Lumajang, Suara Semeru - Panggung “Sugeng Dalu” di Lumajang tak memberi ruang untuk mereda. Justru di penghujung acara, suasana berubah menjadi ledakan euforia saat nama Denny Caknan diumumkan sebagai penutup.
Sorak penonton langsung pecah bahkan sebelum musik dimulai.
Begitu Denny Caknan melangkah ke panggung, ribuan penonton serempak bergerak maju,
membentuk gelombang manusia yang berguncang di bawah sorot lampu. Energi yang
semula hangat mendadak menjelma menjadi riuh tak terkendali.
Tanpa banyak jeda, lagu demi lagu dilantunkan. Setiap bait
disambut koor massal yang menggema, seolah seluruh penonton menjadi satu suara
besar. Tak ada yang sekadar menyaksikan semua larut, bernyanyi, berteriak, dan
melompat mengikuti irama.
“Lirik-lirik tentang cinta, kehilangan, dan rindu terasa
begitu dekat, kami larut mas,” ungkap Ani yang mengaku berasal dari Desa
Banjarwaru, Kecamatan Lumajang.
Penonton tak hanya menghafal, tetapi menghidupinya. Panggung
berubah menjadi pusat emosi kolektif, tempat ribuan cerita pribadi bertemu
dalam satu irama.
Denny Caknan tak sekadar tampil. Ia mengendalikan suasana,
memainkan emosi, dan menjaga energi tetap memuncak hingga akhir. Setiap jeda diisi
teriakan, setiap lagu ditutup dengan gemuruh yang tak kunjung reda.
Ketika lagu terakhir usai, malam terasa berhenti sejenak.
Namun penonton tetap bertahan, enggan beranjak. Mereka sadar, ini bukan sekadar
penutup acara ini adalah klimaks yang mengunci seluruh kenangan “Sugeng Dalu”
dalam satu malam yang tak terlupakan. (yon)

0 Komentar