AGUS SETIAWAN: TAGLINE LUMAJANG EKSOTIK SEBAIKNYA DIGANTI DENGAN LUMAJANG BERSAHABAT



     Gagasan sekaligus kritik konstruktif dilontarkan Agus Setiawan saat talkshow di Radio Semeru FM, Sabtu (29/8) lalu, dengan tema Potensi Ekonomi dan Gairah Iklim Investasi Lumajang edisi 2, yang merupakan kelanjutan tema talkshow Sabtu pekan sebelumnya.   
     Setiawan berpendapat, Lumajang harus mulai mencanangkan sebagai kota yang bersahabat dengan investor. Kalau sebelumnya Kabupaten Lumajang diperkenalkan dengan tagline Lumajang Eksotik, maka ini jelas terkait dengan pariwisata. Apalagi bentuk logonya itu biasanya dipakai oleh objek wisata terkait dengan hutan dan lingkungan.
      Saat ini, kata Setiawan, tagline yang harus diperkenalkan yaitu Lumajang Bersahabat, sehingga siapa pun yang hadir ke Lumajang merasa nyaman karena Lumajang bersahabat.
Setiawan mengaku ketika ia berkunjung ke luar kota juga mempromosikan dan memperkenalkan Lumajang, namun tidak sedikit yang menanyakan tentang perilaku masyarakatnya apakah Lumajang rawan kriminal atau tidak.
      Setiawan menegaskan bahwa semua warga Lumajang adalah agen marketing, semua harus mampu memperkenalkan dan memasarkan daerahnya dengan baik. Warga Lumajang juga harus bersahabat dengan investor, bisa menarik pemodal agar bisa berinvestasi di   Lumajang agar warga Lumajang bisa sejahtera.
      “Kami selalu ingin menarik investor ke Lumajang, bolak-balik itu kita lakukan tapi   memang ada kendala. Namun, apa pun itu harus dilakukan oleh masyarakat Lumajang, yang jelas masyarakat Lumajang semuanya adalah marketing, agen marketing untuk kabupaten tercinta ini,” ujarnya.
      Karena itu Setiawan berharap agar semua warga Lumajang apabila keluar kota atau berinteraksi dengan orang luar kota sebaiknya melakukan gerakan marketing bersama, perkenalkan yang baik-baik tentang Lumajang, bahwa Lumajang punya potensi apa dan perkenalkan juga produk-produk Lumajang.
      “Jangan hanya bicara tentang pariwisata, karena tidak banyak investor yang bermain di sektor pariwisata. Lebih banyak bermain di sektor perdagangan, industri,
dan pengelolaan sumber daya alam,” ujar Setiawan.
      Dengan fakta itu Setiawan berhatap agar warga Lumajang bisa menawarkan produk unggulan atau produk lain seperti hasil perkebunan, bahwa Lumajang banyak kelapa, tebu, padi, banyak beras organik. Lumajang banyak gula kelapa, ikan, pasir, ternak, dan banyak macam-macam kentang, porang, kapulogo.
      Lumajang juga dikenal dengan produk pisang namun belum dikelola dalam sekala perkebunan. Saat ini pisang di Lumajang masih dikelola secara konvesional yakni baru dibudidadayakan di pekarangan-pekarangan masyarakat. Ini menurutnya perlu dikelola dengan baik dan skalanya diperbesar sehingga produk unggulan Lumajang dikenal oleh masyarakat luar dan kontinuitasnya terjaga.

      “Percuma kita ngomong tentang produk yang bagus kalau tidak kontinyu. Contoh kita ngomong beras organik di Lumajang tapi tidak bisa kontinyu. Skali panen habis, setelah itu ketika orang membutuhkan sudah tidak ada lagi, belum panen segala macam, tidak ada di gudang, tidak ada stoknya, ” ungkap Setiawan.
      Setiawan menegaskan kembali, untuk menarik investor dan meggairahkan perekonomian di Lumajang maka Image Marketing, Attraction Marketing, Infrastructure Marketing, People Marketing harus dijalankan. Saatnya masyarakat lokal atau masyarakat Lumajang bersahabat dengan investasi, bersahabat dengan investor, bersahabat juga dengan alam dan lingkungan. “Kita semuanya harus bisa memperkenalkan bahwa Lumajang bersahabat dengan investor,” pungkasnya. (TEGUH EKAJA)

 

Posting Komentar

0 Komentar