Lumajang, Suara Semeru – Pemerintah Kabupaten Lumajang terus memperkuat pendekatan kolaboratif dalam pembangunan sektor pariwisata sebagai strategi untuk menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat. Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui penyelenggaraan Segoro Topeng Kaliwungu 2026 yang kembali masuk dalam agenda nasional Kharisma Event Nusantara (KEN).
Masuknya Segoro
Topeng Kaliwungu ke dalam kalender KEN tidak hanya menjadi pengakuan atas
kekuatan budaya lokal Lumajang, tetapi juga menunjukkan bahwa pengembangan
pariwisata daerah kini diarahkan pada pembentukan ekosistem yang melibatkan
berbagai pemangku kepentingan secara terintegrasi.
Kepala Dinas
Pariwisata Kabupaten Lumajang, Patria Dwi Hastiadi, menegaskan bahwa tantangan
pengembangan pariwisata saat ini tidak lagi sebatas menghadirkan destinasi yang
menarik atau menyelenggarakan agenda wisata berskala besar. Lebih dari itu,
diperlukan tata kelola yang mampu menghubungkan seluruh elemen pendukung agar
manfaat ekonomi, sosial, dan budaya dapat dirasakan secara merata.
"Pariwisata
tidak bisa dikelola secara parsial. Kunci keberhasilan ada pada integrasi
antaraktor dalam satu ekosistem yang saling menguatkan," ujar Patria,
Senin (8/6/2026).
Menurutnya, konsep
pembangunan pariwisata modern menempatkan pemerintah bukan sebagai satu-satunya
aktor utama, melainkan sebagai fasilitator yang membangun ruang kolaborasi.
Dalam konteks Segoro Topeng Kaliwungu, sinergi dibangun dengan melibatkan perangkat
daerah, pemerintah pusat, pelaku seni budaya, komunitas, media, pelaku ekonomi
kreatif, hingga masyarakat lokal sebagai pemilik langsung sumber daya budaya
dan wisata.
Pendekatan tersebut
dinilai penting karena sebuah event pariwisata tidak hanya menghasilkan
kunjungan wisatawan pada saat pelaksanaan acara, tetapi juga menciptakan efek
berganda (multiplier effect) terhadap berbagai sektor ekonomi. Kehadiran
wisatawan berpotensi meningkatkan pendapatan pelaku usaha kuliner, penginapan,
transportasi, UMKM, hingga industri kreatif yang menyediakan produk-produk khas
daerah.
Patria menjelaskan
bahwa keberhasilan sebuah event nasional seperti Segoro Topeng Kaliwungu tidak
hanya diukur dari jumlah pengunjung yang datang, melainkan juga dari seberapa
besar keterlibatan masyarakat dalam rantai nilai pariwisata yang terbentuk.
Karena itu, pemerintah terus mendorong partisipasi aktif masyarakat agar
menjadi pelaku utama, bukan sekadar penonton dalam pengembangan pariwisata
daerah.
Selain aspek
ekonomi, kolaborasi juga menjadi instrumen penting dalam menjaga keberlanjutan
budaya lokal. Segoro Topeng Kaliwungu merupakan representasi identitas budaya
masyarakat pesisir Lumajang yang memadukan unsur seni pertunjukan, tradisi, dan
nilai-nilai kearifan lokal. Melalui event tersebut, warisan budaya tidak hanya
dipertahankan, tetapi juga diperkenalkan kepada publik yang lebih luas melalui
kemasan yang adaptif dengan perkembangan industri pariwisata.
Masuknya agenda
tersebut ke dalam Kharisma Event Nusantara juga membuka peluang promosi yang
lebih besar di tingkat nasional. Dukungan pemerintah pusat melalui KEN
memungkinkan event daerah memperoleh eksposur yang lebih luas, sehingga mampu
menarik wisatawan dari luar daerah sekaligus memperkuat posisi Lumajang sebagai
salah satu destinasi wisata budaya di Jawa Timur.
Ke depan, Pemerintah
Kabupaten Lumajang menargetkan pengembangan pariwisata tidak hanya bertumpu
pada keindahan alam yang selama ini menjadi daya tarik utama, tetapi juga pada
penguatan event budaya dan ekonomi kreatif yang melibatkan masyarakat secara
langsung. Dengan pendekatan ekosistem yang kolaboratif, sektor pariwisata
diharapkan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus instrumen
pelestarian budaya yang berkelanjutan. (yon)

0 Komentar