ZAINUL ARIFIN: TOKOH PEMUDA SARAT PRESTASI DAN KARYA



      Zainul Arifin adalah sosok pemuda kelahiran pinggiran Kota Lumajang, tepatnya di Dusun Pasinan, Desa Karang Bendo, Kecamatan Tekung, berjarak kurang lebih 7 kilometer dari Alun-alun Lumajang. Ia merupakan tokoh pemuda inspiratif yang sarat dengan prestasi dan karya. Membawa nama harum Lumajang, bahkan hingga ke tingkat nasional. Saat ini Zainul dipercaya menjadi Manajer Gajah Mada Hotel and Resto di Lumajang.
      Pada Selasa (14/4) malam, Zainul diundang Radio Semeru FM untuk menjadi bintang tamu pada acara Bincang Bincang Santuy (BBS). Uniknya saat membuka perbincangan, Zainul justru mengaku sudah tidak masuk kategori pemuda lagi karena Februari lalu dia sudah lewat batas usia pemuda. “Secara hukum saya sudah tidak masuk kategori pemuda,” ujar Zainul seraya mengutip Undang-undang Nomor 40 Tahun 2009 Pasal 1 Ayat 1 yang menyatakan bahwa usia pemuda antara 16 - 30 tahun. Namun Zainul mengakui UU ini masih menuai kontroversi dan banyak pihak yang menggugat, mengingat keputusan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang terbaru mengkategorikan usia pemuda antara 18 sd 65 tahun.
      Zainul mengaku tertarik bergaul atau beraktivitas kepemudaan karena ada sesuatu yang berbeda. Usai lulus SMK tahun 2007, ia lantas mendidrikan Culture Indonesia Organitation (CIO) yang bergerak di bidang kebudayaan dan pendidikan outbound.
Zainul lebih fokus pada seni budaya yang menggambarkan keaslian daerah. “Budaya itu tidak terbatas pada tarian, musik, tetapi budaya itu mulai dari cara berbicara, cara bertindak disajikan sesuai dengan ciri khas Indonesia,” ujarnya. Menurut dia cangkrukan di warung kopi atau perilaku lain yang menjadi kebiasan hidup masyarakat tanpa didesain atau rekayasa adalah budaya.
      Berangkat dari budaya yang ada di Lumajang, maka Zainul bersama beberapa kawannya mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama CIO tadi. Organisasi ini tanpa adanya pungutan apapun.
Perjuangan Zainul ini tidak semulus yang dibayangkan. Tidak sedikit yang mencibir karena ide anak dusun ini dianggap terlalu berlebihan. “Itu ada dinamika yang harus saya terima,” ungkapnya sambil menegaskan ketika ada ‘spesies’ baru pasti ada dua hal yang muncul, kalau tidak apresiasi ya sebaliknya.
      “Tapi kita tidak perlu bicara soal perbedaan, karena perbedaan itu sudah ada di manapun. Yang perlu diperbincangkan yaitu Tunggal Ika-nya,” tegas Zainul.
Ketika ditanya siapa yang berpengaruh pada hidupnya yang membuat pemuda dusun mampu mewarnai budaya Lumajang, Zainul menyebut beberapa nama mulai dari guru dan pembina pramuka saat SMP dan SMK. Pelatih di beberapa organisasi yang diikutinya, termasuk Bunda Indah yang pernah menjadi pentolan pramuka di Lumajang.
      “Di SMP ada Pak Asik Suyono, Bu Dwi Suwarsiningsih, Mbah Dimo, Mas Priyo, Mas Sulkhan, Mas Hendra, dan sebagainya. Termasuk Bunda Indah dulu kami memanggilnya Kak Indah sebagai pembina pramuka, dan sekarang beliau jadi Ketua Kwartir Cabang Pramuka ,” kenang Zainul. 

