Ustadz Mohammad Chudzil Chikmat ANAK YATIM PEDULI ANAK YATIM, PENDIRI RUMAH PERUBAHAN INDONESIA

     Ustadz Chikmat bersama keluarga
        Boleh jadi, banyak di antara kita yang berpandangan bahwa saat warga miskin atau anak yatim mendapat uluran bantuan dari  orang kaya, lantaran kelompok masyarakat rentan ekonomi itu memang layak mendapat bantuan.  Jika kita diberi rezeki lebih dari segi ekonomi dan memberi bantuan kepada orang lain yang kurang mampu,  kadang kita merasa bahwa orang lain yang kurang mampu tersebut memang membutuhkan uluran bantuan  kita. Ketika di antara kita menjadi seorang donatur anak yatim,  kadang kita beranggapan bahwa anak yatim itu butuh kita.
     Ini adalah pandangan normal yang hanya berdasar fakta dan logika secara umum. Fakta dan logika itu memiliki nilai kebenaran jika sebatas lingkaran dunia, namun jika kita berpikir lebih luas hingga akherat,  maka akan muncul logika terbalik dari pandangan kebanyakan orang.

ANAK YATIM PENYELAMAT KITA
Ustadz Mohammad Chudzil Chikmat 
       Logika terbalik dari pandangan umum yang ada di masyarakat itu disampaikan Ustadz Mohammad Chudzil Chikmat, seorang penggagas Rumah Perubahan Indonesi (RPI) Kabupaten Lumajang. Menurut Chikmat, bukan anak yatim yang butuh kepada donoatur, tetapi kita (donatur) yang diberi rejeki berlebih yang butuh mereka.  "Mereka adalah jalan penyelamat kita," ujar pria kelahiran Lumajang, 4 November 1983 ini.
     Ustadz Chikmat memberikan  sebuah gambaran kebahagian di rumah perubahan. Ketika melihat ada anak yatim binaannya menjadi tanfidz atau hafal Al-Quran, dan menjadi Imam masjid besar, itu adalah kebaikan jariyah yang tak ada habisnya. Setiap ayat dibaca, setiap kebaikan yang mereka lakukan, setiap ilmu yang diterapkan, maka pahalanya juga mengalir kepada yang turut terlibat membesarkannya, mulai donatur hingga orang-orang yang ada di lembaga tempat mereka berproses.
     “Jadi jelaslah bahwa kita yang butuh anak yatim itu, bukan anak yatim yang butuh kita, seperti tagline kita SAYANG YATIM DICINTAI NABI,” terang ustadz Chikmat.
     Cara pandang berbeda dan tagline tersebut di atas sebenarnya adalah closing statement dari Ustadz Moh Chudzil Chikmat saat usai sharing pengalaman di program acara Bincang Bincang Santuy (BBS) Radio Semeru FM pada Rabu malam (22/04/20). Ustadz Chikmat adalah penggagas dan salah satu pendiri Rumah Perubahan Indonesia Kab. Lumajang. Hadir pula dalam acara itu ustadz Akhmad Gunawan Hadisaputra (Kepala Sekolah Baitul Furqon, lembaga Pendidikan dibawah naungan RPI), ustadzah Nur Farida Oviantari (Wali Binaan RPI).

