Lumajang, Suara Semeru - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang memastikan tidak ada dampak yang ditimbulkan akibat luncuran awan panas Gunung Semeru yang terjadi pada Minggu malam, 11 Januari 2026.
Gunung
Semeru sebelumnya mengalami erupsi berupa luncuran awan panas sejauh 5
kilometer dari puncak kawah. Peristiwa tersebut menjadi luncuran awan panas
kedua dalam kurun tiga hari terakhir. Luncuran pertama tercatat terjadi pada
Jumat, 9 Januari 2026, dengan jarak luncur yang sama.
Kepala
Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Lumajang, Yudhi Cahyono, mengatakan dua
kali kejadian awan panas tersebut tidak menimbulkan dampak langsung terhadap
warga maupun permukiman.
“Kalau
dampak langsung tidak ada. Tidak ada laporan kerusakan ataupun korban jiwa,”
kata Yudhi saat ditemui di kantornya, Selasa 13 Januari 2026.
Meski
demikian, Yudhi mengakui luncuran awan panas yang terjadi pada Minggu malam
sempat memicu kepanikan warga Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan
Pronojiwo. Awan panas meluncur saat warga tengah beristirahat sehingga sebagian
warga berlarian keluar rumah karena khawatir terdampak.
“Memang
sempat bikin warga heboh. Banyak yang lari karena takut rumahnya terdampak,”
ujarnya.
Yudhi
menyebut potensi awan panas susulan masih terbuka mengingat aktivitas vulkanik
Gunung Semeru masih tergolong tinggi. Karena itu, BPBD meminta masyarakat tetap
waspada dan tidak panik, terutama warga yang tinggal di lereng Semeru serta
penambang pasir yang beraktivitas di aliran lahar.
“Tidak
menutup kemungkinan masih akan terjadi awan panas lagi. Warga kami minta tetap
waspada, utamanya yang setiap hari beraktivitas di area laharan,” kata Yudhi.
BPBD
Lumajang juga menyiagakan tim reaksi cepat (TRC) selama 24 jam di sekitar
lereng Gunung Semeru. Tim tersebut disiapkan untuk membantu evakuasi warga jika
sewaktu-waktu terjadi erupsi susulan.
Saat ini,
status aktivitas Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga. BPBD
kembali mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara
sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak kawah.
Selain itu, masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Wilayah tersebut berpotensi terdampak perluasan luncuran awan panas dan aliran lahar yang dapat mencapai jarak hingga 13 kilometer dari puncak Gunung Semeru. (hari)

0 Komentar