AGUS SETIAWAN: PERLU DUDUK BERSAMA UNTUK MENYELESAIKAN KASUS PT. LUIS



      Talkshow dengan tema Potensi Ekonomi dan Gairah Iklim Investasi Lumajang yang menghadirkan narasumber Agus Setiawan dalam program Ngopi Pagi di Radio Semeru FM, Sabtu (22/8) sebelumnya ternyata benar-benar seru. Bahkan potongan video talkshow tersebut viral, beredar luas, dan memantik reaksi pro kontra.
      Tidak sedikit yang mengkritisi pendapat Setiawan, namun banyak pula yangg bertepuk tangan dan mengacungkan jempol tanda setuju. Oleh karena itu, biar lebih tuntas, pada talkshow Sabtu (29/8) lalu, tema tersebut dibahas lagi lebih dalam. Terhadap potongan videonya yang viral itu, Setiawan menegaskan bahwa pa yang disampaikannya adalah berdasar pada kutipan para penanya dan penilaan masyarakat. 
 
SELESAIKAN DENGAN WIN-WIN SOLUTION
      Tentang aksi demo dalam kasus PT. Luis tersebut kembali disinggung oleh Setiawan setelah seorang pendengar Radio yang bernama Hasan dari Sumbersuko menyampaikan pendapatnya bahwa justru seolah-olah pemerintah sendiri yang tidak bisa menjaga stabilitas dengan adanya demo tersebut. Menjawab pernyataan ini Setiawan menyampaikan bahwa stabilitas keamanan sangat penting dalam upaya menghadirkan para investor di Lumajang. Jika masih ada kegaduhan dan kekisruhan, maka ini sangat mengganggu upaya tersebut.
      Setiawan mengatakan bahwa kajiannya tersebut tidak bermaksud menyinggung pihak-pihak tertentu, namun lebih pada memberikan sebuah pandangan dan alternatif penyelesaian agar semua saling diuntungkan dan tidak ada satu pihak yang dirugikan.
     “Teman-teman aktivis mengatakan kalau kita menentang dan berusaha menurunkan semangat mereka. Bukan begitu, tapi mungkin ada cara lain yang bisa ditempuh, tidak harus dengan cara aksi massa dan mohon maaf ini bukan berarti saya ingin mengendurkan semangat mereka. Kami berpikir mungkin masih bisa dilakukan cara lain supaya terjadi win win solution sehingga investasi tetap berjalan sementara pemerintah daerah dapat pajak, masyarakat dapat pekerjaan, aktivis bisa yakin lingkungan tetap terjaga,” ujar Setiawan.
      Ini tidak akan terjadi jika tidak duduk bersama dan tidak diketahui sampai kapan konflik ini berakhir jika masih saling adu kuat, apalagi Setiawan melihat sudah ada orang-orang yang dipanggil untuk dimintai keterangan.
       Ini perlu diperbaiki cara berkomunikasinya. Setiawan menyarankan agar duduk bersama menyelesaikan masalah tersebut. “Investor dalam hal ini PT. Luis butuh kepastian supaya mereka bisa  berusaha dengan baik. Aktivis lingkungan juga butuh lingkungan terjaga, bagaimana caranya ya dilakukan pengawasan dan pembinaan,” ujar Setiawan.
      Lebih lanjut Setiawan menegaskan bahwa pemerintah daerah bagaimanapun juga butuh investor, karena investor sudah pasti menyumbang PDRB (Produk Domestik Regional Bruto). Selain itu investor juga sudah pasti menghasilkan atau membuka lapangan pekerjaan, masyarakat sekitar juga akan mendapatkan manfaatnya.
      “Makanya sekarang terbelah di sana, ada yang pro ada juga yang kontra, suatu saat kalau ini terus terjadi kuat-kuatan akan terjadi gesekan di lapangan, itu yang tidak kita harapkan. Bukannya kami menantang para aktivis, kami juga bukan menentang para investor, juga bukan menentang Bupati, tapi hemat kami masih ada jalan tengah atau solusi lain yang bisa ditempuh,” ungkap Setiawan.
      Dengan duduk bersama mungkin semua itu bisa teratasi. Jika tetap adu kekuatan atau menempuh jalur hukum, maka tidak akan selesai-selesai, akan terjadi saling lapor dan saling menuntut.
 
