Lumajang, Suara Semeru — Kelangkaan gas elpiji non-subsidi mulai terjadi di Kabupaten Lumajang, dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya permintaan dari kalangan pelaku usaha serta masyarakat yang memang tidak berhak menerima subsidi, sehingga distribusi gas ukuran 12 kilogram menjadi tersendat.
Sejumlah pelaku
usaha mengaku terdampak langsung akibat sulitnya memperoleh elpiji non-subsidi
di pasaran. Arif, seorang manajer restoran di Lumajang, mengungkapkan bahwa
dirinya harus berkeliling ke berbagai agen dan toko hanya untuk mendapatkan
pasokan gas.
“Tadi ada yang jual,
pas mau saya beli katanya sudah dipesan sama (dapur) MBG. Katanya enggak boleh
pakai yang 3 kg, tapi mau beli yang 12 kg sulit,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Menurut Arif,
kondisi ini tidak hanya menyulitkan operasional usaha, tetapi juga berpotensi
meningkatkan biaya produksi apabila harus mencari alternatif pasokan dengan
harga yang lebih tinggi. Ia berharap ada langkah cepat dari pihak terkait agar
distribusi kembali normal.
Sementara itu,
Sekretaris Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas)
wilayah Besuki, Joko Cahyono, turut menyoroti kondisi tersebut. Ia meminta PT
Pertamina untuk segera menambah kuota distribusi elpiji non-subsidi di wilayah
Lumajang guna mengantisipasi krisis yang lebih luas.
Menurut Joko, jika
pasokan tidak segera ditingkatkan, dikhawatirkan masyarakat yang tidak berhak
justru beralih menggunakan elpiji subsidi ukuran 3 kilogram. Hal ini berpotensi
memicu kembali kelangkaan gas subsidi yang selama ini menjadi kebutuhan utama
masyarakat berpenghasilan rendah.
“Mohon dengan sangat
Pertamina untuk menambah pasokan LPG PSO Kabupaten Lumajang,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa
keseimbangan distribusi antara elpiji subsidi dan non-subsidi sangat penting
untuk menjaga stabilitas pasar. Jika terjadi ketimpangan, maka dampaknya akan
dirasakan secara berantai, baik oleh pelaku usaha maupun masyarakat kecil.
Di sisi lain,
peningkatan permintaan elpiji non-subsidi juga disebut-sebut berkaitan dengan
bertambahnya aktivitas ekonomi di Lumajang, termasuk sektor kuliner dan jasa.
Namun tanpa diimbangi dengan distribusi yang memadai, kondisi ini justru
menimbulkan tekanan baru di lapangan.
Pemerintah daerah
diharapkan segera berkoordinasi dengan pihak Pertamina serta Hiswana Migas
untuk mencari solusi konkret, mulai dari penambahan kuota hingga pengawasan
distribusi agar tepat sasaran.
Kelangkaan ini
menjadi pengingat penting bahwa pengelolaan energi, khususnya gas elpiji,
membutuhkan perencanaan yang matang dan respons cepat agar tidak mengganggu
stabilitas ekonomi masyarakat. (yon)

0 Komentar