      Selain itu, didikan orang tuanya yang keras membuat Zainul remaja menjadi pribadi yang tangguh. Zainul pernah diingatkan orang tuanya karena jarang pulang lantaran sibuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka, pecinta alam dan kesenian. Bahkan Zainul jadi bahan pergunjingan tetangga karena jarang pulang. Orang tuanya jadi risih dan menasehati Zainul agar mengurangi aktivitasnya di luar rumah. Dia mengaku merasa kecewa, namun akhirnya setelah dewasa dia menyadari betapa kasih sayang orang tuanya dirasakan saat itu dan nasehat-nasehatnya adalah demi masa depannya.
Pendidikan dan Prestasi
      Zainul adalah lulusan SMPN 3 Grati, Lumajang. “Ini adalah sekolah olahraga. Saya sering olahraga lari dikejar guru karena terlambat masuk sekolah,” selorohnya. Usai lulus SMP, Zainul melanjutkan ke SMKN 1 Lumajang jurusan perkantoran.
Zainul juga banyak meraih prestasi sejak remaja. Diawali dengan juara pertama lomba membaca doa tingkat kabupaten saat SMP (tahun2003). Saat di SMK, meraih juara pertama lomba pidato di Polres Lumajang dalam rangka Hari Bhayangkara, berlanjut juara pertama tingkat Polwil Malang.


      Waktu di SMK ini pula Zainul juga mendapat penghargaan dari Gubernur Jatim sebagai ketua koperasi sekolah berprestasi. “Padahal di SMK ada jurusan koperasi, saya jurusan perkantoran. Tapi saya yang dipercaya mengelola koperasi sekolah,” tukasnya. Saat SMK pula Zainul pernah mewakili kontingen pramuka Jawa Timur ke tingkat nasional.
Lulus SMK, pemuda aktif ini melanjutkan ke program Diploma 2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Jember. Sambil kuliah, ia mengabdi di almamaternya, SMJN 1, mengajar komputer dan membantu di bagian tata usaha sekolah. Selain itu, dia juga mengajar di sebuah madrasah ibtidaiyah serta memberi motivasi di sekolah Katolik. Dari sinilah Zainul membiayai sekolahnya hingga lulus D2 PGSD.
      “Orang tua menyatakan pendidikan saya setelah SMK sudah cukup. Selanjutnya orang tua harus membiaya sekolah adik-adik,” ungkap Zainul sehingga dia harus mencari biaya sendiri jika ingin kuliah. Belakangan ia melanjutkan kuliahnya ke tingkat sarjana (S1) di Universitas Wisnuwardhana, Malang. Bahkan, kemudian Zainul juga berhasil lulus Magister Manajemen (S2) dari Universitas Drs. Soetomo, Surabaya.
      Aktivitas Zainul yang sarat dengan gagasan, baik dari kegiatan berkesenian maupun aktivitas lainnya, sempat menarik perhatian Pemerintah Daerah Kabupaten Lumajang. Zainul kemudian diajak bergabung di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Lumajang yang waktu itu zaman pemerintahannya Bupati Dr. H.Sjahrazad Masdar, M.A (kakak kandung Bunda Indah).
      Waktu itu Zainul membuat kelompok kesenian yang berorentasikan musik Danglung (Pandalungan), musik khas Lumajang. Kelompok ini didaftarkan di Dispora. Pada akhirnya, tahun 2015 ada lomba pemuda pelopor, dan Zainul terpilih sebagai pemuda pelopor di Lumajang. Ia kemudian dikirim ke tingkat Jawa Timur dan kembali menjuarai lomba ini. Bahkan untuk tingkat nasional, Zainul masuk terpilih 5 besar pemuda pelopor nasional.
      Pada tahun berikutnya yakni 2016, ada even SATU Indonesia Awards, dan Zainul Arifin mendapat penghargaan nasional bidang pendidikan. Ia saat itu mengangkat pendidikan kearifan lokal melalui sadar wisata dan kesenian lokal daerah. Soal kesenian daerah ini Zainul membawa kentongan dan kenong telok, yang ia sebut sebagai musik Danlung.
     
