Lumajang, Suara Semeru - Ancaman gelombang tinggi di pesisir selatan Kabupaten Lumajang diprediksi akan berlangsung hingga 30 Januari 2026. Fenomena tersebut dipicu oleh siklon tropis di Samudra Hindia serta pengaruh fase bulan purnama yang berpotensi meningkatkan kenaikan muka air laut.
Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, S.Sos.,
menyampaikan bahwa dampak kerusakan telah terjadi di sejumlah titik, terutama
di kawasan Pantai Dampar, Desa Bades, Kecamatan Pasirian, serta wilayah
Tempursari.
Sedikitnya 15 bangunan warung milik warga di pesisir Pantai
Dampar dilaporkan rusak akibat abrasi dan banjir rob. Selain itu, sektor
perikanan juga terdampak dengan empat unit perahu nelayan di wilayah Tegal
Bangteng, Kecamatan Tempursari, mengalami rusak berat.
“Perkiraan puncak gelombang sampai tanggal 30 Januari sesuai
rilis BMKG. Saat ini tinggi gelombang rata-rata masih sekitar satu meter, namun
menjelang bulan purnama biasanya ombak bisa jauh lebih besar,” ujar Isnugroho,
Selasa 27 januari 2026.
Ia menjelaskan, gelombang tinggi umumnya terjadi pada malam
hari saat air laut berada pada fase pasang, mulai sore hingga dini hari.
Kondisi tersebut menuntut kewaspadaan masyarakat yang tinggal maupun
beraktivitas di wilayah pesisir.
“Kami fokus pada seluruh kawasan pesisir Lumajang, terutama
yang menjadi lokasi wisata, untuk mengantisipasi terjadinya korban,” katanya.
Sebagai langkah mitigasi, BPBD Lumajang bersama relawan
telah menyiagakan personel di sejumlah titik rawan, termasuk di kawasan Pantai
Watu Pecak, guna memantau perkembangan situasi. Nelayan juga diimbau untuk
sementara waktu tidak melaut demi keselamatan, mengingat kuatnya arus laut dan
tingginya risiko abrasi. (yon)

0 Komentar