RESESI EKONOMI, PEMERINTAH DAERAH LUMAJANG HARUS OPTIMIS




      Beberapa hari yang lalu pemerintah melalui BPJS dan Kementerian Keuangan secara resmi sudah mengeluarkan pengumuman bahwa kondisi perekonomian Indonesia benar-benar sudah memasuki periode resesi ekonomi. Apa itu resesi ekonomi? Apa dampaknya dan bagaimana daerah menyikapinya?
      Agus Setiawan seorang pengamat dan pakar ekonomi yang juga merupakan pengusaha sukes asal Lumajang menjelaskan semua itu kepada masyarakat saat acara talkshow di Radio Semeru FM dalam program Ngopi Pagi yang dipandu Hariyanto, S.Pd., Minggu (8/11).
 
INDIKATOR DAN DAMPAK RESESI EKONOMI
       Setiawan menjelaskan, resesi ekonomi itu kalau secara garis besar diartikan sebagai penurunan indikator pertumbuhan ekonomi secara terus-menerus dalam waktu berbulan-bulan dan bertahun-tahun, namun hampir mayoritas ahli ekonomi mengukurnya dari pertumbuhan triwulanan.
      “Jadi kalau selama 2 kuartal atau 2 kali 3 bulan pertumbuhan ekonomi tetap mengalami minus berarti sudah dianggap mengalami resesi. Indonesia kemarin kuartal kedua itu sudah minus 5%, kuartal ketiga minus 3, 49% maka berarti kita sudah memasuki periode resesi ekonomi,” ungkap Setiawan.
       Menurut Setiawan, resesi ekonomi tentunya suatu ukuran yang menyatakan bahwa kondisi ekonomi secara keseluruhan di Indonesia memang mengalami penurunan dibanding tahun yang lalu. Tidak hanya di bidang perdagangan dan jasa, namun aktivitas secara keseluruhan termasuk angka pengangguran dan kemiskinan juga mengalami peningkatan.
      Untuk menghadapi resesi ekonomi ini pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sudah berusaha mencegah dengan berbagai macam cara termasuk mengeluarkan program PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) dan juga program perlindungan sosial untuk meningkatkan konsumsi masyarakat.
      Konsumsi masyarakat harus ditingkatkan karena kalau konsumsi masyarakat juga ikut turun maka resesinya akan semakin dalam, pertumbuhan ekonominya akan minus semakin dalam.
      “Alhamdulillah kondisi masyarakat tetap bisa dipertahankan sehingga di kuartal ketiga ini pertumbuhan ekonomi kita minus tetapi sudah lebih baik dari kuartal kedua. Bu Menteri Keuangan kita mengatakan The worst is over, artinya yang terburuk sudah berhasil kita lewati. Ini merupakan harapan yang baik, sekarang kita sudah mulai menanjak naik kembali,” ujar Setiawan optimis.
      Resesi ekonomi ini lebih sering disebabkan karena adanya kontraksi ekonomi global yang sekarang terjadi. Ini menyebabkan aktivitas masyarakat terbatas, apalagi di seluruh dunia memang mengalami penurunan ekonomi. Ini tentunya menyebabkan konsumsi masyarakat maupun pemerintah di seluruh dunia juga mengalami kontraksi yang menyebabkan kegiatan ekspor impor juga terbatas.
      Di Indonesia sendiri ekspor berhasil naik tetapi impor kita masih terbatas. Ini menyebabkan guncangan pada kontraksi supply chain atau supply and demand, sehingga banyak produk masyarakat yang tidak menemukan pembelinya, tidak menemukan buyer. Contohnya di bidang garmen yang mengalami kondisi cukup sulit. 
     Garmen yang biasanya bisa ekspor ke Timur Tengah, Amerika dan lain-lain, sekarang ekspornya terhenti karena permintaannya jauh berkurang. Ini menyebabkan perusahaan tersebut akan mengalami kontraksi atau bahkan mengurangi karyawan dan lain-lain.
 
DAYA BELI MASYARAKAT MENURUN, BERPOTENSI MEMICU KRIMINALITAS
      Multiplayer effect resesi ekonomi ini berdampak sampai ke tingkat desa, karena ketika permintaan atau penghasilan masyarakat menurun atau menghilang maka otomatis mereka tidak punya daya beli. Ketika daya beli turun, otomatis permintaan barang-barang atau produk lain berkurang, sehingga berimbas ke para suppliernya termasuk supplier dari desa.
      “Kalau dulu buah-buahan gampang dijual, sekarang susah karena yang mau beli itu masih mikir-mikir antara menabung atau membeli barang. Oleh karena itu, kita berharap pemerintah tetap menggelontorkan bantuan sosial, karena ini satu-satunya cara untuk cepat meningkatkan daya beli masyarakat,” ujar Setiawan.
      Pemerintah saat ini, ujar Setiawan, menghimbau kepada masyarakat untuk belanja, terutama orang-orang kaya dihimbau untuk belanja supaya ada pembeli dan terjadi perputaran ekonomi. Dengan belanja ini diharapkan tingkat konsumsi masyarakat tetap tinggi sehingga pertumbuhan ekonomi jauh lebih baik dari kuartal 3 kemarin.
      Setiawan mengingatkan, kriminalitas berhubungan dengan kesejahteraan masyarakat. Ketika sekarang daya beli menurun, perekonomian menurun karena sedang terjadi resesi, maka banyak pengangguran dan ini mau tidak mau ini akan berhubungan langsung dengan tingkat kriminalitas. Kalau tidak dilakukan pencegahan atau semacam antisipasi oleh pemerintah, maka akan timbul gejolak dan rawan tindak kriminalitas.
      Oleh karena itulah, ujar Setiawan, pemerintah pusat menggelontorkan ratusan triliun dalam bentuk pinjaman lunak, dalam bentuk bantuan permodalan dan bantuan sosial untuk masyarakat dengan tujuan mempertahankan daya beli masyarakat, sehingga masyarakat yang mungkin kehilangan pekerjaan bisa mendapatkan bantuan Rp.600.000 sebulan.
      “Setidaknya dengan bantuan itu masyarakat bisa bertahan. Kalau mereka tidak ada penghasilan sama sekali akan terbuka kesempatan untuk berpikir macam-macam, ketika mendapatkan pinjaman susah akhirnya nekat melakukan tindakan kriminal,” ujarnya.
      Ketika pemerintah pusat sudah menggelontorkan bantuan berbagai macam, maka pemerintahan daerah di Lumajang diharapkan bisa melakukan program yang sama untuk menambal angka yang belum diberikan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi.
      “Mungkin misalkan bantuan lunaknya, pinjaman tanpa bunga diperbesar atau mungkin diberikan bantuan lain yang diperlukan oleh masyarakat. Kalau itu tidak dilakukan, maka masyarakat akan bertahan dengan daya upayanya sendiri. Tidak semuanya akan mampu bertahan, pasti ada sebagian yang berpikiran macam-macam dan ujungnya melakukan tindakan kriminal,” tukas Setiawan. (TEGUH EKAJA)

 

Posting Komentar

0 Komentar