AGUS SETIAWAN: BENTANGKAN KARPET MERAH UNTUK INVESTOR, JANGAN MALAH DIPERSULIT





      Tema "Potensi Ekonomi dan Gairah Iklim Investasi Lumajang" yang diulas pada talkshow di Radio Semeru FM, Sabtu (22/8) sebelumnya, ternyata mendapat respons beragam dari publik. Banyak pendengar yang minta agar tema tersebut lebih dipertajam lagi. Bahkan potongan video talkshow tersebut viral di media sosial, yang mengundang pro kontra. Oleh karena itu, Agus Setiawan setuju untuk membahas tema tersebut seri kedua pada talkshow Sabtu (29/8) lalu.
      Agus Setiawan yang dikenal sebagai pengamat ekonomi itu, dalam talkshow yang dipandu penyiar Hariyanto, S.Pd mengungkapkan bahwa untuk menciptakan iklim investasi di Lumajang tidaklah mudah. Untuk menggairahkan ekonomi dengan menciptakan iklim investasi yang bagus, perlu menggandeng kerjasama dengan berbagai pihak termasuk kerjasama dengan masyarakat. Jika tidak ada kerjasama yang baik dari seluruh komponen, maka investor yang masuk ke Lumajang dipastikan akan hengkang.
      Setiawan mencontohkan ketika ada investor yang mendirikan pabrik namun karena izin tidak segera keluar, akhirnya bangunannya terbengkalai. “Rugilah mereka dan mereka akan bercerita kepada teman-temannya juga sesama investor. Ini sangat merugikan bagi kita,” ujar Setiawan, yang juga menjabat sebagai Ketua MPC Pemuda Pancasila Lumajang itu.
Ia mengingatkan, investor yang masuk Lumajang pastilah investor yang memiliki jaringan, punya grup-grup dan punya perkumpulan. Ketika ada satu yang kecewa, dia akan menyebarkan kepada teman-teman pengusaha yang lain.
      Misalkan mereka mengatakan di Lumajang banyak premanisme atau kriminal, maka para investor akan berpikir dua kali kalau ingin masuk Lumajang. JIka mereka akan masuk ke Lumajang, mereka pun juga akan memakai preman untuk mengelola atau mengawasi tempatnya, dan ini adalah manajemen pengelolaan yang tidak profesional yang akan menyebabkan masalah atau konflik.
      Ini menurut Setiawan harus diatasi oleh pemerintah daerah. Jangan sampai terjadi gesekan konflik horizontal karena kesalahan manajemen tersebut. Oleh karena itu, menurut Setiawan, supaya investasi-investasi tumbuh dengan baik di Lumajang, pemerintah daerah mesti menunjukkan apa insentif yang diberikan jika investor mau masuk ke Lumajang.
 
