SEKOLAH JADI GARDA DEPAN BUDAYA LINGKUNGAN, LUMAJANG SIAPKAN 28 CALON ADIWIYATA NASIONAL DAN MANDIRI 2026

Lumajang, Suara Semeru - Pemerintah Kabupaten Lumajang terus memperkuat strategi pembangunan sumber daya manusia berbasis lingkungan melalui pendampingan terhadap 28 calon Sekolah Adiwiyata Nasional dan Mandiri Tahun 2026. Langkah ini menegaskan bahwa sekolah tidak lagi dipandang sekadar ruang belajar akademik, melainkan pusat pembentukan budaya hidup berkelanjutan yang mampu memengaruhi perilaku masyarakat secara luas.

Pendampingan dilakukan oleh Tim Adiwiyata Kabupaten Lumajang melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Offline di SMPN 1 Sukodono. Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat implementasi pendidikan lingkungan hidup di satuan pendidikan, sekaligus memastikan sekolah memahami esensi program Adiwiyata secara menyeluruh.

Bagi sebagian sekolah, Adiwiyata kerap dipahami sebatas target administratif atau capaian penghargaan. Namun dalam pendekatan yang dibangun Pemerintah Kabupaten Lumajang, program ini diarahkan lebih jauh sebagai proses perubahan budaya. Fokus utamanya bukan hanya penyusunan dokumen penilaian, tetapi pembentukan kebiasaan hidup ramah lingkungan yang tumbuh secara alami di lingkungan sekolah.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lumajang, Agus Rokhman Rozaq, menegaskan bahwa Adiwiyata harus dipahami sebagai investasi jangka panjang dalam membangun karakter generasi muda.

“Program Adiwiyata diarahkan untuk membentuk kebiasaan. Yang dibangun bukan hanya dokumen, tetapi budaya peduli lingkungan yang tumbuh di sekolah dan menjadi bagian dari keseharian anak-anak,” ujarnya, Rabu (13/5/2026).

Pernyataan tersebut merefleksikan tantangan lingkungan yang kini semakin kompleks. Persoalan sampah, perubahan iklim, krisis air bersih, hingga degradasi lingkungan tidak cukup diatasi hanya melalui regulasi dan pembangunan fisik. Dibutuhkan perubahan pola pikir masyarakat yang dimulai sejak usia dini. Dalam konteks itulah sekolah menjadi titik strategis.

Melalui aktivitas sederhana seperti memilah sampah, menghemat energi listrik, merawat tanaman, menjaga kebersihan sumber air, hingga membiasakan konsumsi makanan sehat, peserta didik diperkenalkan pada konsep tanggung jawab ekologis secara nyata. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten diyakini mampu membentuk karakter peduli lingkungan dalam jangka panjang.

Pendekatan ini juga menunjukkan perubahan paradigma pendidikan lingkungan. Jika sebelumnya pembelajaran sering berhenti pada teori di ruang kelas, kini sekolah diarahkan menjadi laboratorium perilaku hidup berkelanjutan. Anak-anak tidak hanya memahami pentingnya menjaga lingkungan, tetapi menjalankannya dalam praktik sehari-hari.

Menurut Rozaq, dampak pendidikan lingkungan akan jauh lebih besar ketika kebiasaan tersebut terbawa hingga ke rumah. Anak-anak berpotensi menjadi agen perubahan yang memengaruhi pola hidup keluarga dan masyarakat di sekitarnya.

“Kalau kesadaran itu tumbuh dari sekolah, dampaknya akan lebih luas. Anak-anak bisa menjadi penggerak perubahan di rumah, dan keluarga akan ikut terbiasa menjaga lingkungan,” katanya.

Selain penguatan substansi pendidikan lingkungan, kegiatan asistensi juga mencakup pendampingan teknis terkait pengisian dokumen, pelaporan program, serta penggunaan Sistem Informasi Adiwiyata (Sidia). Langkah ini dilakukan agar implementasi program terdokumentasi secara sistematis dan dapat dipantau secara berkelanjutan.

Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Lumajang menekankan bahwa aspek administratif hanya bersifat pendukung. Ukuran utama keberhasilan Adiwiyata tetap terletak pada perubahan budaya sekolah. Lingkungan belajar yang bersih, kebiasaan warga sekolah yang disiplin menjaga alam, serta keterlibatan aktif siswa menjadi indikator penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkelanjutan.

Kegiatan pendampingan ini melibatkan sinergi lintas sektor, antara lain Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lumajang, dan Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Jember. Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa isu lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh satu lembaga saja, melainkan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak secara terpadu.

Di tengah meningkatnya tantangan ekologis global, langkah Lumajang memperkuat sekolah berbasis lingkungan menjadi sinyal penting bahwa pembangunan daerah tidak hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga kualitas karakter generasi masa depan. Pendidikan lingkungan yang konsisten dinilai dapat menjadi fondasi dalam menciptakan masyarakat yang lebih sadar, bertanggung jawab, dan siap menghadapi krisis lingkungan di masa mendatang.

Melalui pendampingan terhadap 28 calon Sekolah Adiwiyata Nasional dan Mandiri tersebut, Lumajang tidak sekadar mengejar prestasi pendidikan lingkungan tingkat nasional. Lebih dari itu, pemerintah daerah sedang membangun ekosistem pembelajaran yang menanamkan nilai keberlanjutan sebagai bagian dari budaya hidup masyarakat. (yon)


Posting Komentar

0 Komentar