     Ustadz Chikmat waktu belum punya anak

ANAK YATIM PEDULI ANAK YATIM


      Ustadz Moh Chudzil Chikmat  yang diamanahi menjadi ketua yayasan ini memiliki latar belakang yang juga seorang anak yatim. Chikmat sang anak yatim ini ditinggal ayahnya saat usia 16 bulan. Ia tumbuh bersama 3 saudaranya dan diasuh oleh ibunya seorang diri. Ibunya yang bernama Sulastri adalah penjual nasi di Kantor Samsat Lumajang. Ia mengaku sangat berterimakasih pada ibunya. Perjuangan sang ibu menjadi sebuah kenangan yang mendalam yang tak mungkin dilupakannya. Ibunya yang sekaligus berperan sebagai ayah penuh kasih sayang mengarahkan dan membesarkan anak-anaknya.  Ibunya yang kini masih sehat, tentu bangga melihat kiprah Chikmat.
     Saat kecil ia mendapat beasiswa dari kelompok pengajian ibu-ibu muslimat di daerahnya,  yaitu di Kelurahan Ditotrunan. Setiap bulan ia datang ke salah satu pengurus pengajian muslimat itu untuk mengambil biaya sekolahnya sebesar 5 ribuan dan uang saku.
     Ia betul-betul ingat setiap momentum yang mengetuk hatinya. Misalnya pada setiap bulan Muharam dan Ramadhan. Tiap bulan-bulan tersebut ia bersama anak yatim se kelurahan dikumpulkan untuk mengikuti acara santunan. Chikmat kecil ini sangat gembira ketika para ibu anggota pengajian membelai kepalanya sambil memberi hadiah.
     Chikmat yang waktu itu masih duduk di Sekolah Dasar merasakan kasih sayang dan perhatian dari orang lain. “Ya Allah, terimakasih telah mengirimkan orang-orang yang penuh kasih sayang ini,” do’anya kala itu. 
     Peristiwa itu senantiasa terngiang di benak Chikmat. Setiap dielus ada rasa haru yang menyeruak di antara lubuk hatinya. Dalam hati terlontar do’a kebaikan dan bahkan ada satu tekad yang ditancapkan dalam sanubarinya, “Ya Allah… kalau saya sukses nanti, ingin rasanya bisa bantu anak yatim seperti kami ini,” ujarnya mengenang do’a yang ia panjatkan setiap saat.
     Setelah lulus SD,  ia diterima di SMPN 1 LUMAJANG dengan beasiswa dari pemerintah, kemudian melanjutkan ke SMAN 2 Lumajang. Memang tidak mulus begitu saja, namun Chikmat seperti mendapat petunjuk jalan untuk melanjutkan studinya. Setelah lulus SMA, Ia lanjut kuliah ke Pesantren Mahad Umar Bin Khottob Surabaya dan kuliah di UNMUH Sidoarjo. Sambil kuliah ia bekerja di lembaga training Pengembangan SDM.
     Suatu saat team lembaga training ada kesempatan mengisi motivasi Fire Walk Experience di lembaga Mandiri Entrepreneur Center (MEC), di bawah naungan Yatim Mandiri, suatu lembaga pelatihan menejemen untuk memandirikan anak yatim dhuafa.
     Saat itulah Chikmat merasa mendapat sebuah anugerah, sebuah pemikiran yang akan menuntunnya kepada anak yatim di kemudian hari. “Ah... ini ide bagus kalau ada di lumajang, bagaimana memandirikan anak yatim dhuafa di Lumajang,” ujarnya.

