AGUS SETIAWAN: SAATNYA PEMUDA LUMAJANG MENJADI PENGUSAHA


     Sebuah fakta menunjukkan bahwa Indonesia saat ini kekurangan wirausaha atau pengusaha muda.  Dibandingkan dengan negara-negara lain,  Indonesia jauh tertinggal. Itulah yang diungkap Agus Setiawan, seorang pakar ekonomi yang juga pengusaha sukses Lumajang saat mengawali  talkshow di Radio Semeru FM  dalam program Ngopi Pagi  yang dipandu Hariyanto, S.Pd, Sabtu (26/6).
     “Menurut data Kementerian Perindustrian, di Indonesia hanya ada sekitar 2 sampai 3 juta wirausaha atau pengusaha,  padahal setidaknya idealnya Indonesia sesuai kebutuhan harusnya minimal memiliki 5 juta pengusaha,” ungkap Setiawan.
     Minimnya jumlah pengusaha di Indonesia karena mindset pemudanya sejak semula adalah menjadi pegawai atau semacamnya. Akibatnya angka wirausaha muda di Indonesia tidak sesuai dengan kondisi yang diperlukan.  Saat ini diakui atau tidak, menurut Setiawan, ekonomi Indonesia ditopang oleh para pengusaha besar dan konglomerasi.
     “Karena itu mulai sekarang ayo para pemuda isi pikiran kita dengan motivasi-motivasi untuk memulai usaha,” ajaknya. Setiawan mengakui tidak semua orang memiliki modal usaha,  namun tidak semua orang yang akan memulai usaha itu langsung punya modal. Ia kemudian menceriterakan beberapa orang yang sukses menjadi pengusaha besar dengan diawali usaha kecil-kecilan,  dan bahkan tidak sedikit yang berawal dari modal pinjam atau ikut bekerja ngawulo ke orang lain.
     Bagi yang tidak memiliki modal, banyak cara untuk memulai usaha seperti sharing modal dengan orang lain. Atau bisa memanfaatkan peluang lain seperti bisnis online (pernah dibahas di acara talkshow sebelumnya).  Selain itu ada banyak pekerjaan bagi para pemuda,  contohnya menjadi copywriter atau penulis untuk konten website, freelancer di internet, entrepreneur atau hal lain yang bisa menghasilkan uang dan pengalaman.
     Setiawan juga mengingatkan sekarang ini hampir semua pemuda ataupun pemudi  memiliki handphone. Kata Setiawan,  harusnya bisa dioptimalkan untuk kegiatan yang bisa bermanfaat menambah income,  seperti  dropshipping yaitu menawarkan barang orang lain  atau pihak ke 3, dan jika ada pembeli maka pihak ke tiga tersebut yang akan mengirim ke pembeli, sementara pembeli transaksinya denga kita dan kita bertransaksi dengan pihak ke tiga dengan harga di bawahnya.
     “Yang terpenting para pemuda harus bisa membaca peluang yang ada untuk memulai usaha baik yang berskala kecil maupun berskala besar,” ungkap Setiaan sembari menegaskan agar pemuda tidak takut untuk memulai usaha.

UBAH MINDSET


      Setiawan mengamati, tidak banyak orang yang mengajarkan anaknya untuk berusaha mulai kecil. Para orang tua merasa berhasil jika anaknya menjadi pegawai negeri atau pekerja lainnya,  sehingga ini juga berpengaruh kepada mindset anaknya kelak.
     Banyak orang tua yang tidak melatih anaknya untuk berwirausaha. Namun kadang ada yang tidak menyadari ada orang tua yang telah melatih anaknya untuk berwira usaha, seperti orang tua yang memiliki wirausaha toko sehingga anaknya bisa berlatih sambil membantu orang tuanya.
     Setiawan menyayangkan saat ini banyak pemuda yang menyia-nyiakan waktunya, banyak yang menghabiskan waktunhya untuk jalan-jalan, nongkrong, main di karaoke, melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat yang beraroma maksiat dan bahkan banyaknya yang terjebak narkoba.

KESUKSESAN BUTUH TANGGUNG JAWAB


     Pemuda yang tidak baik, menurut Setiawan, tidak menyukai perubahan sehingga dia tetap ingin berada di zona nyaman. Ketika melihat temannya ingin maju dengan perubahan yang baik dan menjadi sukses, dia merasa tidak suka dan akan merasa dikhianati, sehingga menjauhi teman-temannya yang seperti itu. Akibatnya tinggal dia sendirian dan akhirnya depresi, tidak bisa mencapai kesuksesan. “Di lingkungan kita,  juga sering kita temui pemuda-pemuda yang seperti itu sehingga masa tua dia tetap nganggur, tetap menjadi beban orang tua,” ujar Setiawan.
     Menurut Setiawan, pemuda yang baik ketika dia bercengkerama dengan teman-temannya yang satu visi akan bicara tentang ide bagaimana cara merealisasikan apa yang mereka bicarakan, tapi pemuda yang biasa-biasa saja hanya akan rasan-rasan alias suka nggosip. “Maaf sekarang yang suka rasan-rasan tidak hanya perempuan,  tetapi pemuda laki-laki juga suka dan bahkan menyalahkan orang lain,” ujarnya.
     Ia sangat menyayangkan, ada sejumlah pemuda yang lantaran memiliki kedekatan dengan penguasa, tapi sukanya rasan-rasan atau nggosip, dan memanfaatkan kedekatannya itu dengan memproduksi kenyinyiran-kenyinyiran yang justru merendahkan derajat sang penguasa tersebut.
     Setiawan menegaskan, pemuda yang baik bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan, baik itu ucapan maupun tingkah laku. “Pemuda yang biasa-biasa saja dia bukannya mau bertanggung jawab, malah dia menyalahkan orang lain untuk sebuah kesalahan yang dia lakukan. Ini yang tidak boleh dilakukan oleh seorang pemuda yang baik. Jangan terbiasa mencari pembenaran atas kesalahan yang dilakukan. Cobalah untuk mengakui bahwa kita bertanggung jawab apapun resikonya. Kalau kita terbiasa punya mental yang seperti insyaallah pasti sukses,” jelentrehnya.
     Kesuksesan itu, ujar Setiawan, membutuhkan orang-orang yang bertanggung jawab. Membutuhkan sikap berani bertanggung jawab atas kesalahan maupun atas apapun yang telah diperbuat. “Sedikit tips untuk teman-teman pemuda, mulailah membuka wawasan, mulai membuka pikirannya dan mulai menentukan saya harus apa,” sarannya.

