Lumajang, Suara Semeru — Musim kemarau yang berkepanjangan mulai memperlihatkan dampak serius di Kabupaten Lumajang. Sedikitnya enam kecamatan kini mengalami krisis air bersih setelah sumber-sumber mata air menyusut drastis. Kondisi tersebut memaksa warga bergantung pada bantuan distribusi air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Enam wilayah yang terdampak meliputi Kecamatan Ranuyoso, Klakah,
Kedungjajang, Gucialit, Padang, dan Senduro. Di sejumlah desa, pasokan air dari
sumber alami tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga akibat debit yang
terus menurun selama musim kemarau.
Bagi warga, krisis air bukan sekadar persoalan berkurangnya pasokan,
tetapi telah mengubah pola hidup sehari-hari. Aktivitas dasar seperti memasak,
mandi, mencuci, hingga kebutuhan sanitasi kini bergantung pada kedatangan mobil
tangki.
Suriyati, warga Kecamatan Gucialit, mengaku keluarganya telah menghadapi
kesulitan memperoleh air bersih selama dua bulan terakhir. Menurutnya, sumber
mata air yang selama ini menjadi andalan warga terus mengecil sehingga tidak
lagi mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
"Sudah dua bulan ini krisis airnya, ada sumur bor tapi nggak cukup,
jadi bergantung ke droping," ujar Suriyati di kediamannya, Rabu
(5/8/2026).
Untuk mengatasi kondisi tersebut, BPBD Lumajang mengintensifkan
distribusi air bersih ke wilayah-wilayah terdampak. Kepala Bidang Kedaruratan
dan Rehabilitasi BPBD Lumajang, Yudhi Cahyono, mengatakan pihaknya telah
mengerahkan empat armada mobil tangki yang beroperasi setiap hari.
Masing-masing armada mampu melakukan enam kali pengiriman air bersih
setiap harinya ke sejumlah titik yang mengalami kekeringan. Distribusi
dilakukan secara bergilir agar kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah tetap
dapat terlayani.
"Langkah-langkah dari BPBD, kita sudah antisipasi dengan 4 armada
tangki. Setiap tangki mengirimkan 6 kali rit setiap harinya," kata Yudhi.
Namun, BPBD memperkirakan tantangan ke depan akan semakin berat. Seiring
kemarau yang masih berlangsung, potensi meluasnya wilayah terdampak cukup
besar. Indikasinya terlihat dari terus bertambahnya titik permintaan distribusi
air bersih dari masyarakat.
Meski demikian, BPBD memastikan akan terus memaksimalkan seluruh sumber
daya yang dimiliki agar kebutuhan air bersih warga tetap terpenuhi. Distribusi
air akan disesuaikan dengan tingkat kebutuhan di masing-masing wilayah sehingga
daerah yang mengalami krisis paling parah dapat memperoleh prioritas pelayanan.
Krisis air bersih yang kini melanda Lumajang menjadi pengingat bahwa
musim kemarau tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga langsung
menyentuh kebutuhan paling mendasar masyarakat. Selama hujan belum kembali
turun dan debit sumber air belum pulih, bantuan distribusi air bersih masih
menjadi penopang utama kehidupan ribuan warga di enam kecamatan tersebut. (yon)

0 Komentar