EMPAT SEKAWAN BIDAN LAHIRNYA RPI


      Ide memandirikan anak yatim di Lumajang tersebut kemudian menjadi sebuah cita-cita besar bagi diri Chikmat, seolah menjadi petunjuk atas do’anya kala itu yang ingin menjadi orang yang peduli dan membantu anak yatim.  Chikmat yang kemudian memimpin RPI yang memiliki binaan ratusan anak yatim tersebut mengaku dapat sambutan dari rekan-rekan nongkrongnya sesama anam yatim. Setiap saat Chikmat bersama anak-anak muda yang lain sering berkumpul dan ngobrol tentang apapun yang lagi ngetren.
    Mereka anak-anak muda tersebut adalah empat sekawan yang suka ngaji bareng, ngobrol tentang hal-hal yang lagi ngetren seperti Law Of Atrtaction, Hukum Kekekalan Energi, Miracle of Giving, Quantum Ikhlas dll. Obrolan dengan tema-tema positif ini dilakoni empat sekawan tersebut. 
     Mereka yang terlibat obrolan adalah yang kemudian tercatat sebagai perintis pendiri RPI Kab. Lumajang. “Ada saya Moh Chudzil Chikmat , ada istri saya Yuni Indah Lestari, Andra Jaya, Enjang Bayu Irawan. Dari empat sekawan ini sekarang tinggal tiga yang aktif di RPI, satunya Mas Enjang memilih aktif di dunia pendidikan yaitu bimbel,” ujar Chikmat yang mengaku obrolan itu terjadi pada akhir tahun 2008.  “Masa kita hanya begini?, tidak take action? ”ujar ustadz Chikmat.
     Pertanyaan sederhana itu mennyentak sanubari empat sekawan ini. Mereka malu dengan sendirinya atas obrolan yang mereka lakukan. Karena itulah empat sekawan ini kemudian memutuskan untuk sadaqah kepada anak yatim untuk memancing rezeki.   
     Akhirnya mereka urunan dan masing masing menyumbang  50  ribu rupiah. Dari 4 orang tersebut terkumpul 200 ribu, uang itu kemudian disalurkan ke anak yatim. Mereka kemudian mencari anak yatim yang berhak menerima santunan uang urunan tersebut.
     “Anak yatim doanya kan makbul. Maka kami bilang ke anak yatim tersebut, nak doakan bulan depan kita masih bisa ngasih beasiswa ya,” ujar Ustadz Chikmat. Setelah memberikan santunan yang dirupakan beasiswa tersebut ternyata bulan depannya yang mau daftar menerima donasi bertambah ada sekitar 10 anak yatim.
     Dengan bertambahnya jumlah anak yatim yang tercatat,  maka  akhirnya masing-masing personil dari empat sekawan tersebut SMS ke koleganya agar bisa turut berpartisipasi menjadi donatur. Dari upaya ini akhirnya  terkumpul 10 orang donatur. “Saya ingat waktu itu sekitar bulan November 2009. Ini kami tandai sebagai berdirinya Yayasan Rumah Perubahan Indoneisa (RPI) dengan jumlah 40 anak yatim dan 25 orang donatur,” kenang ustadz Chikmat.
     Di tengah mewabahnya corona, RPI yang awalnya fokus menangani anak yatim, terpaksa open donasi untuk masyarakat sekitar. RPI terpanggil untuk membantu kaum duafa dan yang terdampak corona.
     Data terakhir jumlah anak yatim di RPI ada 365 anak,  dengan rincian Kec. Lumajang  176 anak, Senduro 24, Wono Cempoko Ayu 14, Pakel 4, Candipuro 19, kunir 33, Klakah 31,Yosowilangun 11, Keraton 31, Pandanwangi 7, Kalipepe 15, Krai 16 dan Tekung 20.


JADI YAYASAN

     Karena RPI ini menghimpun dana dari masyarakt  infaq, zakat, wakaf dan disalurkan untuk beasiswa anak yatim, maka Yayasan ini perlu dilegalkan. Saat akan mendaftarkan Yayasan ini sebelumnya mereka bingung menentukan nama. ”Munculkan nama rumah yatim lha kok ya melas, anak yatim dikumpulkan di rumah yatim lagi, mau kasih nama panti kita bukan panti.  Akhirnhya saya dan istri waktu itu nonton TV yang menyajikan rumah perubahan, maka sepakatlah kemudian membuat nama  lembaga sosial Rumah Perubahan,” ujar ayah empat anak ini  mengenang awal mula memakai nama Rumah Perubahan.
     Karena kegiatan Rumah Perubahan ini  mulai besar, maka perlu dibuat sebuah yayasan. Saat didaftarkan ke Kemenkumham ternyata nama ini tidak bisa disetujui karena sudah ada yang memakai nama itu. Akhirnya agar lolos ditambahilah dengan kata Indonesia sehingga menjadu Rumah Perubahan Indonesia Kab. Lumajang. “Semula nama Indonesia hanya untuk meloloskan izin aja, namun akhirnya menjadi mimpi besar agar RPI bisa menasional,” ungkap Chikmat.
     Yang terlibat dI RPI adalah aktivis masjid yang terus bergerak dan  uniknya di yayasan ini jumlah anak yatimnya bertambah, makin tambah anak yatim akhirnhya donaturnya pun bertambah.
     “Alhamdulillah atas dukungan seluruh komponen mulai dari ustadz dan ustadzah, relawan, da’i dan masyarakat yang lain, kami akhirnya mempunyai 365 anak yatim penerima beasiswa dengan jumlah donatur rutin ada 550 orang” ceritanya.





