Lumajang, Suara Semeru - Petugas gabungan terus memantau kawasan hutan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, setelah kebakaran hutan dan lahan atau karhutla terjadi di kawasan tersebut. Pemantauan dilakukan untuk memastikan tidak ada lagi titik api maupun kepulan asap.
Monitoring berlangsung di kawasan Jalur Jantur, Desa
Argosari, Kecamatan Senduro. Petugas menyisir sejumlah titik yang sebelumnya
menjadi perhatian dalam penanganan karhutla, termasuk kawasan B 29.
Pemantauan melibatkan personel Polsek Senduro, Koramil
Senduro, petugas TNBTS Resort Ranupani, serta masyarakat peduli api (MPA).
Kapolsek Senduro Ajun Komisaris Polisi Wahono Pudji Santoso
mengatakan monitoring dilakukan untuk mengetahui kondisi terkini kawasan
sekaligus mengantisipasi munculnya kembali titik api.
“Dua personel Polsek Senduro bergabung dengan anggota
Koramil Senduro, TNBTS dan MPA untuk melakukan monitoring serta pengamatan
karhutla dari kawasan B 29 Desa Argosari,” kata Wahono, Kamis, 18 September
2026.
Petugas mengamati sejumlah lokasi yang sebelumnya menjadi
titik perhatian. Penyisiran dilakukan untuk memastikan tidak ada sisa api
ataupun kepulan asap yang dapat memicu kebakaran kembali.
Hasil pemantauan hingga Rabu malam menunjukkan kawasan dalam
kondisi aman. Hingga sekitar pukul 19.00 WIB, petugas tidak menemukan kepulan
asap maupun titik api di wilayah yang dipantau.
“Untuk hasil pantauan sampai pukul 19.00 WIB, sudah tidak
terlihat adanya kepulan asap ataupun titik api di wilayah yang kami pantau,”
ujar Wahono.
Selain monitoring, petugas melakukan penyekatan dan
sterilisasi jalur pintas yang menghubungkan kawasan B 29 dengan Jalur Jantur.
Pemeriksaan dilakukan terhadap pelintas yang menggunakan jalur tersebut.
Petugas mengecek identitas dan barang bawaan sebagai bagian
dari upaya pencegahan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran di kawasan
hutan.
Pengawasan dilakukan karena potensi karhutla di kawasan
TNBTS masih perlu diantisipasi. Kondisi medan dan vegetasi di kawasan hutan
membuat pemantauan tetap dilakukan meski saat ini tidak ditemukan titik api.
Wahono mengatakan pengawasan bersama unsur terkait akan
terus dilakukan. Masyarakat dan pelintas juga diminta ikut menjaga kawasan
hutan serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran.
“Pengawasan dan monitoring terus dilakukan bersama untuk
mengantisipasi potensi munculnya kembali titik api. Kami juga mengimbau
masyarakat untuk bersama-sama menjaga kawasan hutan,” kata dia. (har)

0 Komentar