Lumajang, Suara Semeru - Pemuda asal Lumajang, Arif Hermawan (28), membangun kemandirian pangan dari loteng sempit rumahnya di Desa Kedungjajang. Berawal dari 70 botol plastik bekas untuk hidroponik, ia menghadapi kegagalan berulang tanaman mati, akar lemah, dan daun menguning.
Tanpa latar belakang pertanian, Arif belajar mandiri dari
internet. Ia kemudian memperbaiki sistem bersama istrinya, mengembangkan
instalasi menjadi 340 lubang tanam. Meski masih diwarnai kendala teknis dan
tekanan fisik, perlahan hasil mulai terlihat dari tanaman yang tumbuh lebih
stabil.
Panen pertama dibagikan ke tetangga, hingga muncul
permintaan pasar. Dari situ, Arif memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai
sales dan fokus bertani, meski harus mengambil pinjaman Rp65 juta.
“Usahanya berkembang ke lahan 220 meter persegi dengan 4.200
lubang tanam. Setiap 40 hari, dan menghasilkan lebih dari 7 kuintal selada,
dengan omzet sekitar Rp21 juta dan laba bersih Rp15 juta per siklus,”
ungkapnya, Kamis 30 April 2026.
Produknya kini memasok pasar lokal, termasuk program Makan
Bergizi Gratis. Pada 2024, Arif meraih Juara 1 Wirausaha Muda Pemula Kemenpora
RI. Ia juga membina sembilan mitra agar mandiri. Bagi Arif, keberhasilan bukan
pada hasil akhir, melainkan ketekunan untuk terus berjalan meski berulang kali
gagal. (yon)

0 Komentar