Lumajang, Suara Semeru – Keluhan warga terkait sulitnya memperoleh gas elpiji 3 kilogram (gas melon) kembali mencuat di sejumlah wilayah di Kabupaten Lumajang. Meski pemerintah daerah menyatakan stok dalam kondisi aman, fakta di lapangan menunjukkan distribusi yang belum sepenuhnya merata, sehingga masyarakat kecil dan pelaku usaha mikro masih terdampak.
Keluhan terbaru disampaikan warga melalui kanal pengaduan
“Sambat Bunda Indah” di media sosial resmi Pemkab Lumajang. Salah satu warga
dari wilayah Candipuro, tepatnya Desa Sumberwuluh, mengaku kesulitan
mendapatkan elpiji subsidi dalam beberapa waktu terakhir.
“Assalamualaikum, Bun. Kenapa gas di wilayah Candipuro masih
langka? Nggih, tolong nggih, Bun, khususnya daerah Desa Sumberwuluh,” tulis
akun @AdiNaylaNova.
Keluhan serupa juga datang dari wilayah lain seperti
Pronojiwo. Seorang pedagang eceran mengaku pasokan yang diterima jauh berkurang
dibandingkan biasanya. Jika sebelumnya ia bisa mendapatkan dua kali distribusi
dalam seminggu dengan total 24 tabung, kini hanya memperoleh lima tabung dalam
satu minggu.
Kondisi ini tidak hanya menyulitkan rumah tangga, tetapi
juga berdampak langsung pada pelaku usaha kecil yang bergantung pada elpiji
bersubsidi untuk operasional sehari-hari. Beberapa pedagang bahkan mengaku
harus membatasi penjualan atau menaikkan harga secara tidak resmi untuk menutup
biaya operasional.
Di sisi lain, Bupati Lumajang, Indah Amperawati, sebelumnya
telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Stasiun Pengisian Bulk Elpiji
(SPBE) hingga tingkat pengecer. Dalam keterangannya, ia menyebut bahwa stok
elpiji 3 kg di Lumajang dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat.
Namun demikian, pernyataan tersebut tampaknya belum
sepenuhnya menjawab persoalan di lapangan. Sejumlah pengamat menilai bahwa
masalah utama bukan pada ketersediaan stok, melainkan pada rantai distribusi
yang tidak merata serta potensi adanya penimbunan atau penyalahgunaan oleh
pihak tertentu.
Pemerintah daerah pun didorong untuk tidak hanya memastikan
ketersediaan pasokan, tetapi juga memperketat pengawasan distribusi hingga ke
tingkat pengecer. Selain itu, edukasi kepada masyarakat terkait penggunaan
elpiji subsidi yang tepat sasaran dinilai penting untuk mengurangi tekanan
permintaan.
Jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan akan memicu
keresahan sosial, terutama di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah yang
sangat bergantung pada elpiji 3 kg sebagai sumber energi utama.
Hingga saat ini, warga berharap adanya langkah konkret dari
pemerintah untuk memastikan distribusi yang lebih adil dan merata, sehingga
kelangkaan yang berulang ini tidak terus menjadi persoalan tahunan di Lumajang.
(yon)

0 Komentar