PAWAI BUDAYA SUKOREJO, KETIKA KEBERSAMAAN WARGA MENJADI WAJAH DESA

 

Lumajang, Suara Semeru — Dentuman musik, ragam kostum, kreativitas warga, dan semangat kebersamaan mewarnai Pawai Budaya Desa Sukorejo, Kecamatan Kunir, Kabupaten Lumajang, dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bagi masyarakat Sukorejo, pawai tersebut bukan sekadar perayaan tahunan. Di balik kemeriahan yang tersaji, ada semangat gotong royong yang tumbuh dari lingkungan warga, pemuda, RT/RW hingga pemerintah desa.

Berbagai kreasi dan keberagaman yang ditampilkan menjadi gambaran bahwa budaya tidak hanya hidup di ruang-ruang formal, tetapi juga tumbuh dari masyarakat yang menjaganya bersama-sama.

Pawai budaya itu sekaligus menjadi panggung bagi warga untuk menunjukkan kreativitas serta potensi Desa Sukorejo. Setiap peserta membawa warna dan cerita masing-masing, namun semuanya bertemu dalam satu semangat: merayakan kemerdekaan sekaligus mempererat persaudaraan.

Kepala Desa Sukorejo, Sismi Wahidah, menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat dan pihak yang telah terlibat dalam kegiatan tersebut.

Sementara Ketua Panitia PPHN Desa Sukorejo, Ferdian Fatkhur Roji, menegaskan bahwa keberhasilan pawai tidak lepas dari dukungan berbagai unsur, mulai dari masyarakat, pemerintah desa, Forkopimca, pemuda, RT/RW hingga seluruh pihak yang ikut menyukseskan kegiatan.

Menurutnya, Pawai Budaya harus dimaknai lebih jauh daripada sekadar hiburan atau perlombaan. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat persatuan sekaligus membangun kesadaran bahwa kemajuan desa dapat diwujudkan melalui kebersamaan.

“Semangat yang terlihat dalam Pawai Budaya ini jangan berhenti pada kegiatan seremonial. Kekompakan, kepedulian dan gotong royong harus terus dijaga dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam mendukung pembangunan Desa Sukorejo,” ujar Ferdian, Jum'at 21 Agustus 2026.

Di tengah perubahan zaman, semangat kebersamaan seperti itu menjadi modal penting bagi sebuah desa. Sebab pembangunan tidak hanya membutuhkan program dan anggaran, tetapi juga keterlibatan masyarakat yang merasa memiliki ruang hidupnya.

Karena itu, kemeriahan Pawai Budaya Sukorejo diharapkan tidak berakhir ketika iring-iringan peserta meninggalkan jalan. Semangat yang dibangun melalui kegiatan tersebut diharapkan tetap hidup dalam aktivitas sosial masyarakat sehari-hari.

Panitia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama persiapan hingga pelaksanaan masih terdapat kekurangan, baik dalam pelayanan, teknis maupun hal lainnya. Kritik dan masukan dari masyarakat akan menjadi bahan evaluasi untuk penyelenggaraan kegiatan pada masa mendatang.

Pawai Budaya akhirnya bukan hanya tentang siapa yang tampil paling menarik. Lebih dari itu, ia menjadi potret sederhana tentang bagaimana sebuah desa merawat budaya, merawat persaudaraan, dan merawat semangat gotong royong nilai yang menjadi kekuatan masyarakat sejak dulu hingga kini. (yon)

 


Posting Komentar

0 Komentar