Lumajang, Suara Semeru – Dentuman musik menggema di sepanjang jalur Carnaval Desa Gesang, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang, Sabtu (19/9/2026). Di antara riuh penonton dan warna-warni kostum peserta, sekelompok penari tampil membawa sebuah kisah yang lebih dari sekadar tontonan.
Mereka mengangkat tema “Kisah Dharma Sang Garudheya”, sebuah cerita yang divisualisasikan melalui gerak tubuh, koreografi, busana, dan iringan musik.
Ribuan pasang mata warga dan pengunjung pun tertuju pada iring-iringan peserta yang melintas. Ketika peserta nomor 30 memasuki jalur karnaval, suasana seketika berubah. Dentuman sound system KS Audio berpadu dengan gerakan para penari dari Baladewa Dance School, menciptakan pertunjukan yang menyatu dengan denyut kemeriahan desa.
Gerakan para penari tidak sekadar mengikuti irama. Setiap koreografi menjadi bagian dari cara mereka menerjemahkan kisah Garudheya ke dalam bahasa panggung terbuka. Di tengah kerumunan warga, jalan desa seolah berubah menjadi panggung pertunjukan.
Kehadiran Baladewa Dance School sengaja dihadirkan oleh Umi Iing untuk menghibur masyarakat Desa Gesang. Penampilan tersebut menjadi salah satu daya tarik yang membuat warga tidak hanya menyaksikan arak-arakan, tetapi juga mengikuti setiap gerakan penari hingga rombongan berlalu.
Bagi penonton, kekuatan pertunjukan itu bukan hanya pada musik yang menggelegar. Perpaduan tata suara, koreografi, kostum dan energi para penari membuat peserta nomor 30 memiliki karakter tersendiri di tengah puluhan peserta lainnya.
Riko Adi Pramono, salah seorang pengunjung asal Pulo, mengaku terpukau melihat penampilan tersebut.
“Terpukau melihat penampilannya. Sound system-nya kuat, ditambah penampilan penari dari Baladewa Dance School yang membuat suasana semakin meriah,” ujar Riko.
Karnaval akhirnya bukan lagi sekadar barisan kendaraan hias, kostum atau parade dari satu titik menuju titik lainnya. Ia menjelma menjadi ruang tempat kreativitas warga bertemu dengan seni pertunjukan, sementara masyarakat menjadi penonton sekaligus bagian dari suasana.
Di sepanjang jalan Desa Gesang, tepuk tangan, sorak penonton dan dentuman musik terus berkelindan.
Di tengah riuh itu, “Kisah Dharma Sang Garudheya” hadir bukan sekadar sebagai tema. Ia menjadi warna tersendiri dalam Carnaval Desa Gesangsebuah pertunjukan yang mempertemukan cerita, gerak, musik dan kerumunan warga dalam satu panggung terbuka. (yon)

0 Komentar