AGUS SETIAWAN SIAP PIMPIN TRANSFORMASI PEMUDA PANCASILA

     Agus Setiawan yang biasanya menjadi nara sumber dalam program talkshow Ngopi Pagi di Radio Semeru FM sebagai seorang pakar ekonomi dan pengusaha, kini hadir dengan tampilan beda, Sabtu (08/08) hadir mengenakan uniform orange dengan kombinasi doreng hitam. Ini ada kaitannya dengan tema yang dibawakan dalam talkhsow tersebut yakni Peran dan Program Kerja Pemuda Pancasila Kabupaten Lumajang.

      Dalam talkshow kali ini Setiawan berbicara sebagai Majelis Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila (MPC PP) Lumajang. Maklum pada tanggal 2 Agustus lalu, Setiawan secara aklamasi terpilih dan ditetapkan sebagai Ketua MPC Pemuda Pancasila hingga tahun 2023 mendatang.

Apa saja prioritas program kerja PP Lumajang di bawah kepemimpinan Agus Setiawan ini? Bagaimana ia mengawal transformasi PP menjadi lebih baik? Bagaiman peran PP dalam berkontribusi bagi pembangunan Lumajang ke depan? Apakah kesediaan Setiawan memimpin PP Lumajang ini sebagai batu loncatan untuk terjun ke politik praktis, sebagai persiapan mencalonkan diri pada ajang pemilihan bupati dan wakil bupati? berikut kita simak penuturannya.


TERPILIH SECARA AKLAMASI

Didapuk sebagai ketua MPC PP, Agus Setiawan justru mengaku mulai terganggu tidurnya. Sekarang lebih banyak berpikir satu tanggung jawab tambahan, yakni menahkodai organisasi besar yang menaungi orang-orang potensial. “Saya ini tipe pemikir, sehingga sejak beberapa minggu sebelum saya terpilih hingga sekarang, saya sudah mulai berpikir mau dibawa kemana organisasi ini,” ungkapnya.

“Sekarang saya diberi waktu tidak lama untuk menyusun kepengurusan menggantikan kepengurusan yang lama, tentunya harus memilih mengasesmen potensi-potensi baik di kalangan pemuda-pemudi atau tokoh-tokoh yang ada di Lumajang untuk saya ajak bergabung membangun satu tim yang solid dan kompak yang berdedikasi dan loyal dalam menggerakkan organisasi Pemuda Pancasila kedepannya,” sambungnya.

Setiawan mengaku saat ini hanya meneruskan produk ketua yang terdahulu yang telah mengundurkan diri karena suatu kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan, sehingga dinyatakan berhalangan tetap. Dengan pengunduran diri ketuanya maka MPC PP Lumajang harus memilih ketua yang baru.

Sebelumnya ada rencana melangsungkan muscab luar biasa, tapi karena situasi pandemi covid-19 maka harus menyesuaikan. “Sesuai dengan instruksi dari pimpinan di wilayah, maka cukup dengan rapat pleno diperluas,” ujar Setiawan.

Mengenai terpilihnya ia dengan aklamasi, Setiawan mengatakan bahwa saat itu ia menyampaikan visi misi yang mungkin sama dan cocok dengan visi misi dari kebanyakan pengurus dan kader organisasi lainnya sehingga tidak sempat ada calon lain yang maju. “Akhirnya teman-teman PAC kompak satu suara mendukung saya,” ujarnya.


TRANSFORMASI MENJADI ORGANISASI MASSA TERBUKA


Setiawan menolak tudingan yang menyebutkan dirinya ambisi untuk menjadi ketua. Jangankan berambisi, bersedia dicalonkan sebagai ketua PP saja ia butuh proses panjang. Setiawan tidak serta merta mengiyakan desakan teman-temannya itu karena ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan.

Semula meski didesak dan sering didatangi teman-temannya, Setiawan menolaknya karena ia ingin berdiri di tengah-tengah dan tidak mau diseret ke kanan maupun ke kiri.

“Beberapa kawan tokoh-tokoh di PP selalu ke rumah, pagi, sore hingga melakukan pendekatan melalui istri saya, keluarga saya,” ujar Setiawan mencereitakan intensnya para tokoh PP untuk melakukan pendekatan pada dirinya agar mau dicalonkan sebagai ketua PP.

Atas desakan ini Setiawan kemudian mempelajari AD ART PP yang baru, yaitu AD ART hasil keputusan Musyawarah Besar 10. Setiawan melihat ada transformasi organisasi yang akan membawa organisasi PP ini menjadi organisasi massa yang terbuka, yang memberdayakan dan mensejahterakan anggota.

