KOMPETENSI WARTAWAN MASIH JADI PR BESAR DI LUMAJANG, PWI DORONG KOLABORASI UKW DEMI PERS YANG PROFESIONAL DAN INDEPENDEN

 

Lumajang, Suara Semeru - Di tengah pesatnya pertumbuhan jumlah insan pers di Kabupaten Lumajang, persoalan kompetensi wartawan justru menjadi sorotan utama.

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Lumajang menilai kualitas sumber daya wartawan belum sebanding dengan kuantitasnya, sebuah kondisi yang berpotensi memengaruhi mutu informasi yang diterima publik.

Hal itu disampaikan Ketua PWI Lumajang, Mujibul Choir, dalam peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang digelar di Pendopo Arya Wiraraja Lumajang, Senin 9 Pebruari 2026 petang. Dalam forum tersebut, Mujibul Choir mengungkapkan bahwa jumlah wartawan yang aktif meliput di Lumajang saat ini diperkirakan telah melampaui 100 orang.

Namun, ironisnya, hanya sekitar 30 persen yang telah dinyatakan kompeten melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW).

“Ini menjadi tantangan serius. Di satu sisi jumlah wartawan bertambah, tetapi di sisi lain kompetensi belum tumbuh seiring,” ujar Mujibul.

 

TANTANGAN DI ERA BANJIR INFORMASI

Rendahnya tingkat kelulusan UKW dinilai sangat krusial di era keterbukaan informasi saat ini. Masyarakat tidak hanya membutuhkan berita yang cepat, tetapi juga akurat, berimbang, dan beretika.

Tanpa bekal kompetensi yang memadai, risiko lahirnya berita yang bias, tidak terverifikasi, bahkan menyesatkan menjadi semakin besar.

PWI Lumajang memandang UKW bukan sekadar formalitas, melainkan instrumen penting untuk memastikan wartawan memahami kode etik jurnalistik, teknik peliputan, hingga tanggung jawab sosial pers.

 

PERLU DUKUNGAN DAN FASILITASI DAERAH

Mujibul Choir menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam mendorong peningkatan kompetensi wartawan. Salah satunya melalui dukungan fasilitas dan anggaran untuk pelaksanaan UKW di tingkat lokal, sehingga wartawan daerah tidak selalu terbebani biaya dan akses yang terbatas.

“Kalau ingin pers daerah kuat, maka proses peningkatan kualitas wartawannya juga harus difasilitasi,” tegasnya.

 

UKW MASIH TERPUSAT

Di tingkat Jawa Timur, penyelenggaraan UKW resmi saat ini masih relatif terbatas, yakni hanya melalui PWI dan Universitas Dr. Soetomo (Unitomo). Kondisi tersebut, menurut Mujibul Choir, menuntut adanya kolaborasi yang lebih erat antara organisasi profesi, perguruan tinggi, dan pemangku kebijakan agar proses sertifikasi wartawan bisa menjangkau lebih luas.

Kolaborasi ini juga diharapkan mampu mencetak wartawan yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki integritas dan keberpihakan pada kepentingan publik.

 

MENJAGA INDEPENDENSI PERS

Menutup pernyataannya, Mujibul Choir berharap pers di Kabupaten Lumajang terus tumbuh secara profesional tanpa kehilangan independensinya. Di tengah dinamika politik, ekonomi, dan kekuasaan, pers diharapkan tetap menjalankan fungsi kontrol sosial secara objektif dan bertanggung jawab.

“Pers yang kuat adalah pers yang kompeten dan independen,” pungkasnya. (yon)


Posting Komentar

0 Komentar