INVESTOR CIPTAKAN LAPANGAN KERJA, BERI KEMUDAHAN BERINVESTASI
      Setiawan menegaskan, investor yang mau masuk ke Lumajang jangan sampai merasa dipersulit. “Harus dipermudah, kalau perlu Pak Bupati turun langsung memberikan kemudahan perizinan. Berikan karpet merah kepada mereka,” ujar Setiawan.
       Hal ini perlu dilakukan karena mereka akan melakukan perputaran uang di Lumajang.    Mereka juga akan membuka lapangan pekerjaan sehingga bisa mengurangi jumlah pengangguran di Lumajang. Yang terpenting saat investor masuk perlu berkomitmen, seperti ada prosentase pekerjanya yang harus diambil dari pekerja lokal, harus membuka rekening di Lumajang tidak boleh di luar daerah, juga diminta berinvestasi di Bank Pasar milik Lumajang. Karena itu, Pemkab harus membentangkan karpet merah untuk para investor, menciptakan iklim investasi yang bagus agar para investor tertarik masuk ke Lumajang, jangan malah dipersulit.
      Menurut Setiawan, investor asing mau kalau diajak duduk bersama yang penting mereka mendapatkan kemudahan. “Saya sebagai pengusaha juga sebagai konsultan bisnis dan manajemen telah banyak membantu perusahaan sehingga paham dengan situasi ini,” ujarnya.
      Pada dasarnya jika pengusaha dibantu dengan cara dipercepat izinnya saja mereka sudah sangat senang. Mereka akan menganggap pemerintah daerah itu sebagai saudara, sebagai sahabat. “Ketika mereka hanya dibantu dipercepat saja, tidak perlu macam-macam, mereka sudah happy, psikologinya sudah luar biasa senang,” kata Setiawan.
      Investasi tersebut kalau didukung dengan perizinan yang mudah, murah, dan cepat, dan sosial kemasyarakatannya juga mendukung, maka dipastikan investor akan berdatangan dan akan menciptakan lapangan pekerjaan baru. Selain itu mereka juga akan mendatangkan uang ke Lumajang sehingga warga Lumajang bisa terbantu kesejahteraannya.
      “Kita butuh para investor agar kesejahteraan kita meningkat. Kita butuh uang dari luar yang masuk ke Lumajang. Bukan seperti sekarang, uang dari Lumajang masuk ke daerah lain, itu harus dicegah minimal kurangi yang keluar supaya uang itu berputar di Lumajang, bisa digunakan untuk kegiatan usaha untuk kredit bank di Lumajang dan lain-lain,” ungkap Setiawan.
 
PENGAWASAN BERSAMA UNTUK MEMINIMALISIR KONLIK
      Bagaimana dengan investor atau perusahaan yang sudah beroperasi tapi pernah melanggar aturan seperti pencemaran lingkungan?
      Menjawab pertanyaan tersebut, Setiawan mengatakan bahwa semua itu sudah ada perangkat hukumnya. Namun yang perlu dilakukan adalah bisa duduk bersama dan yang terpenting lagi adalah pengawasan harus melekat.
      “Pengawasan dari pemerintah daerah harus terus-menerus, jangan ketika mereka sudah datang membuat pabrik dibiarkan. Ada pembiaran setahun, dua tahun dan tahu-tahu muncul masalah,” ujar Setiawan.
     Menurut Setiawan, karena tidak dilakukan pengawasan, maka instrumen hukum yang sudah ada tidak dilaksanakan dengan baik, akibatnya menimbulkan konflik di masyarakat.
      “Katanya kemarin di daerah timur ada satu pabrik kecil pengolahan kulit yang ditutup oleh warga, padahal pabrik ini sudah beroperasi lama dan tidak dilakukan pengawasan. Tahu-tahu sudah konflik, sayang sekali seharusnya mereka dibina sejak awal. Dikasih tahu   bagaimana caranya mengolah limbah dengan cara yang paling murah tapi baik hasilnya, supaya mereka tetap bisa beroperasi,” ungkap Setiawan.
      Setiawan menyayangkan peristiwa seperti ini karena saat ini mencari lapangan pekerjaan susah. Belum lagi ini dimata investor tidak baik, karena itu dengan investor yang kedapatan bermasalah dengan lingkungan hidup perlu duduk bersama.
      “Yang penting adalah pengawasannya dulu. Kalau investor masuk melakukan berbagai aktivitas pembukaan lahan dan lain-lain, ketika tidak diawasi terjadi pelanggaran biasanya pengusaha sendiri yaitu ownernya juga tidak tahu. Misalkan saya punya usaha dan menekankan tingginya disiplin, tapi orang saya ternyata di lapangan tidak disiplin akhirnya terjadi konflik dengan orang lain. Karena itu pengawasan penting tujuannya untuk meminimalisir konflik,” terang Setiawan.
      Setiawan kembali menekankan bahwa menumbuhkan iklim investasi perlu kerjasama semua pihak, tidak hanya pemerintah daerah tapi juga organisasi kemasyarakatan dan masyarakat itu sendiri. Semua harus bekerja sama melakukan pengawasan supaya tidak terjadi konflik kemudian hari. “Investasi bisa berjalan dengan baik, masyarakat juga bisa mendapatkan manfaatnya, lingkungan hidup juga harus dijaga bersama,” ujarnya.
 
