Lumajang, Suara Semeru - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perbincangan publik setelah sejumlah warganet menyuarakan kritik sekaligus dukungan terhadap pelaksanaannya di berbagai daerah.
Adi Purwanto, warga Lumajang, melalui unggahannya di media
sosial mempertanyakan konsistensi kebijakan pendidikan dan implementasi program
MBG di sekolah. Ia menyoroti kebiasaan anak-anak yang sejak taman kanak-kanak
(TK) diajarkan menjalani puasa penuh, namun di sekolah justru mendapat sajian
berbuka berupa roti manis.
“Dari TK diajari puasa penuh, ujug-ujug sekarang di sekolah
diiming-imingi MBG cuma isi roti begini. Anak-anak disuruh berbuka pakai roti
manis? Mana itu daging dan lele?” tulisnya.
Ia menilai program tersebut terkesan dipaksakan serta
mempertanyakan kualitas kandungan gizi dalam menu yang dibagikan.
Nada berbeda disampaikan Miki Candra. Ia mengaku bersyukur
atas terealisasinya program MBG di SDN Kaliboto Lor 04, Kecamatan Jatiroto,
Kabupaten Lumajang. Melalui unggahan di media sosial, ia menyampaikan apresiasi
kepada Kementerian Keuangan RI, Kantor Staf Presiden RI, serta Staf Khusus
Presiden Bidang Komunikasi atas pelaksanaan program tersebut.
“Alhamdulillah MBG di SDN Kaliboto Lor 04 sudah turun.
Terima kasih atas makanan bergizinya. Semoga ke depan anak Indonesia menjadi
anak emas yang cemerlang,” tulisnya.
Ia juga mendoakan Presiden Prabowo Subianto selaku penggagas
program agar senantiasa diberi kesehatan. Namun demikian, ia mengingatkan agar
pelaksana di lapangan menjalankan program sesuai arahan pemerintah pusat dan
tidak bekerja asal-asalan.
Sementara itu, Muslimin Mus menyoroti aspek anggaran program
MBG tahun 2026. Ia menjelaskan alokasi anggaran direncanakan sekitar Rp15.000
per porsi, dengan rincian Rp10.000 untuk bahan baku serta Rp3.000–Rp5.000 untuk
operasional dapur.
Secara nasional, total anggaran MBG tahun 2026 dirancang
mencapai Rp223–335 triliun. Meski demikian, angka tersebut masih dapat berubah
menyesuaikan kebijakan daerah serta hasil evaluasi teknis dari Satuan Pelayanan
Pemenuhan Gizi (SPPG).
Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG
masih menyisakan ruang evaluasi, terutama terkait kualitas menu di lapangan dan
kesesuaiannya dengan tujuan awal program, yakni meningkatkan asupan gizi anak
sekolah. Transparansi, pengawasan, serta konsistensi standar menu dinilai
menjadi kunci agar program berjalan efektif dan tepat sasaran. (yon)

0 Komentar