MENANAM HARAPAN DI KAKI SEMERU: PERAN SENYAP BHABINKAMTIBMAS MENGAWAL ASA SWASEMBADA PANGAN

 

Lumajang, Suara Semeru — Kabut tipis yang kerap turun memeluk lereng Gunung Semeru di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, tidak pernah menyurutkan langkah para petani untuk mengolah tanah. Di antara hamparan hijau tanaman jagung yang mulai berbulir, tampak sesosok figur berseragam cokelat berjalan beriringan bersama warga. Bukan sedang mengamankan Tempat Kejadian Perkara (TKP) kriminalitas, melainkan memegang batang tanaman jagung, memeriksa kelembapan tanah, dan berdialog akrab dengan pemilik lahan.

Dialah personel Bhabinkamtibmas Polsek Senduro, ujung tombak kepolisian di tingkat desa yang kini mengemban misi lebih luas: menjadi motor penggerak ketahanan pangan. Aksi turun langsung ke ladang warga yang berlangsung pada Senin (2/11/2026) ini bukan sekadar seremonial sambang kamtibmas biasa. Ini adalah potret pergeseran paradigma kepolisian modern—bahwa stabilitas keamanan nasional tidak bisa dilepaskan dari perut rakyat yang kenyang dan ketersediaan pangan yang mandiri.

DARI KAMTIBMAS MENUJU KETAHANAN PANGAN

Langkah nyata ini merupakan refleksi langsung dari komitmen jajaran Polsek Senduro Polres Lumajang dalam mengawal Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya pada pilar ketahanan dan swasembada pangan nasional. Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian rantai pasok pangan, ketahanan nasional harus dimulai dari akar rumput, dari petak-petak ladang di pedesaan.

Kapolsek Senduro Polres Lumajang, AKP Wahono Pudji Santoso, S.H., menegaskan bahwa kehadiran institusinya di tengah aktivitas pertanian warga adalah wujud nyata dukungan Polri terhadap program strategis pemerintah.

"Langkah Bhabinkamtibmas yang turun langsung ke ladang warga adalah bentuk dukungan nyata Polsek Senduro terhadap Program Asta Cita Presiden. Kami memastikan personel Bhabinkamtibmas tidak hanya fokus menjaga kamtibmas, tetapi juga aktif mendampingi serta menggerakkan masyarakat dalam memperkuat sektor pertanian jagung di wilayah Senduro," tegas AKP Wahono.

Bagi wilayah seperti Senduro yang memiliki topografi pegunungan dengan potensi agraris yang melimpah, komoditas seperti jagung memegang peranan krusial sebagai penopang ekonomi lokal sekaligus bahan baku pakan ternak regional. Namun, di balik potensi besar tersebut, para petani kerap dihadapkan pada berbagai tantangan klasik: mulai dari fluktuasi harga pupuk bersubsidi, serangan hama musiman, hingga sistem pengairan yang bergantung pada curah hujan.

MENDENGAR DARI DEKAT, MENYERAP ASPIRASI PETANG

Di sinilah nilai strategis kehadiran Bhabinkamtibmas dirasakan. Dengan membaur langsung tanpa batasan formalitas, petugas kepolisian dapat menjadi jembatan informasi yang efektif antara petani dan instansi terkait. Pendekatan persuasif dan kultural ini memungkinkan petugas untuk memetakan persoalan di lapangan secara presisi.

"Melalui kerja sama dan pendampingan secara langsung seperti ini, petugas kami dapat mendengarkan secara presisi kendala yang dialami petani, baik terkait perawatan tanaman, ketersediaan pupuk, hingga masalah pengairan. Harapan kami, sinergi ini dapat meningkatkan semangat dan produktivitas hasil pertanian warga," jelas AKP Wahono Pudji Santoso lebih lanjut.

Keterlibatan polisi di ladang juga memberikan dampak psikologis yang positif. Kehadiran aparat berseragam di tengah ladang memberikan rasa aman, sekaligus dorongan moral (moral boost) bagi petani bahwa jerih payah mereka di pedesaan mendapat perhatian serius dari negara.

MERAJUT SINERGI MENUJU KEMANDIRIAN BERKELANJUTAN

Jangka panjang dari program pendampingan ini bukan sekadar mengejar angka surplus produksi panen musim ini, melainkan membangun ekosistem ketahanan yang tangguh dan berkelanjutan. Ketika petani merasa didampingi dan didengar, potensi kerentanan sosial akibat kegagalan panen atau kelangkaan sarana produksi dapat dimitigasi sejak dini.

Kapolsek Senduro optimistis bahwa kolaborasi harmonis antara kepolisian dan masyarakat tani akan menjadi fondasi kokoh bagi kemandirian pangan di tingkat lokal yang beresonansi secara nasional.

"Sinergi yang kuat antara Polri dan masyarakat tani adalah kunci utama dalam mewujudkan swasembada pangan nasional. Kami optimistis keberlanjutan pendampingan ini mampu memperkokoh ketahanan pangan mulai dari tingkat desa hingga nasional," pungkas AKP Wahono.

Dari lereng Semeru, sebuah pesan terang benderang dikirimkan: ketahanan pangan bukan hanya urusan kementerian atau dinas pertanian semata. Ia adalah kerja bersama, sebuah gotong royong kebangsaan di mana setiap insan termasuk seorang Bhabinkamtibmas di ladang jagung memiliki peran penting untuk memastikan masa depan bangsa yang mandiri dan berdaulat pangan. (yon)


Posting Komentar

0 Komentar