Lumajang, Suara Semeru — Aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali meningkat dengan terjadinya erupsi berupa luncuran awan panas pada Selasa (7/4/2026) sore. Peristiwa ini menegaskan bahwa gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut masih berada dalam fase aktif yang memerlukan kewaspadaan tinggi dari masyarakat dan pihak berwenang.
Berdasarkan laporan resmi dari Pos Pengamatan Gunung Api
(PPGA) Semeru, erupsi tercatat berlangsung selama 7 menit 23 detik dengan
amplitudo maksimum mencapai 27 milimeter. Selain luncuran awan panas, letusan
juga disertai kolom asap tebal yang membumbung hingga sekitar 2.000 meter di
atas puncak kawah.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengungkapkan bahwa aktivitas awan panas guguran
(APG) mulai terekam pada pukul 17.30 WIB. Ia menjelaskan bahwa luncuran
material panas bergerak sejauh kurang lebih 4,5 kilometer ke arah Besuk
Kobokan, yang selama ini dikenal sebagai jalur aliran lahar dan awan panas dari
Semeru.
“Terjadi APG, jarak luncur sekitar 4,5 kilometer mengarah ke
Besuk Kobokan,” ujar Isnugroho, Rabu (8/4/2026).
Besuk Kobokan merupakan salah satu kawasan yang masuk dalam
zona rawan bencana (KRB) karena menjadi jalur utama aliran material vulkanik.
Dalam beberapa erupsi sebelumnya, wilayah ini kerap terdampak langsung oleh
awan panas maupun aliran lahar hujan.
Pihak BPBD bersama petugas gabungan terus melakukan
pemantauan intensif terhadap perkembangan aktivitas gunung. Masyarakat yang
berada di sekitar lereng Semeru, khususnya di sepanjang aliran sungai yang
berhulu di puncak, diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius
berbahaya.
Selain itu, warga juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi erupsi susulan, mengingat karakteristik Semeru yang sering mengalami erupsi bertipe guguran secara periodik.
Gunung Semeru selama beberapa tahun terakhir menunjukkan
pola aktivitas yang fluktuatif, dengan erupsi yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Luncuran awan panas seperti yang terjadi kali ini umumnya dipicu oleh runtuhan
kubah lava di puncak, yang kemudian meluncur mengikuti kontur lembah.
Meski tidak semua erupsi berdampak langsung pada permukiman,
potensi bahaya tetap tinggi, terutama jika terjadi peningkatan volume material
atau perubahan arah luncuran.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus memperkuat
langkah mitigasi, termasuk sosialisasi kepada warga, penyediaan jalur evakuasi,
serta kesiapan tempat pengungsian jika sewaktu-waktu diperlukan.
Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai korban jiwa
maupun kerusakan akibat erupsi terbaru ini. Namun, aparat tetap siaga penuh
guna mengantisipasi kemungkinan terburuk. (yon)

0 Komentar