AGUS SETIAWAN: PERLU GERAKAN MASSIF MELAHIRKAN PENGUSAHA MUDA


      Tema Pemuda dan Peluang Usaha edisi kedua (lanjutan) kembali hadir dalam talkshow di Radio Semeru FM, Sabtu (4/7) pagi. Tema ini dipilih lantaran dalam pembahasan Sabtu pekan sebelumnya, masih banyak pendengar radio yang meminta tema tersebut dipertajam lagi.
      Mengawali talkshownya, Agus Setiawan seorang pakar ekonomi yang juga pengusaha sukses Lumajang, dalam program Ngopi Pagi yang dipandu Hariyanto, S.Pd, kembali mengulas tentang ketertinggalan Indonesia dibanding negara lain dari sisi jumlah pengusahanya.
Pemerintah dan masyarakat menurut Setiawan harus bergandengan tangan dengan dunia swasta untuk mengorganisir bagaimana caranya supaya pertumbuhan jumlah pengusaha bisa dipercepat untuk mengejar ketertinggalan tersebut.
      “Kita idak bisa terlalu menggantungkan diri kepada pemerintah atau belanja pemerintah untuk menggerakkan ekonomi,” ujarnya. “Kita butuh dunia swasta, dan dunia swasta juga butuh para pengusaha, karena bagaimanapun juga merekalah yang menggerakkan kegiatan transaksi jual-beli dan lain-lainnya,” sambungnya.
      Pada kesempatan talkshow tersebut Setiawan mendorong para pemuda untuk segera melakukan eksekusi, segera bertindak mengambil keputusan memulai usahanya. Bagi yang sudah punya niat dan sudah punya ide maupun memikirkan sebaiknya segera berani bertindak, karena usaha yang baik itu bukan usaha yang dipikirkan atau yang hanya dibicarakan, tapi usaha yang baik adalah yang mulai dilaksanakan.

KEGAGALAN LANGKAH MENUJU KEBERHASILAN
      Tidak usah takut gagal adalah hal yang sering diutarakan Setiawan. Seorang usahawan itu pasti menemui masalah dan tantangan, juga bisa mengalami kegagalan. Tapi kegagalan adalah satu langkah menuju keberhasilan. “Jangan kecil hati, perbaiki sehingga kita akan bisa menapak lebih jauh lagi dan pasti kita menemukan jalan keberhasilan di depan sana,” ujar Setiawan.
      Setiawan berani berbicara seperti ini karena dirinya sudah pernah mengalami beberapa kali kegagalan yang membuatnya termotivasi dan penasaran bagaimana rasanya berhasil mewujudkan ide-ide yang dipikirkan selama ini.
      Memang tidak mudah merangsang generasi muda untuk mau berusaha. Setiawan melihat ada kecenderungan para pemuda disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang lebih mengarah ke hedonisme.
“Mereka lebih suka main game dibanding membaca artikel atau membaca buku. Mereka lebih suka main bilyard dibanding olahraga. Ada juga yang lebih suka nongkrong-nongkrong tidak jelas bahkan menghabiskan waktu semalam suntuk hanya untuk nongkrong saja,” ujar Setiawan.