STRATEGI MENINGKATKAN GAIRAH INVESTASI: IMAGE MARKETING, ATTRACTION MARKETING, INFRASTRUCTURE MARKETING, DAN PEOPLE MARKETING
      Setiawan memaparkan, banyak strategi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan gairah investasi. Yang pertama adalah Image Marketing, kemudian Attraction Marketing, Infrastructure Marketing, dan People Marketing.
      Image Marketing atau pencitraan, ini artinya Lumajang butuh pencitraan di luar. Lumajang harus bisa mengikuti event-event yang bisa mengangkat citra, seperti kegiatan expo di Jakarta, Surabaya bahkan mungkin di Singapura, Malaysia, dan lain-lain. Apa saja yang menjadi keunggulan Lumajang bisa dipamerkan dan perlu juga lakukan promosi-promosi potensi Lumajang sehingga dikenal oleh investor dari luar.
      Strategi kedua Attraction Marketing, yakni mengekspose potensi-potensi unggulan yang menarik di Lumajang. Ini perlu bekerjasama dengan masyarakat terutama msyarakat sekitar yang paham kira-kira potensi apa saja yang bisa dikembangkan, daya tarik apa saja yang bisa dikembangkan atau bisa diperkenalkan. Di Lumajang banyak daya tariknya selain sumber daya alam yang luar biasa wisatanya juga alamnya juga indah sehingga siapa saja yang tinggal di Lumajang akan merasa senang dan nyaman. Lumajang juga punya bangunan history sebagai cagar budaya seperti di Biting dan Jembatan Perak.
      Strategi berikutnya yakni Infrastructure Marketing. Terkait dengan Infrastructure Marketing ini tentunya pemerintah daerah harus mempersiapkan diri. Contohnya saat ini Lumajang akan mendapatkan berkah dari pembangunan infrastruktur pemerintahan Jokowi yakni pembangunan jalan tol Probolinggo-Lumajang yang akan dilanjut dengan tol Lumajang -Jember. Ini harus bisa dimanfaatkan sehingga Pemerintah Daerah Lumajang harus tahu apa yang harus dipersiapkan, supaya di sana nanti bisa tumbuh pusat-pusat ekonomi baru. Dari sekarang harus direncanakan, diperkenalkan dan ditawarkan kepada investor luar daerah dengan ditunjukkan site plan, blueprintnya dengan beberapa fasilitas yang disediakan.
      Strategi yang terakhir yakni People Marketing. Ini sangat penting karena orang Lumajang harus pintar memasarkan daerahnya sendiri. Ini bukan hanya tugas pemerintah daerah.
“Kami para pengusaha selama ini ingin selalu berusaha mengundang investor masuk ke Lumajang. Kami merasa banyak sekali sumber daya di Lumajang yang bisa dikembangkan. Itu kami lakukan sehingga ada beberapa yang berhasil masuk, tapi banyak juga yang tidak berani masuk,” ujar Setiawan yang menyebutkan ada beberapa investor yang enggan masuk ke Lumajang dengan berbagai alasan seperti jaminan perizinan dan keamanan.
      Masyarakat juga harus bisa menjadi agen pemasaran. People marketingnya ini harus dikelola dengan baik. Masyarakat sekitar harus mendukung dan kalaupun ada gesekan bisa diselesaikan dengan duduk bersama, jangan sampai gaduh atau kisruh supaya Lumajang ini dikenal sebagai kota yang adem, ayem, dan bersahabat dengan para investor. (TEGUH EKAJA)

 

Posting Komentar

0 Komentar