangsa.
“Istri ASN perlu memiliki kepekaan sosial karena di sekitar
kita masih ada warga yang membutuhkan perhatian bersama. Kepedulian itu penting
agar tidak ada masyarakat yang merasa berjalan sendiri menghadapi persoalan
hidupnya,” ujarnya, Rabu 13 Mei 2026.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan daerah
tidak cukup hanya diukur dari kemajuan fisik, pembangunan infrastruktur, atau
pelayanan administrasi pemerintahan. Di balik pembangunan yang terlihat,
terdapat aspek sosial yang sama pentingnya, yakni sejauh mana masyarakat tetap
memiliki rasa empati dan solidaritas terhadap kelompok rentan.
Dalam konteks itu, pemerlu pelayanan kesejahteraan sosial
mencakup kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus, seperti lanjut
usia, penyandang disabilitas, anak-anak rentan, hingga keluarga dengan
keterbatasan sosial-ekonomi. Kelompok-kelompok tersebut sering kali menghadapi
persoalan yang tidak selalu terlihat di ruang publik, tetapi membutuhkan
dukungan lingkungan yang peduli dan hadir secara emosional.
Rahayu menilai, tantangan sosial modern tidak hanya
berkaitan dengan persoalan ekonomi, tetapi juga menurunnya kedekatan sosial di
tengah masyarakat. Karena itu, penguatan kepedulian menjadi penting agar
masyarakat tidak tumbuh menjadi individu yang acuh terhadap kondisi sekitar.
Substansi utama gerakan yang dibangun DWP Lumajang adalah
menanamkan kesadaran bahwa kesejahteraan sosial bukan semata tanggung jawab
pemerintah. Peran keluarga dan lingkungan sosial menjadi faktor penting dalam
menciptakan masyarakat yang saling mendukung dan memperhatikan.
“Sering kali persoalan sosial tidak terlihat di ruang
formal. Tetapi ketika kita dekat dengan masyarakat, kita bisa mengetahui siapa
yang membutuhkan perhatian, siapa yang perlu didampingi, dan siapa yang perlu
dikuatkan,” katanya.
Pendekatan berbasis kedekatan sosial itu dinilai efektif
karena banyak persoalan masyarakat muncul secara perlahan dan tersembunyi.
Kesepian lansia, tekanan ekonomi keluarga, keterbatasan akses kelompok rentan,
hingga persoalan psikososial sering kali baru terlihat ketika ada hubungan
sosial yang kuat di lingkungan sekitar.
Dalam pandangan DWP Lumajang, perempuan memiliki kekuatan
emosional yang besar dalam membangun hubungan sosial. Peran istri ASN tidak
hanya mendampingi suami dalam tugas pemerintahan, tetapi juga menjadi penggerak
nilai kemanusiaan yang mampu memperkuat rasa kebersamaan di masyarakat.
Kepedulian sosial, menurut Rahayu, juga tidak selalu
diwujudkan dalam bentuk bantuan materi. Perhatian sederhana seperti
mendengarkan keluhan, melakukan kunjungan, memberi pendampingan, atau membangun
komunikasi yang hangat dapat menjadi dukungan moral yang sangat berarti bagi
masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.
“Kadang seseorang hanya butuh didengar dan diperhatikan.
Dari hal sederhana itu, rasa kebersamaan tumbuh dan masyarakat merasa tidak
sendiri,” tambahnya.
Selain mendorong aktivitas sosial organisasi, DWP Kabupaten
Lumajang juga mengajak seluruh anggotanya aktif mengenali kondisi sosial di
lingkungan masing-masing. Langkah ini dinilai penting sebagai bagian dari
deteksi dini persoalan sosial yang berkembang di masyarakat, sehingga
penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan lebih manusiawi.
Pendekatan tersebut sekaligus memperkuat posisi organisasi
perempuan ASN sebagai bagian dari gerakan sosial kemasyarakatan. Tidak hanya
menjadi pelengkap aktivitas birokrasi, DWP diarahkan untuk berkontribusi dalam
membangun ketahanan sosial masyarakat melalui penguatan empati dan solidaritas.
Di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks, upaya
membangun budaya peduli menjadi tantangan tersendiri. Individualisme, tekanan
ekonomi, dan perubahan pola interaksi masyarakat berpotensi mengurangi
sensitivitas sosial jika tidak diimbangi dengan penguatan nilai kemanusiaan
sejak dari lingkungan keluarga.
Melalui penguatan kepekaan sosial ini, Dharma Wanita
Persatuan Kabupaten Lumajang berharap keluarga ASN mampu menjadi teladan dalam
membangun budaya gotong royong dan kepedulian sosial. Dengan demikian,
pembangunan daerah tidak hanya tumbuh maju secara fisik, tetapi juga memiliki
fondasi sosial yang kuat, inklusif, dan berkeadilan. (yon)

0 Komentar