PERLU GERAKAN MASSIF
      Tidak sedikit pemuda yang lebih sibuk mengikuti tren yang sedang viral dibanding menyibukkan diri untuk menambah kualitas dirinya sendiri. Ini ujar Setiawan perlu dorongan dari pemerintah, baik itu pemerintah pusat, provinsi, daerah dan pemerintah desa, dan perlu gerakan yang massif sebagai bentuk rekayasa masyarakat agar para pemuda terdorong dan mengerti bawa mereka harusnya sudah mulai terjun ke dunia usaha.
      “Di desa itu banyak peluang, minimal pasarnya sudah jelas yaitu masyarakat desa sendiri. Di desa juga pasti sudah ada orang-orang yang juga berusaha, ada pula minimarket dan lain-lain,” ujar Setiawan.
      Persaingan memang menyulitkan untuk memulai usaha, tapi Setiawan menegaskan agar tidak berkecil hati karena peluang itu banyak sekali. Caranya dengan mencari apa kebutuhan manusia yang belum tercukupi. Mereka sedang menghadapi masalah apa, kekurangan itu yang perlu dicarikan solusinya. Setelah solusinya ketemu, maka selanjutnya pikirkan ide usaha untuk memenuhi semua kebutuhan tersebut. Suatu masalah bila bisa menemukan solusinya dan bisa menawarkan konsep, maka semua itu akan bisa di monetize, bisa diuangkan atau bisa dijadikan peluang usaha.
      Saat ini memang dibutuhkan character building sejak dini untuk memjadi pengusaha. Di desa bisa menggerakkan karang taruna dengan menggerakkan Bumdes (Badan Usaha Milik Desa), melatih anak-anak muda untuk berkreasi dengan training-training yang dimediasi oleh pemerintah bekerjasama dengan LSM yang memang peduli dengan generasi muda.
      “Apabila gerakan yang massif ini tidak dilakukan, tentu saja tidak akan bisa menarik perhatian para pemuda. Ujungnya mereka tetap tenggelam dalam aktivitas sehari-hari yang tidak mendatangkan keuntungan apa-apa,” ujar Setiawan menjelaskan bagaimana caranya menggerakkan pemuda agar bisa tergugah untuk melakukan kegiatan positif yang bisa menghasilan uang.
      Dalam talkshow ini tidak hanya para pemuda, orang tua banyak yang menyimak bahkan mereka curhat dengan apa yang dialaminya. Contohnhya yang disampaikan pendengar yang bernama Pak Ahmadi dari Sumbersuko. Anaknya sudah mencoba membuat usaha perkayuan, namun justru merepotkan orang tuanya karena sering ditinggal bermain.
      Menjawab pertanyaan ini Setiawan mengaku prosesnya memang tidak mudah. Ia mencontohkan pengalaman hidupnya yang diawali dengan keterbatasan ekonomi, namun sejak SMA ia sudah diajari untuk menciptakam sesuatu oleh orang tuanya dalam bentuk project kecil-kecilan. Contohnya Setiawan diajarkan untuk membuat box sound system sendiri. Setiap pulang sekolah langsung mengerjakan project tersebut dan baru boleh main kalau sudah jam 4 sore waktu istirahat.
      “Habis magrib selalu diajak oleh bapak saya untuk ngobrol dari hati ke hati. Beliau memberikan banyak masukan kepada saya untuk mulai berpikir tentang masa depan, nanti gedenya mau jadi apa,” kisahnya.
      Pertama-tama yang harus didahulukan di kalangan para pemuda dalam membuka pikiranya adalah mengingatkan kepada mereka bahwa pemuda tidak bisa selalu menggantungkan diri kepada orang tua. Ada saatnya di mana seorang pemuda dan pemudi itu memikul tanggung jawab menggantikan kedua orang tuanya.
      “Harus segera mulai disadarkan pada anak muda, diajak ngobrol dari hati ke hati,” ujarnya. Kebanyakan di keluarga itu menurut Setiawan adalah kurangnya komunikasi. Kalaupum komunikasi terjadi, bisanya komunikasi top-down atau dari orang tua memerintah anaknya. Akibatnya anak-anaknya itu cenderung melawan, cenderung defensif, dan mereka cenderung terpengaruh teman-temannya.
      Pemuda yang ‘mbandel’ menunjukkan eksistensinya melawan orang tua dengan cara bermalas-malasan. Atau sebaliknya terkadang orang tua terlalu memanjakan anaknya, akibatnya sang anak jadi terlalu manja, anak hanya mengejar apa yang dia suka. Kalaupun diajari bekerja biasanya anak seperti ini akan mengerjakannya seadanya.
      “Kalau mereka tidak mau bersiap sejak dini, mereka akan terlibas, ketinggalan, dan ketika mereka terjun ke dunia usaha mereka akan kaget karena dia melihat teman-temannya sudah sukses, sehinga dia minder. Akibatnya akan jadi lebih malas lagi,” terang Setiawan.

