Lumajang, Suara Semeru – Cuaca ekstrem berupa angin kencang melanda Kabupaten Lumajang, Kamis 1 Januari 2026 malam. Akibatnya, sebuah pohon berukuran besar tumbang di Jalan Jenderal S. Parman, Lumajang, dan merusak atap galvalum milik warga.
Meski tidak
menimbulkan korban jiwa, peristiwa tersebut sempat mengganggu akses jalan dan
aktivitas masyarakat sekitar. Petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD) bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lumajang segera melakukan
penanganan di lokasi kejadian.
Kepala
Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Lumajang, Yudi Cahyono,
mengatakan bahwa setelah menerima laporan, Tim Reaksi Cepat (TRC) langsung
diterjunkan untuk melakukan asesmen dan penanganan awal.
“Upaya
penanganan dilakukan oleh TRC PB BPBD bersama DLH Lumajang dengan pemotongan
dan pembersihan pohon tumbang agar kayu yang roboh tidak mengganggu mobilitas
masyarakat,” ujar Yudi.
Ia
menambahkan, pendataan dampak kejadian terus dilakukan untuk memastikan langkah
penanganan berjalan tepat sasaran.
Sementara
itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda mengingatkan
potensi cuaca ekstrem di wilayah Jawa Timur dalam 10 hari ke depan. Kepala
Stasiun Meteorologi BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, menyebut periode 1 hingga 10
Januari 2026 merupakan masa dengan risiko cuaca ekstrem yang cukup tinggi.
“Ini
momentum yang harus diwaspadai bersama. Jawa Timur sudah masuk fase musim hujan
sehingga peluang cuaca ekstrem meningkat,” jelasnya.
Menurut
Taufiq, kondisi cuaca ekstrem dipengaruhi oleh aktivitas Monsun Asia serta
gangguan gelombang atmosfer seperti Madden Julian Oscillation (MJO) yang
melintas di wilayah Jawa Timur.
“Kondisi
atmosfer saat ini mendukung pembentukan awan hujan dengan intensitas sedang
hingga lebat, bahkan dapat disertai petir dan angin kencang,” pungkasnya.
BMKG pun mengimbau
masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi hujan lebat, angin kencang,
banjir, dan bencana hidrometeorologi lainnya. (yon)

0 Komentar