TUGAS UTAMA MENYEJAHTERAKAN MASYARAKAT
      Keterangan Setiawan ini masih mengundang reaksi dari pendengar yang justru dengan tegas menanyakan bagaimana investor akan berkompetisi menanamkan modalnya di Lumajang jika situasinya terus ada gejolak di tengah masyarakat, dan ini tentu berimbas pada perekonomian di Lumajang. Hariyanto selaku presenter dalam talkshow tersebut mengatakan bahwa ia membacakan apa yang disampaikan pendengar. “Ini juga bukan saya yang ngomong lho ya,”  timpal Setiawan.
      “Kita perlu empati untuk berpikir seperti orang lain. Jadi apa yang terjadi kemarin saya sudah bertanya-tanya kepada teman-teman, masyarakat membaca situasinya seperti itu. Ini bukan saya, masyarakat membacanya itu kesannya ada politisasi di sana, ada langkah politik terkait dengan masalah ini. Ini kesan lho ya. Bukan saya menuduh, nanti saya dikira menuduh Bupati menggerakkan demo. Nggak begitu, tapi kesan yang dibaca oleh masyarakat terjadi politisasi. Contohnya baru saja penanya sudah ngomong seperti. Itu bukan saya yang ngomong ini. Saya bilang, hemat saya masih ada cara lain yang layak untuk ditempuh, tidak usah kuat-kuatanlah. Nomor satu adalah kesejahteraan masyarakat,” jelentreh Setiawan.
      Dalam menyelesaikan masalah dengan investor, Setiawan memberikan pandangan bahwa asasnya adalah kesejahteraan, sehingga diutamakan mencari jalan keluar terbaik bagaimana caranya masyarakat sejahtera. 
     “Tugas utamanya kan kita mensejahterakan masyarakat. Kalau gaduh seperti ini terus investor tidak mau masuk, tidak ada yang bisa dikembangkan dan yang menang adalah tengkulak-tengkulak nanti,” ujarya.
      Para tengkulak ini nanti akan membeli barang, sumber daya alam Lumajang dengan harga murah dan dijual lagi dengan harga mahal dan rata-rata mereka juga bukan orang Lumajang. Salah satu cara meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah adalah dengan menumbuhkan iklim investasi, sementara iklim investasi membutuhkan stabilitas politik, stabilitas sosial kemasyarakatan, membutuhkan keamanan dan membutuhkan perizinan yang mudah, murah cepat dan kepastian hukum. Lima hal ini menurut Setiawan harus dihadirkan oleh Pemerintah Daerah Lumajang kalau ingin investor masuk ke Lumajang.
      “Oleh karena itu, mari sekali-kali duduk bersama, diskusi bareng kemudian dengarkan bukan hanya dari kelompoknya saja, Pak Bupati mesti mendengar pihak lain. Semangat beliau itu sangat luar biasa, bisa kita lihat tidak banyak bupati yang mau jalan malam-   malam melakukan sidak. Ini termasuk salah satu yang luar biasa dan  itu harus kita dukung. Tapi mohon juga didengarkan suara-suara dari kelompok yang tidak dekat dengan beliau,” ujar Setiawan.
      “Suara-suara dari luar coba didengar, jangan-jangan lingkungan kita ini sedang salah, tapi merasa benar sehingga kita salah jalan karena kita tidak pernah mendengar orang yang berpikir lain sehingga terus-menerus terjadi konflik, tiba-tiba terjadi gesekan, tiba-tiba terjadi masalah hukum gara-gara seperti itu,” sambungnya.
      Setiawan mencontohkan ada beberapa kali Bupati Lumajang mendapat masalah seperti beberapa bulan lalu telah direpotkan dengan masalah ada pengacara yang diusir waktu audiensi dengan   warga Kalibendo dan melaporkan bupati ke Polres, meskipun ini sudah damai. Ada lagi masalah dengan koran Memo Timur, terjadi lagi kasus hukum sekarang ada lagi kasus gara-gara YouTube.
      “Energinya habis untuk hal-hal seperti itu. Nah ini yang harus dihindarkan, cari cara terbaik duduk bersama. Jangan kuat-kuatan. Cari solusi yang terbaik, supaya investor jalan, pemerintah daerah dapat pajak, masyarakat dapat kesejahteraan, lingkungan hidup terjaga itu caranya seperti apa saya rasa pasti bisa,” ujar Setiawan.
       Setiawan juga menjawab pertanyaan dari pendengar yang benama Ismail asal Nguter Pasirian. Ismail yang mengatakan bahwa Lumajang banyak memiliki keunggulan, namun saat ia merantau ke luar daerah. Ada teman-temannya yang menyinggung bahwa Lumajang adalah kota begal karena yang masuk TV adalah berita-berita kriminal dan kekisruhan saja.
      Setiawan tidak menyaalahkan komentar yang mengatakan bahwa Lumajang adalah kota begal dan banyak kriminalnya jika yang ditayangkan TV atau media lain berulangkali berita seperti itu saja. Bahkan saat ia menyampaikan ke mitra-mitranya di Surabaya kenapa tidak masuk ke Lumajang padahal di Lumajang banyak produk unggulan, namun mereka justru mengatakan bahwa di Lumajang banyak 32-nya (istilah untuk pelaku kriminalitas).
       “Saya tidak bisa bicara banyak, karena ini butuh tindakan nyata di lapangan bagaimana caranya kita mengemas Lumajang ini berubah dari kota yang tidak aman kita kemas supaya masyarakat di luar sana nanti mengenal Lumajang sebagai kota yang adem, ayem, nyaman, bersahabat dengan investor dan stabil,” ungkapnya.
       Setiawan kembali mengingatkan kepada masyarakat Lumajang agar bertindak sebagai marketing yang mempromosikan semua keunggulan Lumajang dengan baik. Ini perlu melibatkan semua kalangan.
     “Menarik kalau kita pelajari Banyuwangi. Di Banyuwangi itu bupatinya selalu bilang semua dinas, semua unsur pemerintahan itu adalah dinas pariwisata. Pergerakan mereka itu terprogram, semua program pemerintah fokusnya di pariwisata, harus terkait dengan pariwisata, misalkan event olahraga juga dikemas dengan pariwisata,” ujar Setiawan.
       Banyuwangi fokus di pariwisata karena mereka dekat dengan Bali, mereka sudah punya bandara, maka pantas kalau mereka fokus pariwisata. Demikian pula dengan Lumajang, maka harus dicari skala prioritasnya seperti apa. Ia menyarankan sebaiknya Lumajang kembali fokus pada bidang pertanian, yang memiliki keunggulan. (TEGUH EKAJA).

 

Posting Komentar

0 Komentar