MEMBANGUN KARAKTER

     Saat ini, lanjut Setiawan, yang terpenting adalah penguatan character building (membangun karakter) kepada anak-anak muda yang masih menempuih ilmu di bangku sekolah atau kuliah. Untuk pemantapan character building caranya adalah belajar, yang dimaksud adalah belajar berbagai hal seperti belajar merencanakan sebuah project.
     Untuk mempelajari itu semua dituntut gemar membaca buku ataupun internet. “Kita buka situs atau literatur-literatur yang biasa membuat kita semakin maju,” ujarnya. Setiawan mengatakan bahwa membaca buku harus dilatih,  karena ketika pertama kali membaca buku biasanya mudah mengantuk. Namun itu tidak apa-apa selanjutnya jika sudah bangun sebaiknya dilanjutkan lagi membacanya.
     “Character building penting dan tidak bisa kita serahkan sepenuhnya kepada orang tua maupun lembaga pendidikannya,” ujar Setiawan. Untuk membangun karakter menurutnya harus ada intervensi dari pemerintah.
     Diakuinya bahwa pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga, telah melakukan intervensi dan memperhatikan masa depan pemuda dengan program kepemudaan dan program peningkatan usaha wirausaha muda.
     Pemerintah harus menjadi booster,  artinya pemerintah perlu nge-drive anak-anak muda untuk mau berusaha dengan cara memberikan kemudahan-kemudahan perizinan. Perizinan wajib dijamin dan diberikan oleh pemerintah jangan justru dihalang-halangi atau dipersulit.
     Pemerintah harus memberikan bantuan permodalan seperti pinjaman lunak, jangan hanya di usaha tertentu saja.  Kalau perlu, ujar Setiawan,  harus diperluas ke usaha lainnya.  Ia mengkritisi soal dana Lumajang yang kurang lebih Rp 69 miliar digelontorkan untuk objek wisata yang ternyata hingga kini belum mampu mendongkrak PAD karena sepinya pengunjung. Harusnya dana sebesar itu bisa dimanfaatkan untuk memperkuat usaha bagi pemuda-pemuda Lumajang.
     Dengan banyaknya pemuda Lumajang yang terbantu untuk usaha,  maka diharapkan perekonomian Lumajang juga meningkat. Selain pajak yang bisa diambil dari pengusaha muda ini, ekonomi Lumajang juga bisa tumbuh merata. “Jika rakyatnya sejahtera,  maka objek wisata juga akan ramai karena rakyatnya ada alasan untuk rekreasi,” ujar Setiawan.
     Namun Setiawan juga mengingatkan agar pemuda Lumajang tidak terlalu berharap dengan bantuan atau intervensi dari pemerintah. Pemuda harus sudah berfikir untuk memulai usaha meski dengan modal minim. “Kalaupun kita belum memiliki modal untuk memulai usaha, kita bisa ikut orang sehingga kita tidak memaksakan diri untuk memulai usaha sendiri,” ujarnya.
     Ia menuturkan jika kerja ikut orang itu tujuannya untuk menimba ilmu. “Kecuali kita profesional kerja di perusahaan, kita memang profesional dan bisa berkarier di sana kalau memang kita ingin berwirausaha maka itu bisa jadi batu loncatan,” imbuhnya.
     Selain itu bagi yang bermodal minim, dalam usaha bisa melakukan kolaborasi, sharing modal. “Jangan ingin jadi single fighter karena resikonya tinggi dan kapasitasnya terbatas,” tukasnya. Setiawan juga mengingatkan agar yang mau memulai usaha untuk paham dan menguasai bidang usahanya. “Kalau usanya ikut-ikutan, saya jamin pasti mengalami kegagalan apalagi kalau ikut-ikutan tanpa melalukan modifiksi produk,” ujarnya.
      “Jangan mudah menyerah, jangan selalu terhambat oleh modal, karena banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan uang. Adaptasi ke lingkungan kita sehingga kita bisa membaca banyak ruang yang bisa kita jadikan sumber penghasilan kita,” ujar Setiawan mengakhiri pemaparannya. (TEGUH EKAJA)

Posting Komentar

0 Komentar