DARI JAGA KAMTIBMAS KE GARDA KETAHANAN PANGAN: TRANSFORMASI BHABINKAMTIBMAS PRONOJIWO DI TENGAH TANTANGAN SWASEMBADA JAGUNG

 

Lumajang, Suara Semeru — Di tengah ancaman perubahan iklim dan fluktuasi harga pangan global pada tahun 2026, definisi "keamanan" bagi Kepolisian Republik Indonesia mengalami pergeseran paradigma yang signifikan. Keamanan tidak lagi sekadar bebas dari kriminalitas, tetapi juga memastikan rantai pasok pangan nasional tidak terputus.

Realitas inilah yang memaksa jajaran Polsek Pronojiwo, Lumajang, untuk turun langsung ke tengah lahan pertanian. Pada Selasa (13/10/2026), Bhabinkamtibmas tidak lagi hanya menyapa warga di pos kamling, melainkan berjalan menyusuri pematang ladang jagung untuk memitigasi risiko gagal panen.

Lumajang, sebagai salah satu lumbung jagung terbesar di Jawa Timur, memegang peranan vital dalam menopang Program Asta Cita Presiden RI terkait swasembada pangan. Namun, ambisi nasional ini sering kali berbentur dengan realitas mikro di lapangan.

Kapolsek Pronojiwo, AKP Soegeng Susanto, mengakui bahwa pendekatan konvensional tidak lagi cukup. Kehadiran Bhabinkamtibmas di sektor pertanian adalah bentuk adaptasi Polri terhadap isu keamanan non-tradisional.

"Ketahanan pangan adalah fondasi keamanan nasional. Jika panen gagal dan harga meroket, stabilitas sosial bisa terganggu. Oleh karena itu, Bhabinkamtibmas kini kami posisikan sebagai early warning system sekaligus fasilitator di tingkat desa," ujar AKP Soegeng saat dikonfirmasi di sela-sela peninjauan lahan jagung warga.

MEMUTUS RANTAI MASALAH DARI HULU KE HILIR

Dalam monitoring lapangan, Bhabinkamtibmas tidak hanya bertindak sebagai penonton. Mereka dituntut untuk memetakan bottleneck (hambatan) yang dihadapi petani. Berdasarkan pantauan di beberapa titik di wilayah Pronojiwo, tantangan utama petani jagung saat ini bukan sekadar soal cuaca, melainkan distribusi pupuk bersubsidi yang terkadang tidak linier dengan masa tanam, serta ancaman hama ulat grayak yang semakin resisten akibat pergeseran musim.

"Melalui sambang desa, anggota kami langsung menyerap keluhan ini. Jika ada keluhan keterlambatan pupuk atau serangan hama, Bhabinkamtibmas langsung berkoordinasi lintas sektor dengan Dinas Pertanian setempat dan penyuluh lapangan. Kami tidak ingin petani berteriak sendirian," tegas AKP Soegeng.

Pendekatan kolaboratif ini mendapat respons positif dari kalangan petani. Sinergi antara aparat keamanan dan pemerintah daerah terbukti mampu mempercepat respon penanganan masalah di akar rumput. Petani tidak lagi merasa sendirian menghadapi risiko alam dan birokrasi.

INVESTASI JANGKA PANJANG UNTUK SWASEMBADA

Langkah Polsek Pronojiwo ini menjadi cerminan bahwa program Asta Cita Presiden tidak bisa bekerja secara top-down (dari pusat ke daerah) tanpa adanya orkestrasi di tingkat tapak.

AKP Soegeng Susanto menekankan bahwa kolaborasi ini adalah investasi jangka panjang. "Kami ingin memastikan setiap benih yang ditanam warga memiliki jaminan keamanan dari ancaman hama, hingga pada akhirnya hasil panen jagung Pronojiwo mampu berkontribusi nyata pada neraca ketahanan pangan nasional. Sinergi ini bukan sekadar program seremonial, melainkan kebutuhan mendesak," pungkasnya.

Dengan menempatkan Bhabinkamtibmas sebagai garda terdepan ketahanan pangan, Polsek Pronojiwo membuktikan bahwa polisi yang dekat dengan rakyat adalah polisi yang mampu membaca dan menyelesaikan denyut nadi permasalahan ekonomi warganya. (yon)


Posting Komentar

0 Komentar