 BIDANG PENDIDIKAN

     Di tengah perjalanan akhirnya RPI juga bergerak di bidang pendidikan.Tak lama setelah itu ada seorang yang melamar untuk menjadi pengajar di lembaga ini . Sebutlah seorang ustadz yang tertarik bergabung yakni ustadz Akhmad Gunawan Hadi Saputra. Ustadz satu ini punya background guru. ”Saat itu saya sudah mengajar di Sekolah Dasar Kreatif Muhammadiyah dan mendapat info bahwa di RPI dibutuhkan guru,  akhirnya saya menaruh lamaran dan Alhamdulillah diterima,” ujar ustadz Akhmad Gunawan Hadi Saputra yang kemudian langsung menduduki jabatan Kepala Sekolah Baitul Furqon (Lembaga Pendidikan naungan RPI).
ustadz Akhmad Gunawan Hadi Saputra
     Di RPI ini ada beberapa program pendidikan, salah satunya pendidikan  pesantren berbasis tanfidz Qur’an, Program Tarjamah, Bahasa Arab dan Inggris dan Entrepeneur. “Lulus dari ponpes ini minimal memiliki 4 skill tersebut,” ujar ustadz Akhmad. “Di pondok juga dibiasakan berkomunikasi dengan disiplin bahasa Arab dan bahasa Inggris,” sambunghnya.  Disebutkan pula bahwa saat ini lembaga pendidikan di pesantren RPI untuk tingkat SMP sudah lulusan ke 3.
     Lain lagi dengan cerita Nur Farida Oviantari. Ustadzah ini mengaku terpanggil  karena ingin ngurusi anak yatim dan ingin lebih dekat dengan anak yatim. Ia awalnya adalah penjual susu kedelai keliling. “Delapan tahun lalu waktu belanja di toko melihat ada ada nama Rumah Perubahan yang menaruh kotak amal, saya pun tergerak  untuk infaq susu kedelai,” ujar Nur Farida menceritakan awal kenal dengan RPI.
     Nur Farida rutin infaq susu kedelai untuk anak yatim yang ada di RPI. Pada suatu ketika  suaminya meninggal, dia tidak pernah membayangkan keempat orang anaknya akhirnya juga menjadi yatim. Ia tidak pernah membayangkan harus menanggung 4 orang anak sendirian. Ia mengaku punya 3 putra 1 putri yang paling besar SMA kelas 3, yang kedua SMP kelas 3 dan yang paling kecil SD kelas 5.
     Saat suaminya meninggal itulah pengurus RPI takziah kerumahnya dan menanyakan anak-anaknya. “Alhamdulillah, ustadz Chikmat menyarankan anaknya ikut mondok di tempatnya, akhirnya anak saya  diterima di pondok pesantren di RPI tersebut,” kenangnya.
     Karena merasa berhutang budi sudah dibantu, maka tanpa sepengetahuan ustadz Chikmat,  ustadzah ini mencoba membantu keliling mencari donatur. “Saya mengumpulkan uang dari donatur dari nilai 5 hingga 10ribu,” ujarnya. Uang dari donatur itu kemudian diserahkan ke pengurus RPI. Pada suatu ketika sebagai wali murid, ustadzah ini kemudian terpilih menjadi komite sehingga pertemuan dengan pengurus RPI semakin intens.
Ustdazah Nur Farida Oviantari
     Melihat aktivitasnya yang gigih dalam mencari donatur dan banyak pula donatur yang bergabung karena usahanya maka ada salah satu pengurus yang mengajaknya bergabung ke RPI. “Waktu itu salah satu pengurus yakni Pak Andra mengajak saya masuk menjadi bina wali,”ujarnya. Ustadzah Nur Farida akhirnya bergabung dan masuk bidang wira usaha.     “Saya membikin usaha keripik Baper, artinya Barokah Perubahan,”ujarnya mempromosikan usahanya. Nur Farida melatih Ibu-ibu wali murid untuk membuat usaha sendiri agar bisa menghidupi keluarganya.
     Namun wabah corona ini membuat para ibu ini kelimpungan. Situasi ini kemudian dilaporkan ke pihak RPI. “Alhamdulillah akhirnya RPI membuka donasi dan memberi santunan sembako untuk ibu-ibu wali,” ujarnya. Ustadzah Nur Farida mengaku banyak mendapatkan pengalaman dan rasa suka bergabung dengan RPI. “Alhamdulillah masih belum pernah merasakan duka, banyak sukanya ditempat ini,” pungkasnya
  