Dalam AD ART PP tersebut juga diamanatkan untuk membentuk badan-badan yang terkait dengan upaya pemberdayaan dan kesejahteraan anggota. Pengurus juga diberi tanggung jawab untuk melakukan kaderisasi secara berjenjang dan ditargetkan harus terlaksana.

“Mohon maaf, sebelumnya Pemuda Pancasila yang lama dikenal sebagai organisasi setengah preman, yang dikenal suka tawuran kalau kita lihat di berita TV. Namun di AD RT yang baru diarahkan untuk bertransformasi menjadi ormas yang lebih terbuka. Misinya adalah melakukan pemberdayaan dan kesejahteraan terutama kesejahteraan anggota, nah berarti ini ada pergeseran,” ungkapnya.

“Insya Allah saya yakin dengan teman-teman yang nanti masuk ke dalam tim kepengurusan, kita bisa menggeser stereotip yang ada di masyarakat yang selama ini mengenal Pemuda Pancasila sebagai organisasi massa yang sering terlibat bentrokan, sering benturan, mungkin ke depan akan mengenal Pemuda Pancasila yang mampu melakukan pemberdayaan, menggandeng masyarakat untuk bersama-sama memikirkan kesejahteraan kita bersama,” ungkapnya optimis.

Setidaknya organisasi PP saat ini diamanatkan untuk menyentuh sektor-sektor yang selama ini belum disentuh oleh pemerintah daerah. “Kehadiran kami ini melengkapi, misalkan di bidang pendidikan jika pemerintah daerah memberikan pendidikan gratis, kami bisa masuk di upaya-upaya seperti parenting untuk menyentuh orang tua wali muridnya,” ujar Setiawan.

Selain itu organisasi PP yang baru akan menangani apa yang belum disentuh oleh organisasi massa yang lain seperti NU dan Muhammadiyah, misalnya untuk kalangan yang lebih nasionalis yang tidak begitu mengenal pendidikan agama.


BATU LONCATAN NYALON BUPATI ATAU WAKIL BUPATI?


Ada rumor menyebutkan jika Setiawan bersedia menjadi ketua PP adalah sebagai ajang awal untuk terjun ke politik praktis dan bahkan ada yang menyatakan bahwa ini sebagai batu loncatan memuluskan niatnya untukmenjadi orang nomor 1 (bupati) atau orang nomor 2 (wakil bupati) di Lumajang.

Menanggapi hal ini, Setiawan mengaku membiaran saja rumor seperti itu karena ia tidak bisa membatasi pikiran orang lain, apalagi memang apa pun manuver saat ini selalu dipolitisasi. “Sampai dengan sekarang kami belum kepikiran ke arah sana, tapi yang kita pikirkan adalah bagaimana caranya bisa menyumbangkan pemikiran dan pengetahuan saya,” tukasnya.

Dalam hal berorganisasi, Setiawan menyatakan selalu berdiskusi dengan istrinya yang menurutnya lebih perpengalaman di organissi. Istrinya, Ratih Damayanti Soeparno, yang pernah aktif di organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan saat ini aktif di organisasi Srikandi PP, menegaskan bahwa jika selalu bergerak sendiri tidak akan terasa gaungnya, karena sendirian itu ada batasnya. Karena itu Setiawan mengaku harus bisa menggerakkan banyak orang agar manfaatnya lebih besar.

“Motivasi saya bergabung dengan Pemuda Pancasila adalah karena visinya sama, yakni pemberdayaan anggota dan kesejahteraan, sehingga saya pikir-pikir kita sudah menemukan satu organisasi yang visinya sama dan saya tertarik untuk melakukan itu semua. Ya sudah saya bergabung di dalamnya dan langsung terpilih,” kisahnya.

Karena itulah Setiawan tidak terlalu menanggapi anggapan orang yang mempolitisasi itu semua. Ia mengaku akan berkonsentrasi pada organissinya untuk membentuk satu kepengurusan yang solid, melakukan berbagai upaya pemberdayaan.

“Terutama teman-teman di PAC yang saat ini butuh sentuhan, minimal mereka menyelesaikan kesekretariatan. Kemudian mereka bisa mengumpulkan orang untuk membentuk kepengurusan hingga tingkat ranting,” ujarnya.

