Lumajang, Suara Semeru – Ketahanan pangan tidak cukup dijaga melalui kebijakan di atas kertas. Di tingkat desa, keberhasilannya sangat bergantung pada kondisi lahan, tanaman, dan kemampuan petani menghadapi berbagai kendala produksi. Karena itu, jajaran Polsek Kunir Polres Lumajang turun langsung ke areal pertanian warga untuk memastikan tanaman pangan tetap produktif.
Langkah tersebut dilakukan Polmas Polsek Kunir Aiptu Setyo Handu saat menyambangi lahan jagung milik Misnan, warga setempat, Rabu 21 Oktober 2026.
Di tengah lahan pertanian, Aiptu Setyo melakukan pengecekan langsung terhadap kondisi tanaman. Pertumbuhan batang, daun, hingga kondisi kesuburan tanaman menjadi bagian yang diamati untuk mengetahui sejak dini apabila terdapat potensi gangguan yang dapat memengaruhi produktivitas.
Pemantauan tersebut bukan sekadar kunjungan lapangan. Kehadiran personel kepolisian menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi langsung dengan petani sekaligus menyerap berbagai persoalan yang muncul selama proses budidaya.
Langkah deteksi dini dinilai penting karena gangguan pada tanaman, persoalan perawatan maupun faktor lingkungan dapat berdampak terhadap hasil produksi apabila tidak segera diketahui dan ditangani.
Kapolres Lumajang melalui Kapolsek Kunir Iptu Muljoko, S.H., mengatakan keterlibatan personel kepolisian dalam sektor pertanian merupakan bentuk dukungan terhadap Program Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan dari tingkat desa.
“Program ini merupakan wujud nyata komitmen Polri dalam mendukung upaya pemerintah menjaga dan memperkuat ketahanan pangan nasional dari tingkat desa,” ujar Iptu Muljoko.
Menurutnya, peran Polmas dan Bhabinkamtibmas tidak berhenti pada aspek keamanan dan ketertiban masyarakat. Petugas juga didorong aktif berada di tengah masyarakat untuk mengetahui secara langsung perkembangan sektor pertanian yang menjadi salah satu penopang ketahanan pangan.
“Kehadiran anggota di areal lahan jagung ini bertujuan untuk memantau secara langsung perkembangan tanaman di lapangan. Kita ingin memastikan proses perawatan berjalan optimal sehingga produksi jagung warga dapat melimpah dan terhindar dari potensi kegagalan panen,” jelasnya.
Pendekatan tersebut sekaligus memperkuat hubungan antara polisi dan masyarakat. Petani tidak hanya menjadi objek pengawasan, tetapi ditempatkan sebagai mitra dalam menjaga produktivitas lahan dan keberlanjutan pangan di wilayah pedesaan.
Iptu Muljoko menegaskan, pendampingan secara konsisten diperlukan agar persoalan di sektor pertanian dapat diketahui lebih cepat. Dengan komunikasi yang terbangun di lapangan, berbagai kendala yang dihadapi petani dapat segera dikoordinasikan sesuai kewenangan dan kebutuhan.
“Melalui pendampingan rutin di lahan pertanian seperti ini, kita berharap para petani semakin bersemangat dan merasa terayomi. Dengan sinergi yang kuat antara polisi dan warga petani, kita optimistis kedaulatan serta ketahanan pangan nasional dapat terwujud secara berkelanjutan,” pungkasnya.
Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pengawalan ketahanan pangan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Dari lahan jagung milik petani hingga kebijakan pemerintah, setiap mata rantai memiliki peran dalam memastikan produksi pangan tetap berjalan dan mampu menopang kebutuhan masyarakat. (yon)

0 Komentar