LUMAJANG PERKUAT DESA TANGGUH BENCANA, SEBANYAK 50 DESA TELAH TERBENTUK

 

Lumajang, Suara Semeru - Pemerintah Kabupaten Lumajang terus memperkuat program Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi berbagai potensi bencana. Hingga pertengahan 2026, sebanyak 50 desa di Kabupaten Lumajang telah memiliki Destana yang berperan sebagai garda terdepan mitigasi berbasis masyarakat.

Penguatan Destana dinilai penting mengingat Kabupaten Lumajang merupakan salah satu daerah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Berdasarkan pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), terdapat 12 jenis ancaman bencana yang berpotensi terjadi, mulai dari banjir, banjir bandang, tanah longsor, kekeringan, cuaca ekstrem, gelombang ekstrem dan abrasi, gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, kebakaran hutan dan lahan, wabah penyakit, hingga epidemi penyakit hewan dan tumbuhan.

Data BPBD Kabupaten Lumajang menunjukkan, dari 50 Destana yang telah terbentuk, sebanyak 31 desa berstatus Pratama, 18 desa berstatus Madya, dan satu desa telah mencapai kategori Utama. Sementara itu, Desa Darungan, Kecamatan Yosowilangun, sedang menjalani proses pembentukan Destana karena memiliki potensi banjir akibat luapan sungai serta berada di kawasan pesisir yang berisiko terdampak tsunami.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Jawa Timur Deni Kiki Melia Tamara mengatakan, pembentukan Destana bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali ancaman, mengurangi risiko, serta mengambil langkah mitigasi sebelum bencana terjadi.

"Tujuan dibentuknya Destana adalah meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat agar mampu melakukan mitigasi serta mengambil langkah yang tepat sebelum bencana terjadi," ujar Deni saat kegiatan pendampingan pembentukan Destana di Desa Darungan, Rabu (8/7/2026).

Menurut Deni, masyarakat yang tergabung dalam Destana tidak hanya mendapatkan edukasi kebencanaan, tetapi juga dilatih menyusun peta risiko desa, menetapkan jalur evakuasi, menentukan titik kumpul, serta mendata kelompok rentan seperti lanjut usia, ibu hamil, anak-anak, dan penyandang disabilitas. Langkah tersebut diharapkan membuat proses penyelamatan saat keadaan darurat berlangsung lebih cepat dan terarah.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Lumajang Sultan Syafaat mengatakan, penguatan kapasitas masyarakat menjadi kebutuhan mendesak karena setiap desa memiliki karakteristik ancaman bencana yang berbeda.

Ia menambahkan, penanggulangan bencana tidak hanya dilakukan saat keadaan darurat berlangsung, melainkan dimulai sejak tahap mitigasi dan pengurangan risiko sebelum bencana terjadi.

"Kesiapsiagaan harus dibangun sejak sebelum bencana terjadi melalui mitigasi dan pengurangan risiko. Saat bencana, masyarakat harus mengetahui cara menyelamatkan diri dan membantu sesama. Setelah itu, masih ada tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi agar kehidupan masyarakat dapat kembali pulih," kata Sultan.

Sementara itu, Kepala Desa Darungan Eko Nur Hadi berharap pembentukan Destana dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana sekaligus memperkuat kemampuan warga dalam melindungi diri, keluarga, dan lingkungan.

Pemerintah Kabupaten Lumajang menargetkan penguatan Destana dapat membangun budaya sadar risiko di tingkat desa. Melalui peningkatan kapasitas masyarakat, warga diharapkan mampu mengenali ancaman, memahami jalur evakuasi, serta mengambil keputusan secara cepat dan tepat sejak menit-menit awal ketika bencana terjadi.(har)

 


Posting Komentar

0 Komentar