Setiawan mengaku akan sedikit memberikan bantuan untuk subsidi jika itu dibutuhkan. “Resiko sebagai pimpinan, kami harus bisa mencari sumber-sumber pembiayaan, contohnya dari sumber-sumber yang sah tidak illegal. Karena kita kegiatannya sosial untuk mengabdi kepada masyarakat, bukan untuk memperoleh penghasilan. Kalaupun nanti kita bisa melakukan pemberdayaan bisa membentuk satu unit usaha dan lain-lain yang bisa kita bagikan ke anggota itu merupakan berkah yang yang diberikan oleh Allah SWT,” ujarnya.

Selain itu, Setiawan akan membentuk badan profesi dan non profesi, juga akan membangun sebuah yayasan dan akan menghidupkan kembali koperasi. “Nah ini akan kita gunakan untuk melakukan itu semua,” ujarnya.

Diharapakan untuk pengurus PP mulai PAC hingga ranting selama dua tahun ke depan sudah bisa mandiri dengan berbagai usaha yang dilakukan sehingga organisasi Pemuda Pancasila Lumajang semakin solid dan berkembang menjadi organisasi yang besar yang terbuka untuk semua kalangan. “Kami di MPC nantinya tinggal melakukan supervisi terhadap apa yang dilakukan PAC,” ujar Setiawan.

Dalam waktu dekat Setiawan juga segera membentuk badan-badan dalam organisasi PP yang telah diamanatkan bahkan wajib harus dibentuk. Badan-badan tersebut terkait dengan sumber daya alam, buruh dan pekerja, petani dan nelayan, juga badan yang terkait dengan perlindungan hukum. Badan-badan inilah yang nantinya diharapkan secara taktis bisa membentuk atau membangun sebuah program yang aplikatif, yang bisa langsung bersentuhan dengan masyarakat.

Disinggung dengan masa bhaktinya yang tersisa 3 tahun karena meneruskan pimpinan lama yang berhalangan tetap, apakah cukup waktu untuk mewujudkan itu semua, Setiawan mengatakan dengan waktu yang sebentar itu akan berusaha semaksimal mungkin. Ia berharap target bisa terpenuhi.

Dibawah kepemimpinaannya, PP Lumajang segera menyusun target tahunan, dan diharapkan di tahun kedua nanti semuanya sudah operasional, semuanya sudah bisa berkhidmat ke masyarakat dan nanti bisa dilanjutkan oleh ketua yang baru siapapun itu. “Nutut atau tidaknya tergantung kepada kerja keras kita, kalau banyak berdiam diri banyak menunggu ya tidak akan nutut,” ujarnya.


BERSINERGI DAN BERKOLABORASI DENGAN LEMBAGA DAN ORGANISASI LAIN


Kepengurusan PP yang baru terbentuk nantinya oleh Setiawan akan diajak bersafari ngangsu kaweruh ke organisasi-organisasi yang lebih berpengalaman di Lumajang, seperti NU dan Muhammadiyah.

“Selain itu kami juga akan mohon restu dan mohon doa ke pimpinan kita di Lumajang, ke Bupati dan Wakil Bupati, ke Kapolres, Dandim, dan instansi yang lain. Harapannya dengan komunikasi tersebut kita bisa berkolaborasi sehingga mendapatkan input, bisa fokus apa saja yang bisa kami lakukan,” ujarnya

Dengan bersilaturahmi ke beberapa lembaga dan pimpinan di Lumajang diharapkan tidak terjadi gesekan dan PP bisa mengetahui aspek apa saja yang masih belum tersentuh oleh lembaga atau organisasi lain tersebut sehingga bisa ditangani PP.

“Kalau kita bergerak di bidang perlindungan hukum tentunya tidak boleh saling bergesekan dengan aparat penegak hukum, tentunya kita menjadi supporting nantinya. Kita punya jejaring sampai ke tingkat desa, kita punya komando inti (Koti), anggota Koti ini banyaknya purnawirawan dari TNI maupun Polri yang akan kami upayakan untuk bisa berkolaborasi bagaimana caranya menjaga keamanan. Melakukan pengamanan tentunya sebatas apa yang bisa kita lakukan, namun bukan sebagai penegak hukum,” ujarnya.

Sebagai supporting lembaga keamanan seperti Polri dan TNI, pihaknya akan memanfaatkan tim Koti untuk membantu memberikan informasi-informasi yang baik untuk mencegah lingkungan sekitar dari gangguan keamanan, sehingga bisa bersama menciptakan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat. (TEGUH EKAJA).

 

Posting Komentar

0 Komentar