YAYASAN RPI

     Di usianya yang ke 11 tahun,  Yayasan RPI Rumah Perubahan Indonesia telah membina : 365 anak yatim dhufa yg tersebar di 12 wilayah Kab Lumajang, 41 santri/wati yatim dhuafa penghafal Al Quran.
     Selain itu, Yayasan RPI Rumah Perubahan Indonesia , berkembang dan memiliki unit : 1). Lembaga Amil Zakat SAKU YATIM (unit sosial dakwah yang fokus mengelolah dana ZISWAF masyarakat untuk pemberdayaan yatim dhuafa). 2). Bimbel Spectrum (bimbingan belajar buat masyarakat umum dan beasiswa). 3). SMP - PPTQ Baitul Furqon Putra (Pesantren Tahfizhul Quran untuk umum dan beasiswa santri yatim dhuafa). 4) SMP - PPTQ Baitul Furqon Putri (Pesantren Tahfizhul Quran untuk putri umum dan beasiswa santriwati yatim dhuafa). 5) Unit Usaha Bawah Perubahan (BAPER), tempat belajar dan mencari rezeki-NYA bersama ibu wali yatim dhuafa binaan. 6)  Lembaga Pelatihan Sekolah Motivasi (lembaga yg fokus memberikan pelatihan, tes dan layanan psikologi dan outbound).
     Dalam kegiatannya lembaga sosial Rumah Perubahan ini meminjam tempat sekolah SD CITRO 1 dengan kegiatan berupa kajian setiap satu bulan 2 kali. Tahun 2011 yayasan mendapat amanah waqaf lahan sekitar 600 meter persegi di daerah Toga dan dibangunlah pusat kegiatan yatim dhuafa berupa bimbel, kajian dan lain-lain.
     Tahun 2014 lembaga mengajukan perizinan Menkumham dengan nama Yayasan Rumah Perubahan Indenesia. Tahun 2014 mendapat tambahan lahan waqaf 1200 meter persegi dari pewaqaf yangg sama.
Atas nasehat donatur, akhirnya RPI pada tahun 2015 mendirikan PESANTREN TAHFIZHUL QURAN BAITUL FURQON di gedung waqaf Yayasan RPI. “Wa qodarullah RPI alhamdulillah semakin dipercaya masyarakat, dan di tahun 2017 mendapatkan lahan waqaf 4000 meter persegi di daerah Kecamatan Kunir yang insyaa ALLAH akan dibangun untuk PPTQ BAITUL FURQON putri,” jelas Chikmat.
     “Kebersamaan ini semoga menjadikan kita semua membersamai Rasulullah Muhammad di surga-Nya,  karena siapa yang membina dan mempedulikan yatim dhuafa akan dicintai Nabi,” pungkasnya. Barokallahu Lana Walakum, Aamiin…aamiin…aamiin.(TEGUH EKAJA)
 

Pengurus RPI Saat Talkshow di Semeru FM


Posting Komentar

0 Komentar