BPBD LUMAJANG MATANGKAN MITIGASI HADAPI POTENSI KEKERINGAN DAN KARHUTLA PADA MUSIM KEMARAU 2026

 

Lumajang, Suara Semeru - Pemerintah Kabupaten Lumajang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mulai mematangkan langkah mitigasi menghadapi potensi musim kemarau 2026. Upaya ini difokuskan untuk mengantisipasi dampak kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat apabila kondisi darurat terjadi.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang Isnugroho mengatakan kesiapsiagaan menjadi langkah utama untuk menekan risiko bencana sebelum dampaknya dirasakan masyarakat.

"Kami tidak ingin bergerak ketika masyarakat sudah kekurangan air bersih atau saat kebakaran sudah meluas. Karena itu, mitigasi kami lakukan sejak awal agar ketika puncak musim kemarau datang, pemerintah dan masyarakat sudah sama-sama siap," ujar Isnugroho.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, BPBD melakukan asesmen lapangan, pemetaan wilayah rawan, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah desa, TNI, Polri, relawan, dan organisasi perangkat daerah terkait. Langkah itu dilakukan untuk memastikan seluruh kebutuhan penanganan telah dipersiapkan sebelum musim kemarau mencapai puncaknya.

Berdasarkan hasil asesmen, terdapat enam kecamatan yang menjadi prioritas antisipasi kekeringan, yakni Gucialit, Ranuyoso, Padang, Klakah, Kedungjajang, dan Senduro. Dari wilayah tersebut, BPBD mengidentifikasi 19 desa yang berpotensi mengalami kesulitan air bersih apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.

Menurut Isnugroho, Kecamatan Gucialit menjadi perhatian khusus karena dalam beberapa musim kemarau terakhir menjadi salah satu wilayah dengan kebutuhan distribusi air bersih tertinggi. Oleh sebab itu, pembaruan data terus dilakukan agar penanganan nantinya lebih tepat sasaran.

Selain memetakan wilayah rawan, BPBD juga memverifikasi kondisi sumber air di sejumlah desa. Verifikasi dilakukan karena sebagian wilayah kini telah memiliki sumber air alternatif, seperti Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), sumur bor, maupun mata air yang masih mampu memenuhi kebutuhan warga.

"Pembaruan data ini penting agar distribusi air bersih nantinya benar-benar diberikan kepada wilayah yang membutuhkan," kata Isnugroho.

BPBD juga telah menyiapkan armada truk tangki air untuk mendukung distribusi air bersih apabila diperlukan. Namun, pelaksanaannya masih menunggu pemenuhan dasar hukum dan dokumen pendukung sesuai ketentuan yang berlaku.

Di sisi lain, koordinasi lintas sektor terus diperkuat agar mekanisme pelaporan dan penanganan kekeringan maupun karhutla dapat berlangsung lebih cepat.

"Bencana akan lebih cepat tertangani apabila semua pihak bergerak bersama. Warga dapat melapor kepada kepala desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, maupun langsung kepada BPBD. Setelah laporan diterima, kami segera melakukan asesmen untuk menentukan langkah penanganan sesuai kondisi di lapangan," ujarnya.

Menghadapi ancaman karhutla, BPBD juga meningkatkan pemantauan titik panas (hotspot) melalui data satelit yang kemudian diverifikasi dengan laporan masyarakat dan relawan. Sistem deteksi dini tersebut diharapkan mampu mencegah kebakaran meluas.

BPBD mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijaksana, tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah tanpa pengawasan, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun gejala awal kekeringan di lingkungan sekitar.

"Keberhasilan sesungguhnya bukan diukur dari berapa banyak air yang kami distribusikan atau berapa banyak kebakaran yang kami padamkan. Keberhasilan adalah ketika masyarakat tetap memperoleh air bersih, tidak terjadi kebakaran akibat kelalaian, dan musim kemarau dapat dilalui dengan aman," kata Isnugroho.

Melalui berbagai langkah mitigasi tersebut, BPBD berharap dampak kekeringan maupun karhutla pada musim kemarau 2026 dapat diminimalkan melalui kesiapsiagaan pemerintah dan partisipasi masyarakat. (har)


Posting Komentar

0 Komentar