Lumajang, Suara Semeru - Masa depan wisata Pemandian Alam Selokambang di Desa Purwosono, Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang memasuki babak baru. Pemerintah Kabupaten Lumajang resmi menggelar kegiatan market sounding untuk menjaring mitra pihak ketiga yang akan mengelola destinasi wisata tersebut.
Sebanyak 18 calon investor dari berbagai daerah di Jawa
Timur turut ambil bagian dalam forum tersebut. Mereka bersaing untuk
mendapatkan hak pengelolaan salah satu ikon wisata legendaris di Lumajang itu.
Langkah ini diambil setelah Pemkab Lumajang memutuskan
mengubah pola manajemen Selokambang melalui skema kemitraan dengan pihak swasta.
Kebijakan tersebut diharapkan mampu mendorong pengembangan destinasi secara
lebih optimal.
Kepala Bidang Destinasi Wisata Dinas Pariwisata Lumajang,
Galih Permadi, mengatakan bahwa selama ini Selokambang tetap memberikan
kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun, keterbatasan anggaran
menjadi kendala dalam pengembangan infrastruktur secara maksimal.
“Selokambang itu ikon Lumajang dan sudah punya nama besar.
Secara APBD kita memang profit, tapi untuk pengembangan yang lebih maju lagi,
pemerintah merasa belum maksimal,” ujar Galih.
Untuk menarik minat investor, Pemkab Lumajang menerapkan
strategi “jemput bola”. Tim khusus bahkan dibagi menjadi tiga kelompok untuk
menjaring calon investor di sejumlah wilayah potensial di Jawa Timur, seperti
Surabaya, Gresik, Prigen, Malang, Batu, hingga Banyuwangi.
Beberapa perusahaan besar di sektor hiburan dan wisata alam
disebut turut dilirik, di antaranya Jatim Park Group dan Songa Alam Lestari.
Dalam kegiatan market sounding yang digelar secara tatap
muka dan daring, tim KSP Selokambang memaparkan gambaran umum serta potensi
keuntungan kepada para calon investor. Forum ini menjadi tahap awal bagi
investor untuk mempertimbangkan nilai investasi sebelum memasuki proses seleksi
lanjutan.
“Setelah acara hari ini, nanti akan disaring lagi sampai
ditemukan satu pemenang,” kata Galih.
Melalui langkah ini, Pemkab Lumajang berharap Selokambang
dapat berkembang menjadi destinasi wisata profesional berskala nasional, tanpa
meninggalkan nilai historis yang telah melekat di tengah masyarakat.(har)

0 Komentar