Saat penjurian final, Zainul sempat ditanya oleh salah seorang juri yaitu Profesor Emil Salim, “Kok anda PD (percaya diri) dengan musik itu (Danglung). Ya saya jawab bagaimana kita bisa mencintai Indonesia seutuhnya kalau kita tidak mencintai daerah. Salah satu indikator mencintai daerah yaitu mencintai potensinya, dan salah satunya potensi yang kami miliki ya musik Danglung ini,” kenang Zainul saat diinterview Emil Salim.
      Tidak putus sampai di situ, Zainul juga ditanya soal seberapa kuat pengaruh kearifan lokal terhadap lingkungan dan Indonesia. "Kita bisa disebut orang Aceh karena di sana ada Tari Saman. Ketika disebut Reog Ponorogo, jelas itu dari Ponorogo. Demikian pula saat ada musik Danglung, maka jelaslah itu adalah Lumajang. Dengan mencintai musik lokal, maka akan tumbuhlah cinta atas lingkungannya,” ungkap Zaiunul menjawab pertanyaan juri Emil Salim waktu itu.
      Seperti diketahui Profesor Emil Salim adalah Guru Besar UI yang pernah menjabat Menteri Linkungan Hidup selama 2o tahun di era Soeharto. “Selain Profesor Emil Salim, juri even SATU Indonesia Award saat itu ada Tri Mumpuni Wiyatno dan Profesor Fasli Jalal,” ujarnya. Fasli Jalal pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
      Zainul yang saat itu dijuluki seniman nasional dari Jatim mendapat apresiasi atas programnya dalam memberdayakan masyarakat desa untuk membangun destinasi wisata. Program ini dinilai telah menumbuhkan usaha ekonomi baru dengan keterampilan yang dimiliki masyarakat sekitar (dimuat TEMPO.CO, Kamis, 27 Oktober 2016).
Pada tahun 2017, Zainul dikirim ke Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) selama satu bulan menjadi duta pemuda kreatif Kemenpora, dan menjadi pemateri saat kirab pemuda Indonesia dengan para Menteri.



Seni Danlung
      Zainul begitu hafal sejarah kesenian Danlung, yang lahirnya seiring dengan sejarah Lumajang. Sejarah Lumajang dimulai zaman Ratu Nararya Kirana di Kerajaan Gedong Putri Candipuro, Arya Wiraraja di Kerajaan Lamajang Tigang Juru (Majapahit Timur), hingga pada akhirnya muncul budaya Pandalungan yang merupakan perpaduan antara budaya Jawa dan Madura.
      Zainul menjelaskan, Lumajang bagian utara didominasi suku Madura, bagian selatan dominan suku Jawa, dan bagian tengah sekitar kota banyak perpaduan suku Jawa dan Madura. Perpaduan dua suku inilah yang disebut dengan Pandalungan, dan budayanya dikenal dengan sebutan Pandalungan.
      Irisan budaya Jawa dan Madura ini kemudian melahirkan kesenian khas Lumajang, yang dikenal dengan musik Danglung (kependekan dari Pandalungan). Suaranya khas dominan kentongan. Dulu musik Danlung biasa dipakai untuk aduan burung dara.
Musik Danglung menurutnya adalah musik tradisional yang sudah dikenal di Lumajang sejak tahun 50-an. Unsur alat musik yang ada dipakai diantaranya ada gong, kendang, kentongan, terompet, gamelan yang berisi kenong (kenong telok khas madura). Musik Danglung ini bisanya dipakai untuk mengiringi tarian Jaran Kencak dan beberapa tarian khas Lumajang lainnya.
      Sementara musik Danglung yang digarap Zainul adalah musik Danglung milenial, yang menambahkan unsur-unsur yang bisa diminati oleh kalangan seniman muda. Namun demikian Zaiunul mengaku tidak meninggalkan ciri khas dan kearifan lokal.
Kelompok kesenian dengan orentasi musik Danglung inilah yang kemudian membawa Zainul menuju Jakarta. Penghargaan yang diperolehnya tidak lepas dari kepeduliannya terhadap budaya lokal. Dengan berkesenian, Zainul ingin memperkenalkan Lumajang ke dunia luar. “Pemuda yang bijak adalah pemuda yang paham dan kenal dengan budayanya sendiri,” ujarnya.
      Kelompok musik Danglung yang dibidani Zainul ini pernah mengiringi festival karnaval nasional mewakili Jatim bersama Dinas Pariwisata di Danau Toba, Internsional Beduk Art Festival di Jogjakarta, Internasional Borobudur Festival di Magelang, Kirab Pemuda Nasional di Blitar dihadiri beberapa Menteri dan utusan pemuda se Indonesia, dan juga tampil di beberapa even di Surabaya.
      Komentar positif dan rasa bangga bermunculan karena di Lumajang ada pemuda seperti Zainul ini. Yang jelas Zainul Arifin putra pertama pasangan Kusnoyo dan Romlah Susiyanti dari Dusun Pasinan Desa Karangbendo Kec. Tekung Kab. Lumajang ini telah menginspirasi pemuda dan orang tua di Lumajang. (TEGUH EKAJA)


 
 
 

Posting Komentar

0 Komentar