Lumajang, Suara Semeru – Gelombang kritik terhadap kebijakan publik kembali mengemuka di Kabupaten Lumajang. Sejumlah mahasiswa turun ke jalan menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Lumajang, Kamis (18/6/2026), dengan membawa dua isu yang dinilai menyentuh langsung kepentingan masyarakat, yakni kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax dan tuntutan transparansi terkait isu dugaan korupsi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Aksi tersebut menjadi ruang ekspresi bagi mahasiswa untuk
menyampaikan keresahan yang berkembang di tengah masyarakat. Dengan
membentangkan spanduk dan poster berisi tuntutan, massa menilai kebijakan
kenaikan harga Pertamax tidak hanya berdampak pada pengguna kendaraan pribadi,
tetapi juga berpotensi memicu efek berantai terhadap sektor ekonomi lainnya,
mulai dari biaya distribusi barang hingga harga kebutuhan pokok.
Menurut peserta aksi, penyesuaian harga BBM non-subsidi
tetap memiliki konsekuensi luas terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Di
tengah kondisi daya beli yang masih menghadapi berbagai tantangan, pemerintah
dinilai perlu memberikan penjelasan yang lebih komprehensif terkait dasar dan
urgensi kebijakan tersebut agar tidak menimbulkan keresahan berkepanjangan.
Presiden Mahasiswa Unilu, Lutfi, menegaskan bahwa aksi yang
digelar merupakan bagian dari fungsi kontrol sosial mahasiswa terhadap
kebijakan publik.
"Mahasiswa hadir bukan untuk menciptakan kegaduhan,
tetapi untuk memastikan suara masyarakat tetap didengar. Kenaikan harga
Pertamax dan setiap isu dugaan penyalahgunaan anggaran publik harus dijelaskan
secara terbuka agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga," tegasnya.
Lutfi menambahkan, masyarakat memiliki hak untuk memperoleh
informasi yang jelas mengenai setiap kebijakan yang berdampak langsung pada
kehidupan sehari-hari. Demikian pula terhadap berbagai isu yang berkaitan
dengan pengelolaan anggaran negara, yang menurutnya harus direspons secara
terbuka oleh pihak-pihak terkait guna menghindari spekulasi dan menjaga
kepercayaan publik.
Mahasiswa juga mendesak pemerintah untuk membuka ruang
dialog yang lebih luas dengan masyarakat, akademisi, dan berbagai elemen sipil
lainnya. Mereka menilai komunikasi yang transparan merupakan fondasi penting
dalam membangun kepercayaan publik sekaligus memastikan setiap kebijakan dapat
dipahami secara utuh oleh masyarakat.
Aksi berlangsung di bawah pengawalan aparat keamanan dan
berjalan tertib. Namun di balik suasana yang kondusif, tuntutan yang
disampaikan mahasiswa mencerminkan kegelisahan yang lebih luas mengenai dampak
kebijakan ekonomi serta pentingnya integritas dalam pengelolaan dana publik.
Bagi mahasiswa, kenaikan harga energi dan isu dugaan korupsi
bukanlah persoalan yang berdiri sendiri. Keduanya berkaitan erat dengan
kualitas tata kelola pemerintahan dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap
institusi negara. Karena itu, mereka mendesak pemerintah dan lembaga terkait
untuk memberikan penjelasan yang terbuka, objektif, serta dapat
dipertanggungjawabkan kepada publik. (yon)
.jpg)


0 Komentar