DARI LUMAJANG KE JAKARTA: KISAH ANAK-ANAK PANAHAN DZUNNURAIN MENEMBUS PANGGUNG NASIONAL

Lumajang, Suara Semeru — Di tengah riuhnya Stadion Cendrawasih, Cengkareng, Jakarta Barat, akhir pekan lalu, langkah-langkah kecil itu berdiri tegap di garis tembak. Tangan mereka masih belia, sebagian bahkan belum genap remaja. Namun saat busur ditarik dan anak panah dilepaskan, yang terlihat bukan lagi usia melainkan ketenangan, latihan panjang, dan mimpi yang perlahan menemukan arahnya.

Mereka adalah atlet-atlet muda dari Dzunnurain Archery Lumajang. Dalam ajang Segar Archery Championship 2026 yang berlangsung 25–26 April, klub ini tidak sekadar hadir sebagai peserta dari jauh. Mereka pulang membawa cerita: 4 medali emas, 3 perak, dan 2 perunggu cukup untuk menempatkan Dzunnurain di peringkat keempat dari total 40 klub dan sekitar 630 atlet yang mayoritas berasal dari Jakarta dan sekitarnya.

Bagi klub yang bermarkas di kota kecil seperti Lumajang, capaian ini bukan sekadar prestasi. Ini adalah bukti bahwa kerja sunyi di daerah bisa menembus gemerlap kompetisi nasional.

Di antara deretan nama peraih medali, terselip kisah anak-anak sekolah dasar yang sehari-hari masih bergelut dengan PR dan permainan. Seperti Danial Azmi El Rafif, siswa kelas V yang tampil di beberapa nomor sekaligus. Atau Bilqis Shakeela Afsheen, yang masih duduk di kelas III, namun sudah berdiri di podium juara.

Ada pula Dzunnurain Almaidany Kurniawan, yang namanya tak hanya menjadi identitas klub, tetapi juga menjadi salah satu motor kemenangan tim. Bersama rekan-rekannya, ia menyumbang emas di nomor beregu—sebuah nomor yang menuntut bukan hanya akurasi, tetapi juga kepercayaan satu sama lain.

Di balik medali-medali itu, ada rutinitas yang jarang terlihat. Latihan berulang, disiplin menjaga fokus, hingga perjalanan jauh lintas provinsi demi satu kesempatan bertanding.

“Anak-anak ini belajar bukan hanya memanah, tapi juga mengelola rasa gugup, belajar kalah, dan bangkit lagi,” ujar Arief Kurniawan, pelatih kepala Dzunnurain Archery.

Perjalanan menuju Jakarta bukan hal ringan. Dzunnurain menjadi satu-satunya klub dari Jawa Timur yang ambil bagian dalam kejuaraan ini. Mereka harus berhadapan dengan klub-klub besar, termasuk FAST Kodamar—tim elite yang sudah puluhan kali menjuarai turnamen nasional.

Namun justru di situlah nilai pentingnya. Di tengah dominasi klub-klub mapan, anak-anak Lumajang itu tidak gentar. Mereka bertanding di kategori barebow jarak 5 hingga 10 meter fase penting dalam pembinaan atlet pemula. Dari sanalah empat medali emas lahir, menunjukkan fondasi teknik yang kuat sejak usia dini.

Sementara itu, satu medali perak dari nomor recurve 20 meter atas nama Rahadatul ‘Aisy Kurniawan memberi sinyal bahwa Dzunnurain mulai merambah ke level teknik yang lebih kompleks.

Bagi Arief, kejuaraan ini bukan tujuan akhir. Ia melihatnya sebagai bagian dari perjalanan panjang.

“Target kami sederhana: anak-anak harus sering merasakan kompetisi. Minimal sekali dalam tiga bulan. Dari situ mental mereka terbentuk,” katanya.

Pendekatan yang digunakan pun tidak instan. Dzunnurain menerapkan prinsip Long Term Athlete Development (LTAD), sebuah metode pembinaan jangka panjang yang menekankan proses bertahap sesuai usia dan perkembangan atlet. Artinya, kemenangan hari ini bukanlah puncak melainkan langkah awal.

Di sudut lain arena, apresiasi datang dari penyelenggara. Duan Novsilas, pengurus Perpani Jakarta Barat, mengaku kagum dengan semangat Dzunnurain yang datang dari jauh.

Bukan hanya soal jarak, tetapi juga tentang keberanian untuk bersaing. Dan mungkin, di situlah inti dari cerita ini. Bahwa di balik angka-angka medali, ada anak-anak yang belajar berdiri tenang di bawah tekanan. Ada pelatih yang setia membimbing tanpa sorotan. Dan ada keyakinan sederhana: bahwa dari kota kecil, mimpi besar tetap bisa dilepaskan meluncur lurus, setajam anak panah, menuju masa depan. (yon)


Posting Komentar

0 Komentar