BONUS DEMOGRAFI
      Pemerintah telah memiliki data tentang pemuda. Banyak program yang sudah diluncurkan dalam rangka pembinaan anak muda ini, namun kelemahan pemerintah menurut Setiawan adalah aplikasi di lapangan lemah. Karena itulah perlu dorongan agar aplikasinya di lapangan yang dioptimalkan dan diprioritaskan, karena tumpuan masa depan adalah para pemuda.
      “Kalau para pemuda tidak segera dibantu sejak dini, maka beberapa tahun ke depan Indonesia akan kelebihan anak muda,” ujar Setiawan sambil menerangkan bahwa saat ini Indonesia sedang menghadapi bonus demografi, yaitu masa ketika jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih besar daripada jumlah penduduk usia tidak produktif (berusia dibawah 15 tahun dan diatas 64 tahun).
Jika itu tidak dimanfaatkan, kata Setiawan akan jadi bumerang. Anak muda tidak menjadi peluang namun sebaliknya justru akan menjadi beban. Oleh karena itu pemerintah Jokowi sejak dini sudah membahas tentang bonus demografi ini, tentu pemerintah daerah harusnya bisa segera mengeksekusi program-program yang bisa membantu anak muda agar lebih maju. Caranya dengan mengkaryakan karang taruna, membentuk Bumdes, mempercayakan beberapa tanggung jawab kepada anak-anak muda seperti bekerjasama dengan organisasi kemasyarakatan yang ada di Lumajang.
      Pemrintah juga bisa memberikan pelatihan-pelatihan tentang peluang usaha, memberikan pelatihan bagaimana cara berusaha yang baik dan benar dan yang penting ujar Setiawan adalah memberikan kemudahan perizinan. “Kemudahan perizinan paling penting, karena anak muda tidak mau ribet dengan yang namanya perizinan, ini tipe-tipe generasi milenial dan generasi Z,” tegas Setiawan.
      Di akhir ulasannya, Setiawan mengatakan bahwa anak muda adalah tumpuan masa depan bangsa. Anak muda tidak boleh terjebak pada rutinitas yang tidak mendatangkan apa-apa, tidak mendatangkan manfaat. Sekarang adalah waktunya anak muda untuk belajar bagaimana cara menjadi seorang pengusaha, belajar bagaimana cara bekerja, bagaimana cara berkhidmat dan bermanfaat untuk masyarakat sekitar.
      Anak muda harus didukung penuh baik oleh pemerintah, orang tua maupun oleh lembaga-lembaga yang memang konsen di bidang kepemudaan. “Harapan kita pemerintah bisa mengaplikasikan program yang bisa kita rasakan kehadirannya di masyarakat, tidak hanya sekedar seremonial yang tidak ada follow upnya,” ujarnya.
      Anak muda juga harus mengerti bahwa berusaha kadang memang kelihatannya tidak keren di awalnya, tapi ketika mendapatkan keberhasilan baru akan mendapatkan kebanggaan. Jangan pernah memiliki sifat-sifat yang malu, iri dan lain-lain. “Ketika kita ingin berusaha, kita harus membuka pikiran kita, mulai wacanakan kita ingin meng-create masa depan kita seperti apa, apakah kita ingin masa depan kita sukses atau tidak itu tergantung masa sekarang,” terang Setiawan.
      Karena itulah program-program pemberdayaan anak muda sangat dinantikan oleh masyarakat. Lembaga-lembaga yang konsen di dunia kepemudaanpun sudah waktunya terjun ke masyarakat untuk mengajak anak muda agar bisa berkarya. “Tetap semangat, tetap positif thinking, jangan pernah takut akan kegagalan, jangan pernah takut akan kebangkrutan tetap berusaha, gandeng kawan-kawan yang satu visi dan misi, mulailah segera berusaha. Usaha yang baik bukan usaha yang selalu dibicarakan tapi usaha yang baik adalah usaha yang segera dijalankan, “ pungkasnya penuh semangat. (TEGUH EKAJA).

Posting Komentar

0 Komentar