FESTIVAL LITERASI LUMAJANG DORONG WARGA KRITIS MENYARING INFORMASI

 

Lumajang, Suara Semeru - Membaca saja tak lagi cukup di tengah banjir informasi. Masyarakat dituntut mampu memahami, memeriksa, dan memilah informasi sebelum menggunakannya. Kemampuan itu menjadi bagian penting dari penguatan literasi yang didorong melalui Festival Literasi Kabupaten Lumajang 2026.

Festival tersebut resmi dibuka di Pendopo Arya Wiraraja, Kabupaten Lumajang, Rabu, 16 September 2026. Pemerintah Kabupaten Lumajang menjadikan kegiatan itu sebagai ruang untuk memperkuat budaya literasi sekaligus mendorong kreativitas dan kolaborasi masyarakat.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lumajang Indra Wibowo Leksana mengatakan festival tersebut diharapkan dapat menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

“Festival literasi ini diharapkan dapat menjadi media yang inklusif dan berkelanjutan untuk meningkatkan literasi dan kreativitas masyarakat, sejalan dengan semangat Lumajang Unggul, Amanah, dan Berkeadilan dalam menghadapi tantangan zaman,” kata Indra.

Festival tidak sekadar mempertemukan pegiat literasi. Satuan pendidikan dan masyarakat juga dilibatkan dalam berbagai ruang interaksi. Dari sana, pengalaman literasi diharapkan tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi berkembang menjadi kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama.

Sejumlah kegiatan disiapkan dalam rangkaian festival. Bazar buku, misalnya, berlangsung hingga 27 September 2026 di Galeri Mula Malurung. Ada pula Lapak Komunikasi Literasi. Sebelumnya, kegiatan Wisata Literasi juga telah digelar untuk memperluas akses masyarakat terhadap aktivitas literasi.

LITERASI SEBAGAI GERAKAN

Plt. Asisten Administrasi Setda Kabupaten Lumajang Halimi Maksum mengatakan literasi perlu menjadi gerakan bersama. Menurut dia, kemampuan masyarakat dalam menghadapi arus informasi berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari.

“Literasi untuk Lumajang diharapkan bukan sekadar sebuah tema, tetapi sebuah gerakan yang menjadi kekuatan yang amanah dan berkeadilan di tengah derasnya arus informasi,” ujar Halimi.

Arus informasi yang semakin cepat membuat kemampuan memeriksa informasi menjadi penting. Literasi, karena itu, tidak sebatas kebiasaan membaca buku. Masyarakat juga perlu mampu menggunakan dan mengolah informasi secara cermat.

Perpustakaan pun diharapkan mengambil peran lebih luas. Selain menyediakan bahan bacaan, perpustakaan didorong menjadi ruang edukasi, kreativitas, dan pemberdayaan masyarakat.

“Perpustakaan tak hanya tempat membaca, namun juga menjadi wadah untuk meningkatkan kreativitas,” kata Halimi.

Festival Literasi Lumajang 2026 menjadi salah satu upaya mempertemukan masyarakat dengan buku, pengetahuan, pengalaman, dan gagasan baru. Pemerintah daerah berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat ekosistem literasi yang melibatkan pegiat literasi, sekolah, perpustakaan, dan masyarakat.

Target akhirnya bukan sekadar meramaikan festival. Budaya membaca, kemampuan menyaring informasi, dan kreativitas diharapkan terus hidup setelah rangkaian kegiatan selesai. (har)


Posting Komentar

0 Komentar