GAKY MASIH MENGINTAI, DPRD LUMAJANG DORONG KELUARGA JADI BENTENG PERTAMA

Lumajang, Suara Semeru — Pencegahan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) tidak cukup hanya mengandalkan imbauan kepada masyarakat. Keluarga memang menjadi benteng pertama, tetapi pemerintah juga dituntut memastikan edukasi, pengawasan dan ketersediaan garam beryodium berjalan efektif.

Hal itu mengemuka dalam program Dewan Mendengar Radio Semeru FM, Senin (10/8/2026), bertema “Cegah GAKY Sejak Dini: Peran Keluarga dan Garam Beryodium untuk Generasi Cerdas.”

Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Lumajang, Awwaludin Yusuf, S.H., hadir sebagai narasumber bersama Putri Dwi C, Penelaah Teknis Kebijakan, dan Sylvia Agustin, Pengelola Layanan KSHTN dari Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Lumajang. Talkshow dipandu Teguh Ekaja.

Dalam diskusi tersebut, Awwaludin menekankan bahwa pencegahan GAKY harus dimulai dari lingkungan keluarga. Namun, menurutnya, tanggung jawab itu tidak bisa dilepaskan dari peran pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.

“Pesan utama yang mengemuka sederhana, tetapi kerap diabaikan, yakni pencegahan GAKY harus dimulai dari rumah,” ungkapnya.

Garam beryodium menjadi salah satu bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan yodium. Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah masyarakat mengonsumsi garam, tetapi juga apakah garam yang digunakan memenuhi ketentuan kandungan yodium serta ditangani dan digunakan dengan benar.

Pengetahuan tersebut menjadi penting karena kekurangan yodium, terutama pada masa pertumbuhan, dapat berdampak terhadap perkembangan anak. Karena itu, pencegahan sejak dini dinilai lebih strategis dibandingkan menunggu dampak kesehatan muncul.

Namun, membebankan pencegahan hanya kepada keluarga juga bukan solusi. Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab memastikan informasi kesehatan dapat diterima masyarakat secara luas, sekaligus memperkuat pengawasan terhadap peredaran garam yang tidak memenuhi standar.

Sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah desa, pelaku usaha, hingga masyarakat juga memiliki peran dalam membangun sistem pencegahan. Edukasi harus menjangkau keluarga secara nyata, bukan berhenti pada kampanye atau kegiatan penyuluhan.

Bagi DPRD, persoalan tersebut juga berkaitan dengan kebijakan dan penganggaran. Program pencegahan harus memiliki dukungan yang memadai agar intervensi kesehatan masyarakat tidak bersifat sesaat.

Di tingkat keluarga, orang tua tetap menjadi pihak pertama yang menentukan pola konsumsi sehari-hari. Memilih garam beryodium, menyimpannya dengan tepat dan menggunakannya secara benar menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan di rumah.

Namun, langkah sederhana itu membutuhkan dukungan sistem yang kuat. Masyarakat membutuhkan informasi yang benar dan akses terhadap produk yang sesuai standar, sementara pemerintah perlu memastikan pengawasan berjalan.

Talkshow Dewan Mendengar akhirnya menegaskan bahwa pencegahan GAKY merupakan tanggung jawab bersama. Keluarga menjadi benteng pertama, tetapi pemerintah tidak boleh berhenti sebagai pemberi imbauan.

Sebab, menjaga kecukupan yodium bukan hanya soal pola konsumsi hari ini. Bagi anak-anak, upaya tersebut berkaitan dengan tumbuh kembang dan kualitas sumber daya manusia yang akan menentukan masa depan daerah. (har)


Posting Komentar

0 Komentar