Lumajang, Suara Semeru — Di tengah rutinitas kehidupan yang identik dengan tembok tinggi dan jeruji besi, suasana berbeda terlihat di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Lumajang, Jawa Timur. Alih-alih hanya menjalani masa hukuman, puluhan warga binaan justru menghabiskan hari-harinya mengurus ayam petelur, memberi pakan ribuan ikan lele, hingga menanam sayuran di lahan produktif milik lapas.
Di atas lahan seluas sekitar 250 meter persegi, program
ketahanan pangan yang dijalankan Lapas Lumajang perlahan mengubah wajah
pembinaan narapidana. Kandang ayam, kolam budidaya lele, dan hamparan tanaman
sayuran bukan sekadar proyek pertanian, melainkan ruang belajar yang disiapkan
untuk membekali warga binaan menghadapi kehidupan setelah bebas.
Kepala Lapas Kelas IIB Lumajang, Agus Salim, mengatakan
program tersebut dirancang agar narapidana memperoleh keterampilan nyata yang
dapat menjadi bekal ekonomi ketika kembali ke masyarakat.
“Warga binaan kami libatkan langsung sebagai tenaga kerja di
bidang masing-masing. Harapannya, setelah mereka selesai menjalani masa pidana
dan kembali ke masyarakat, mereka memiliki keahlian yang bisa dimanfaatkan
untuk mencari nafkah,” kata Agus Salim, Rabu (3/6/2026).
Saat ini, sebanyak 50 warga binaan asimilasi telah mengikuti
program tersebut. Mereka merupakan narapidana yang telah melalui proses sidang
dan memenuhi syarat untuk mengikuti kegiatan kemandirian di lingkungan lapas.
Program itu mencakup pemeliharaan 100 ekor ayam petelur yang
menghasilkan pasokan telur secara berkala, kolam budidaya lele dengan kapasitas
hingga 13 ribu ekor, serta lahan pertanian yang ditanami berbagai jenis sayuran
sesuai kebutuhan dan kondisi musim.
Lebih dari Sekadar
Produktivitas
Di balik angka-angka produksi itu, terdapat tujuan yang
lebih besar. Program ketahanan pangan menjadi bagian dari upaya mengubah
paradigma pembinaan di lembaga pemasyarakatan, dari yang semata-mata
berorientasi pada hukuman menjadi proses rehabilitasi dan pemberdayaan.
Bagi banyak warga binaan, keterampilan beternak dan bercocok
tanam menjadi pengalaman baru yang sebelumnya tidak pernah mereka miliki.
Aktivitas tersebut juga membantu membangun disiplin, tanggung jawab, dan pola
kerja yang terstruktur.
Di tengah tantangan tingginya angka residivisme atau
pengulangan tindak pidana, pembekalan keterampilan kerja dinilai menjadi salah
satu instrumen penting untuk memperkuat proses reintegrasi sosial. Narapidana
yang memiliki kemampuan produktif dan peluang usaha setelah bebas cenderung
memiliki kesempatan lebih besar untuk kembali hidup mandiri di tengah
masyarakat.
Menyiapkan Kehidupan
Setelah Bebas
Program yang dijalankan Lapas Lumajang menunjukkan bahwa
proses pembinaan tidak berhenti pada pemenuhan hak-hak dasar warga binaan. Di
balik tembok penjara, terdapat upaya untuk menyiapkan masa depan yang lebih
baik melalui pelatihan kerja yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Ayam petelur, kolam lele, dan kebun sayur mungkin terlihat
sederhana. Namun bagi sebagian warga binaan, ketiganya menjadi simbol
kesempatan kedua peluang untuk membangun kehidupan yang lebih produktif ketika
pintu kebebasan akhirnya terbuka.
Di tengah keterbatasan ruang dan status sebagai narapidana,
mereka sedang belajar satu hal penting: bahwa masa depan dapat mulai ditanam
bahkan dari balik jeruji besi. (yon)

0 Komentar