Lumajang, Suara Semeru – Lapangan Panahan Terpadu JLT, Lumajang, menjadi saksi semangat ratusan atlet muda dan senior yang ambil bagian dalam Lomba Panahan Tradisional pada rangkaian Festival Olahraga Kabupaten (FORKAB) III Lumajang, Minggu (21/6/2026). Ajang yang digelar oleh Persatuan Panahan Tradisional Indonesia Nusantara Jaya (PERPATRI NJ) Pengcab Kabupaten Lumajang ini bukan sekadar kompetisi rutin, melainkan menjadi gerbang awal menuju Festival Olahraga Provinsi (FORPROV) Jawa Timur III Tahun 2026.
Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga
berbasis tradisi dan budaya, panahan tradisional kini berkembang menjadi cabang
olahraga yang semakin kompetitif. FORKAB III menjadi momentum strategis bagi
Lumajang untuk menjaring atlet-atlet terbaik yang akan membawa nama daerah pada
level provinsi.
Ketua PERPATRI NJ Lumajang, David Priyasidharta, menegaskan
bahwa lomba ini merupakan bagian dari proses seleksi atlet yang akan
dipersiapkan menghadapi FORPROV Jatim III 2026. Menurutnya, kompetisi menjadi
instrumen penting untuk mengukur kemampuan teknis, konsistensi, serta kesiapan
mental para atlet sebelum memasuki persaingan yang lebih ketat.
“Ajang ini bukan hanya untuk mencari juara, tetapi juga
menjadi sarana pembinaan. Atlet-atlet pemula mendapatkan kesempatan menguji
kemampuan, membangun mental bertanding, serta belajar menghadapi tekanan
kompetisi. Dari sini akan terlihat siapa yang siap bersaing di tingkat yang
lebih tinggi,” ujarnya.
Lebih jauh, David menilai panahan tradisional memiliki nilai
lebih dibanding sekadar olahraga prestasi. Cabang ini juga menjadi media
pelestarian budaya yang mengajarkan konsentrasi, disiplin, kesabaran, dan
ketepatan dalam mengambil keputusan. Karena itu, pembinaan atlet usia dini
terus menjadi fokus organisasi.
Dukungan terhadap pengembangan panahan tradisional di
Lumajang juga datang dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Lumajang serta
Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Lumajang. Sinergi tersebut
diharapkan mampu memperkuat ekosistem olahraga masyarakat sekaligus memperluas
regenerasi atlet.
Sementara itu, Ketua Panitia Lomba, Dedy Aprisa,
mengungkapkan bahwa kompetisi tahun ini diikuti ratusan peserta yang berasal
dari berbagai klub panahan di Lumajang. Beberapa di antaranya adalah Club
Gedang Agung, Bolo Jitu, serta sejumlah klub yang tumbuh di lingkungan sekolah
melalui program ekstrakurikuler.
“Antusiasme peserta sangat tinggi. Ini menunjukkan bahwa
panahan tradisional semakin diminati masyarakat, khususnya kalangan pelajar.
Banyak sekolah yang kini mulai aktif mengembangkan ekstrakurikuler panahan
sebagai wadah pembinaan karakter sekaligus prestasi,” katanya.
Menurut Dedy, terdapat sekitar 30 kategori yang
dipertandingkan, mulai dari kelompok usia Sekolah Dasar hingga kategori dewasa.
Banyaknya kelas yang dilombakan memberikan ruang lebih luas bagi atlet dari
berbagai jenjang usia untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka.
Tingginya partisipasi peserta dalam FORKAB III menjadi
indikator positif perkembangan panahan tradisional di Lumajang. Jika pembinaan
dilakukan secara berkelanjutan, bukan tidak mungkin daerah ini akan menjadi
salah satu kekuatan baru panahan tradisional di Jawa Timur.
Lebih dari sekadar perlombaan, FORKAB III menjadi investasi
jangka panjang dalam mencetak atlet muda berbakat. Dari lapangan sederhana di
kaki Gunung Semeru ini, harapan besar tengah dipanah menuju panggung olahraga
yang lebih tinggi, membawa nama Lumajang bersinar di tingkat provinsi hingga
nasional. (yon)

0 Komentar