KENAIKAN TIGA JENIS BBM NON-SUBSIDI MENGEJUTKAN PENGGUNA KENDARAAN MEWAH, DAMPAKNYA MULAI TERASA

Lumajang, Suara Semeru - Kenaikan harga tiga jenis bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dalam beberapa waktu terakhir memicu reaksi dari masyarakat, khususnya para pengguna kendaraan pribadi kelas menengah ke atas. Kebijakan yang dinilai datang tanpa sosialisasi luas ini menimbulkan rasa terkejut, meskipun dampaknya tidak sebesar kenaikan BBM bersubsidi.

BBM non-subsidi seperti Pertamax, Pertamax Turbo, dan Dexlite umumnya digunakan oleh pemilik kendaraan mewah dan kendaraan dengan spesifikasi mesin tertentu. Namun, kenaikan harga yang terjadi tetap memberikan efek psikologis sekaligus ekonomis bagi para penggunanya.

Marto, warga Dusun Sumberdadi, Desa Pakel, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, mengaku terkejut saat mengetahui adanya penyesuaian harga tersebut.

“Saya kaget, karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Tahu-tahu harga sudah naik saja di SPBU,” ujarnya, saat di SPBU Jalan Sukarno Hatta, Sukodono, Selasa (21/4/2026).

Menurut Marto, meskipun dirinya menggunakan kendaraan yang mengharuskan konsumsi BBM non-subsidi, kenaikan harga tetap menjadi pertimbangan dalam pengeluaran sehari-hari. Ia berharap ke depan ada transparansi yang lebih baik dari pihak terkait agar masyarakat dapat bersiap.

Hal serupa disampaikan oleh Kaji Dadang, dari Desa Senduro, Kecamatan Senduro, seorang pengusaha rental ini menilai kenaikan harga BBM non-subsidi tetap berdampak pada operasional usahanya, meskipun tidak seberat jika yang naik adalah BBM bersubsidi.

“Kalau dibilang sangat berat memang tidak seperti BBM subsidi, tapi tetap ada dampaknya. Biaya operasional kendaraan wisata jadi ikut naik,” jelasnya.

Kaji Dadang menambahkan bahwa sektor usaha transportasi wisata sangat sensitif terhadap perubahan biaya operasional, termasuk harga bahan bakar. Meski demikian, ia masih berusaha menyesuaikan tanpa langsung menaikkan tarif kepada pelanggan.

Secara umum, kebijakan penyesuaian harga BBM non-subsidi mengikuti mekanisme pasar dan fluktuasi harga minyak dunia. Pemerintah melalui Pertamina biasanya melakukan evaluasi berkala terhadap harga tersebut.

Meski tidak menyasar masyarakat luas seperti BBM bersubsidi, kenaikan ini tetap menjadi sorotan karena menunjukkan adanya tekanan ekonomi yang dirasakan lintas lapisan masyarakat. Para pengguna berharap adanya komunikasi yang lebih terbuka serta kebijakan yang mempertimbangkan stabilitas ekonomi masyarakat secara menyeluruh.

Kenaikan harga BBM non-subsidi ini pun menjadi pengingat bahwa dinamika energi global turut memengaruhi kondisi ekonomi lokal, bahkan hingga ke tingkat desa. (yon)


Posting Komentar

0 Komentar